Home Life Style Goet Poespo Ajarkan Siswa SMKN 1 Sayung, Membuat Busana Ramah Lingkungan

Goet Poespo Ajarkan Siswa SMKN 1 Sayung, Membuat Busana Ramah Lingkungan

3136
0
Goet Poespo Ajarkan Siswa SMKN 1 Sayung, Membuat Busana Ramah Lingkungan

Demak, 28/4 (BeritaJateng.net) – Ada yang berbeda pada proses pembelajaran Jurusan Tata Busana SMKN 1 Sayung, jika biasanya guru kelas mereka yang memberikan materi, kali ini mendatangkan guru tamu dari luar sekolah untuk mengajar.

Acara yang bertajuk Pattern Making (Pembuatan Pola), Program Keahlian Tata Busana SMKN 1 Sayung Demak, tersebut menghadirkan seorang Pattern Maker (pembuat pola) nasional, Wishnu Goentoro Poespo atau yang akrab dipanggil Goet Poespo.

Pria asal Yogyakarta itu, berkesempatan menebarkan virus Zero Waste Pattern Making (Pembuatan Pola Tanpa Limbah) kepada ratusan calon designer muda, siswi SMKN 1 Sayung, Jumat (27/04/2018).

Goet Poespo yang sudah melahirkan ratusan buku fashion serta berbagai penghargaan nasional hingga internasional ini dengan penuh semangat bersemangat memberikan motivasi kepada calon “designer muda” yang saat itu hadir.

“Saya senang berbagi ilmu dan mengajar, apalagi dengan anak-anak,” kata Goet Poespo

Selain memberikan motivasi, dengan dibantu asistennya Alif dan guru desain Indra Gunawan, dari SMK N Bantul, pakar Pembuat Pola itu juga memberikan materi dan praktek pembuatan pola Zero Waste.

Menurut kakek 80 tahun itu, membuat busana Zero Waste sangat mudah, terlebih tanpa harus rumit memikirkan pola baju yang akan dibuat.

Bahan kain yang sudah ada, langsung di potong dan dibuat baju sesuai model atau selera yang dikehendaki dan hasilnya tanpa meninggalkan sisa kain secuilpun.

“Zero Waste bagus untuk diajarkan di sekolah – sekolah. Praktis dan saat ini juga sedang tren,” ujarnya antusias.

Membuat pola Zero Waste juga tidak membutuhkan waktu lama, dalam sekejap bisa dihasilkan kreasi baju bagus yang bernilai seni.

“Hanya dalam tempo tak lebih dari satu jam, kita bisa menghasilkan karya yang sedap dipandang mata. Untuk model sederhana, seperti membuat baju luaran, setengah jam saja bisa selesai,” terangnya.

Bahan yang dipakai untuk membuat Zero Waste juga mudah didapatkan di sekitar kita.

Bahannya dapat menggunakan kain jenis apapun, bisa kain selendang gendong, kain lurik maupun kain batik.

“Untuk satu jenis rancangan baju, hanya butuh kain dua meter dan nantinya tidak ada sisa kain yang terbuang. Jadi benar – benar ramah lingkungan. Kebanyakan yang dipakai kain lurik,” bebernya.

Pakar fashion yang sudah mendunia itu menambahkan,  dunia fashion terus mengkampanyekan Zero Waste (tanpa limbah), karena dalam proses penyediaan bahan baku hingga finishing properti fashion, semuanya tanpa meninggalkan limbah. Sehingga tidak menyebabkan polusi dan mengotori lingkungan sekitar.

“Pola Zero Waste ini, modisnya dapat. Dipakai juga nyaman dan aman untuk lingkungan,” kata ungkap lelaki yang kini mengelola Sanggar Desaku, Yogyakarta, sebuah wahana yang bergerak di bidang fashion.

Kedatangan maestro design Indonesia itu tentunya membuat pihak SMKN Sayung yang menjadi tuan rumah menjadi bangga.

Kehadirannya menjadi magnet bagi siswi Kelas X, XI dan XII Jurusan Tata Busana SMKN 1 Sayung yang mengikuti acara itu.

“Sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami dikunjungi oleh Goet Poespo. Di usianya yang ke 80 tahun, masih terus berkarya untuk kemajuan fashion di tanah ait. Semoga perjuangan dan karya beliau selama puluhan tahun, dapat mengilhami dan menjadi energi positif bagi siswa busana butik untuk makin berkembang dalam karya,” kata Sutoko, Kepala SMK Negeri 1 Sayung.

Sri Sumaryani, Ketua Kompetensi Keahlian Tata Busana SMKN 1 Sayung, menambahkan, pembelajaran dengan mendatangkan guru tamu merupakan solusi untuk menghadirkan ilmu seputar dunia fashion yang sedang berkembang saat ini, sehingga para siswa tidak ketinggalan zaman.

Hadirnya guru tamu yang juga tokoh nasional di bidang busana, tentunya dapat menjadikan motivasi bagi siswa untuk lebih baik.

“Guru tamu dapat menjadi sumber inspirasi bagi anak – anak, baik ilmu maupun kesuksesannya. Siswa lebih terbuka wawasannya,” katanya. (El)