Home Kesehatan Gerakan 25 RS Semarang Latih Warga Pijat Jantung Raih Penghargaan Leprid

Gerakan 25 RS Semarang Latih Warga Pijat Jantung Raih Penghargaan Leprid

260
0
Gerakan 25 RS Semarang Latih Warga Pijat Jantung Raih Penghargaan Leprid.
       Semarang, 8/5 (BeritaJateng.net) Kegiatan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi masyarakat Kota Semarang berupa pelatihan Bantuan Hidup Dasar dilakukan secara serentak di 25 rumah sakit Kota Semarang dan 10 institusi pendidikan Kota Semarang meraih penghargaan.
       Pelatihan ini dilakukan secara berkelanjutan di 16 kecamatan Kota Semarang, yang melibatkan PKK, RT/RW, Karang Taruna di lingkup kelurahan. Puncaknya, kegiatan yang diinisiatori oleh RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang ini terpusat di Kompleks Balai Kota Semarang diikuti oleh 1.700 peserta.
        Kegiatan pelatihan BHD ini dalam rangka memeringati HUT Kota Semarang yang ke-471. Berkat kegiatan ini, Pemkot Semarang di bawah pimpinan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, meraih penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid).
        “Kami Paguyuban Rumah Sakit se-Kota Semarang, ingin memersembahkan apa yang bisa diberikan kepada masyarakat Kota Semarang. Kegiatan itu namanya pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi masyarakat. Misalnya menemukan ada orang pingsan di lingkungannya, mereka harus bisa melakukan penanganan awal,” Direktur RSUD KRMT Wongsonegoro, Susi Herawati kepada awak media.
         Susi mengungkapkan, jika pelatihan Bantuan Hidup Dasar ini sangatlah pentilng. Pasalnya, penanganan orang dalam kondisi pingsan kapan saja dan dimana bisa terjadi.
        “Sebelum menunggu adanya bantuan tenaga kesehatan, maka orang pingsan tersebut perlu dilakukan penanganan dan pertolongan pertama. Maka, kami berinisiatif untuk melatih masyarakat Bantuan Hidup Dasar pernapasan dan denyut jantung. Sebab ini bisa membantu meningkatkan kualitas hidup manusia,” ungkapnya.
        Susi menjelaskan, BHD itu bukan masalah kesadaran masyarakat untuk menolong rendah namun karena ketidaktahuan dan ketidakmengertian cara memberikan pertolongan pertama kepada masyarakat. “Misalnya ada orang mengatakan ada istilah ‘masuk angin duduk’. Nah, sebetulnya bukan begitu. Jadi, ada denyut jantung berhenti. Kondisi jantung berhenti perlu dilakukan Resistasi. Penanganannya dilakukan dengan cara pijat jantung dan bantuan pernapasan,” jelasnya.
        Mengapa butuh pelatihan? Susi menambahkan,  pijat jantung harus dilakukan secara tidak sembarangan. Mulai dari berapa kali tekanan yang dilakukan, lalu mengembuskan udara ke hidung dan seterusnya.
        “Saat mengantar pasien ke rumah sakit. Bisa jadi saat mengantar itu tidak melakukan apa-apa. Padahal pasien itu membutuhkan pijatan jantung. Bahkan ketika pertolongan itu terlambat sedikit saja bisa mengakibatkan pasien meninggal. Pijat jantung memberi rangsangan agar otot-otot bisa bekerja lagi,” pungkasnya.
        Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi, mengatakan BHD ini sudah diterapkan bagi semua insan jajaran pegawai rumah sakit yang telah terakreditasi, tanpa terkecuali. Pasalnya, peran tenaga medis, baik dokter ahli, perawat, bidan hingga staf administrasi, room boy, cleaning service hingga seorang petugas pengamanan atau satpam di rumah sakit harus punya ketrampilan BHD ini.
        “Bahkan sampai petugas parkir pun harus bisa melakukan penanganan Bantuan Hidup Dasar ini. Nah, ini kami kembangkan untuk masyarakat. Sehingga mengerti dan tahu apa yang harus dilakukan mulai di lingkup PKK, RT/RW, Karang Taruna dan lain-lain. Diharapkan semua masyarakat bisa melakukan Bantuan Hidup Dasar,” katanya.
        Istri dari Wali Kota Hendi yang akrab disapa Tia ini mengungkapkan, kegiatan pelatihan serentak dilakukan di 16 Kecamatan yang dibantu pelatihannya oleh 25 rumah sakit se Kota Semarang dan 10 institusi pendidikan di Kota Semarang.  “Kalau secara massal, ini merupakan kegiatan pertama di Kota Semarang. RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang sebagai inisiatornya, semua rumah sakit se Kota Semarang yang mendapatkan penghargaan,” ungkapnya.
         Tia membeberkan, pelatihan BHD ini sangat diperlukan. Sebab, masyarakat terlibat secara langsung untuk tanggap atas apa yang sedang terjadi. Masyarakat dilatih untuk mampu bagaimana memberikan bantuan hidup dasar.
          “Tentu pertolongan dasar ini akan sangat bermanfaat untuk memberikan peluang keselamatan bagi sesama warga Kota Semarang sebelum mereka dilanjutkan untuk mendapatkan pertolongan secara medis di rumah sakit lebih lanjut,” pungkasnya.(El)