Gandeng Ketimbang Ngemis, Noormans Hotel Semarang Berbagi Pada Para Pejuang Hidup

Gandeng Ketimbang Ngemis, Noormans Hotel Semarang Berbagi Pada Para Pejuang Hidup
           Semarang, 8/6 (BeritaJateng.net) –  Mungkin sebagian orang berfikir bahwa hari tua merupakan saat dimana kita menikmati hasil dari masa muda kita. Sukses dan menikmati indahnya hidup, melewati masa-masa tua dengan beristirahat dan bersantai. Semua itu merupakan bayangan dan keinginan dari hampir semua orang. Namun begitu, tidak semua orang bernasib sama. Banyak diantara mereka melewati masa-masa mereka tersebut dengan bekerja keras, menguras keringat, membanting tulang hanya untuk makan sehari-hari.
            Bekerjasama dengan Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang, Noormans Hotel Semarang ingin berbagi sedikit kebahagiaan untuk para sosok pejuang hidup tersebut. Kenapa kami menyebutnya sosok pejuang hidup? karena di umur yang sudah tidak lagi muda, mereka tetap memilih berjuang dari pada harus mengemis meminta belas kasihan dari orang lain. “Rabu, (7/6) kemarin, hotel yang beralamatkan di Jalan Teuku Umar No. 27 Semarang ini mengundang beberapa sosok yang telah dipilih untuk datang berbuka puasa. Mereka dijemput dirumah masing-masing oleh tim dari Noormans Hotel Semarang dan Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang,” ujar Ari Suryono Public Relation Noormans Hotel Semarang.
           Menurut Ari, ada enam sosok pejuang hidup yang Noormans Hotel Semarang ajak ke acara yang bertajuk “Berbagi Kebahagiaan dan Kepedulian untuk Sosok Pejuang Hidup”. Yang pertama ialah Mbah Supinah.
           Mbah Supinah merupakan penjual pisang keliling yang sehari-hari tinggal di Jalan Widuri, Genuk dan berumur sekitar 90 tahun. Mbah Supinah menceritakan sedikit kisah hidupnya yang tiap harinya berjualan dengan mendorong gerobak berisi pisang yang dititipkan oleh tetangganya. Berjualan dari jam 9 pagi hingga selesai, tidak banyak yang didapatkan oleh nya setiap harinya, bahkan bisa dibilang sangat sedikit sekali. Beliau berkata walaupun susah, dan makan sehari-hari sangat kekurangan tapi itu lebih baik daripada harus mengemis.
              Sosok kedua ialah Mbah Mariyah yang setiap harinya berjualan di warung klontong kecil di depan RS Elizabeth. Beliau sudah berjualan puluhan tahun di warung tersebut. Dulu, Mbah Mariyah berjualan dirumah dan Mbah Satimin, suaminya, bekerja di balaikota di bagian kebersihan. Kemudian karena ada kecelakaan kerja, mbah Satimin harus dioperasi dan kakinya harus diamputasi. Untuk sehari-hari yang didapatkan dari jualan diwarung tersebut sangat kurang.
Gandeng Ketimbang Ngemis, Noormans Hotel Semarang Berbagi Pada Para Pejuang Hidup
Gandeng Ketimbang Ngemis, Noormans Hotel Semarang Berbagi Pada Para Pejuang Hidup

Sosok berikutnya yang menjadi tamu spesial ialah Mbah Putri yang setiap harinya berjualan di depan Taman Tirto Agung, Tembalang. Mbah berjualan cemilan, getuk dan gorengan serta pisang. Lapaknya sangat sederhana, bahkan terpal untuk menghalau teriknya panas matahari dari barang seadanya seperti plastic yang digabung-gabungkan. Makanan yang dijual kebanyakan hasil produksi sendiri. Mbah berjualan dengan kondisi selalu bungkuk karena faktor usia.

              Mbah Minto merupakan salah satu sosok yang menginspirasi yang berhasil diundang. Berumur sekitar 80 tahun, beliau berjualan minuman orson dengan mendorong gerobak. Tidak banyak dimasa sekarang orang yang tertarik untuk membeli minuman tersebut. Namun beliau tetap semangat dan berusaha. Setiap pagi sekitar jam 7 pagi mbah Minto mendorong gerobak dengan berjalan tertatih-tatih sekitar 1 KM dari rumahnya di daerah Karanggawang, Sendangguwo.
              Pak Senadi adalah sosok berikutnya. Beliau adalah penjual sapu keliling yang tinggal di kost di daerah Tugu, Ngaliyan. Setiap harinya memikul dagangannya untuk  menawarkan ke orang-orang. Tampat yang dituju untuk berjualan tidak pasti, terkadang berjualan di sekitar Tembalang, kadang sekitar Simpang Lima, tergantung kaki melangkah. Beliau berjualan dari pukul 6 pagi hingga 7 malam. Kondisinya sedikit bungkuk namun semangatnya terpancar dimatanya. Perjuangannya semata-mata untuk keluarganya.
             Sosok terakhir merupakan pasangan suami istri, Bu Rohinah dan Pak Salim. Setiap harinya mereka berjualan jagung untuk memenuhi kehidupannya. Pak Salim berkeliling menjajakan jagung di daerah Krapyak sedangkan Bu Rohinah berjualan menetap di dekat Ayam Goreng Suharti, Ngaliyan. Kesehariannya sangat kurang, bahkan dikost yang menjadi tempat melapas lelah mereka tidak mempunyai fasilitas hiburan seperti tv maupun radio. Mereka berdua menjalani hari-hari tua bersama dengan bekerja keras.
               “Noormans Hotel Semarang mengajak mereka untuk berbuka puasa agar mereka bisa menikmati makanan yang sekiranya mungkin belum pernah dinikmati sebelumnya. Senyum bahagia terpancar dari mereka semua. Selain buka bersama, Noormans Hotel Semarang memberikan santunan kepada para sosok pejuang hidup ini. Acara ini dimulai dari pukul 4 sore hingga pukul 7 malam,” katanya.
              Kedepannya, lanjut Ari, Noormans Hotel Semarang akan mengadakan program berbagi bahagia dengan menginapkan para sosok ini seminggu sekali untuk satu keluarga. Tujuannya sekali lagi agar mereka bahagia selain itu apresiasi terhadap perjuangan mereka dan agar bisa menikmati nyamannya menginap di hotel yang mungkin itu tidak bisa mereka jangkau. “Dengan program ini, diharapkan mereka lebih semangat menjalani hidup karena kebahagiaan yang mereka dapatkan. Karena tujuan Noormans Hotel Semarang sesuai tema yaitu, Berbagi Bahagia. Program ini mulai minggu depan ditanggal 15 Juni 2017,” imbuhnya. (El)

Tulis Komentar Pertama