Home Headline Galang Kekuatan untuk Percepatan Evakuasi AirAsia

Galang Kekuatan untuk Percepatan Evakuasi AirAsia

Ilustrasi
  • Tragedi AirAsia
Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, 17/1 (Beritajateng.net) – Sejak jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501 pada tanggal 28 Desember 2014, tim SAR gabungan dari dalam dan luar negeri cepat menghimpun kekuatan mengevakuasi korban dan puing pesawat AirAsia.

Kekhawatiran dan kesedihan melanda rakyat Indonesia hingga luar negeri ketika mengetahui status hilang kontak pesawat berubah dengan pemberitahuan tenggelamnya pesawat di perairan Selat Karimata.

Tangis pilu dari keluarga atas hilangnya 155 penumpang dengan tujuh awak pesawat menjadi kesedihan mendalam akan kabar kembalinya penumpang dari pesawat nahas itu.

Hingga saat ini, pemerintah tetap berusaha mencari korban meski cuaca sering kali tidak kondusif akibat gelombang tinggi hingga 3 meter maupun jarak pandang yang terbatas.

Kekuatan pencarian dan penyelamatan atau search and resque (SAR) korban dan puing AirAsia tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri, seperti Singapura, Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Tiongkok, Rusia, Korea Selatan, dan Australia.

Beberapa di antaranya adalah pesawat P3C Orion dari Korea Selatan, pesawat II-76 dan pesawat amfibi Be-200 dari Rusia, serta satu Hercules dan tiga kapal dari pemerintah Malaysia.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsdya F. Henry Bambang Soelistyo mengatakan bahwa satu kapal SAR Tiongkok memasuki sektor pencarian pesawat AirAsia QZ8501 pada hari Jumat (9/1) untuk membantu pencarian jenazah dan penemuan bagian-bagian pesawat, termasuk kotak hitam.

“Satu kapal SAR China (Tiongkok) diharapkan pukul 17.00 akan memasuki ‘mission area’, dan sedang kita upayakan untuk mendapatkan sektor pencarian,” katany.

Kedatangan kapal Tiongkok itu, katanya, akan menambah kekuatan armada pencarian pesawat AirAsia.

Selain itu, pemerintah Jepang juga memberikan bantuan sebanyak dua kapal, yaitu JS Onami dan JS Takanami yang berada di bawah komando Divisi Keenam Pasukan Bela Diri Laut Jepang (JMSDF) telah berada di Selat Karimata sejak Sabtu (3/1).

Meski cuaca tak selamanya kondusif selama masa pencarian, tim SAR gabungan tetap berusaha melakukan pencarian sebelum gelombang tinggi menerpa.

Satu dari dua kapal yang melakukan evakuasi terhadap mayat korban kecelakaan pesawat Airasia QZ8501 di wilayah Kotabaru, Kalimantan Selatan, yakni Kapal Polisi 2003 tidak berani berlayar akibat gelombang tinggi.

“Tadi sekitar pukul 09.00 Wita seharusnya KP Sadewa dan Kapal Polisi 2003 diberangkatkan ke Kotabaru, untuk membawa dua mayat yang ditemukan nelayan Pulau Maradapan, Pulau Sembilan,” kata Rescuer Pos SAR Kotabaru Muhammad Imam Nazarudin.

Akan tetapi, setelah melihat kondisi cuaca buruk dan terjadi gelombang tinggi, Kapal Polisi 2004 terpaksa beristirahat di Pulau Sembilan, sementara KP sadewa melanjutkan pelayaran menuju Kotabaru.

Setelah berlayar beberapa jam, tepatnya sekitar pukul 11.30 Wita, tim yang tergabung dalam kapal KP Sadewa kembali menemukan satu mayat yang diduga juga korban kecelakaan Pesawat Airasia yang terbawa arus laut.

Penemuan Korban Hingga pencarian hari ke-15 (11/1) Badan SAR Nasional (Basarnas) menemukan 48 jenazah korban pesawat AirAsia QZ 8501 melalui deteksi objek di dalam perairan laut, pencarian di sekitar kawasan prioritas hingga penyelaman.

“Jumlah jenazah sudah mencapai 48, posisinya 41 jenazah di Surabaya, lima jenazah di Pangkalan Bun, dua jenazah masih berada di atas Kapal Geo Survey,” kata Kepala Basarnas F. Henry Bambang Soelistyo di Jakarta, Jumat.

Bambang Soelistyo mengatakan dua jenazah yang masih berada di atas Kapal Geo Survey ditemukan di dasar laut dengan kondisi terikat di kursi penumpang.

Dua jenazah korban tersebut, lanjut dia, ditemukan oleh Kapal Geo Survey bersama tim penyelamnya ketika mendeteksi objek di wilayah prioritas tambahan. Kemudian, tim penyelam diterjunkan untuk memeriksa objek tersebut ke dasar laut.

“Cek ke bawah laut oleh penyelam, ditemukan kursi atau bagian kursi dan ada korban melekat di kursi,” ujarnya.

Dua jenazah tersebut, kata dia, akan segera dipindahkan dari kapal menuju Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Sebelumnya, sebanyak 44 jenazah korban pesawat AirAsia telah ditemukan hingga hari ke-12 (8/1). Sebanyak 41 jenazah di antaranya telah berada di Surabaya.

Sementara itu, tiga jenazah lainnya, yang berada di tiga kapal berbeda, yakni satu jenazah di KN SAR Pacitan, satu jenazah di KD Kasturi milik Malaysia, dan sisanya di Kapal JS Onami milik Jepang, pada hari Kamis (8/1) telah dipindahkan ke Pangkalan Bun.

Selain itu, Kapal Baruna Jaya 1 mendeteksi dua objek berdekatan dengan lokasi sinyal “ping” yang diduga berasal dari kotak hitam pesawat AirAsia QZ 8501.

“Di tempat yang berdekatan (dengan posisi sinyal ‘ping’) dideteksi juga adanya objek yang diduga bagian dari pesawat dan dikonfirmasi dari penyelam-penyelam kita dari TNI AL,” katanya di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan bahwa dua objek yang dikonfirmasi tim penyelam TNI Angkatan laut itu berdekatan dengan posisi sinyal “ping” yang ditangkap Kapal Baruna Jaya I. Sinyal itu terletak pada yang berjarak 1,9 mil laut dari posisi ekor pesawat.

Ia mengatakan bahwa dua objek yang dikonfirmasi penyelam itu adalah bagian sayap pesawat dan serpihan dari bagian mesin atau “engine” pesawat.

Sementara itu, Basarnas tidak menemukan jenazah korban pesawat AirAsia QZ 8501 pada hari ini sehingga total penemuan jenazah masih 48 korban hingga pencarian hari ke-15 (11/1).

“Hari ini tugas utama untuk mencari korban tidak mendapatkan hasil. Hari ini tidak ditemukan korban sehingga jumlah tetap 48,” katanya.

Pastikan Kotak Hitam Basarnas menyatakan tiga kapal akan memastikan keberadaan kotak hitam pesawat AirAsia QZ 8501 berdasarkan sinyal “ping” yang ditangkap Kapal Baruna Jaya I.

“Penyelam sudah disiapkan di KN Jadayat, kemudian dibantu dengan Baruna Jaya. KRI Banda Aceh juga ada di dekat lokasi,” kata Kepala Basarnas F. Henry Bambang Soelistyo di Jakarta.

Ia mengatakan upaya pencarian kotak hitam itu merupakan bagian dari rencana operasi pencarian hari ke-16 (12/1) dengan memastikan sumber sinyal “ping” yang dideteksi itu.

Henry Bambang Soelistyo berharap tim penyelam yang diterjunkan besok (12/1) kotak hitam segera ditemukan sehingga dapat mengambil tindakan lebih lanjut.

“Diharapkan besok bisa dikonfirmasi sinyal dari ping yang ditangkap dan dilaporkan itu apakah benar-benar itu ‘black box’,” ujar dia.

Sementara itu, Geodetic Specialist Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Imam Mudita mengatakan Kapal Baruna Jaya I berhasil merekam sinyal ‘ping’ yang diduga berasal dari kotak hitam (black box) pesawat AirAsia QZ8501 pada frekuensi 37.5 kilohertz.

“Posisi pantulan ‘ping’ datang dari arah 52.1 derajat, jarak 77.7 meter, kedalaman 35 Meter,” katanya.

Informasi itu berdasarkan hasil survei Tim Baruna Jaya BPPT yang terdiri 3 kapal riset, yakni Kapal Baruna Jaya I, Kapal Survei Java Imperia, dan KN Trisula.

Ketiga kapal yang beroperasi di wilayah pencarian itu sejak Sabtu (10/1) siang menemukan indikasi lokasi kotak hitam AirAsia.

“Kapal Baruna Jaya I sendiri sudah melakukan berbagai upaya untuk mencari pesawat AirAsia QZ8501 di antaranya dengan mendeteksi keberadaan Pesawat AirAsia QZ8501 menggunakan Sonar, yakni Multibeam dan Side Scan Sonar dan Kamera bawah air,” katanya.

Kapal Baruna Jaya I menangkap “ping” pada lokasi 3 derajat 37 menit 20.7 detik Lintang Selatan dan 109 derajat 42 menit 43 detik Bujur Timur.

Sementara itu, Kapal Java Imperia menangkap sinyal itu pada koordinat 3 derajat 37 menit 21,13 detik Lintang Selatan, 109 derajat 42 menit 42.45 detik Bujur Timur.

“Kedua lokasi tersebut sudah diinformasikan kepada KNKT,” katanya.

Setelah Flight Data Recorder dan Cockpit Voice Recorder diterima Komite Nasional Keselamataan Transportasi (KNKT), pihak KNKT akan mentranskrip rekaman pada kedua recorder yang merupakan bagian dari kotak hitam pesawat AirAsia QZ8501.

“Data rekaman di CVR dan FDR sudah rampung diunduh sejak Rabu (14/1), sekarang sedang proses transkripsi,” ujar Ketua KNKT Tatang Kurniadi di Kantor KNKT, Gambir, Jakarta.

Salinan rekaman itu kemudian akan segera dibuat agar tim investigasi pesawat dapat cepat memberikan laporan awal kepada International Civil Aviation Organization (ICAO) dan negara terkait.

“‘Prelimanary report’ (laporan awal) nanti berupa informasi faktual terkait dengan kejadian sebelum analisis yang disusun 30 hari setelah kecelakaan,” katanya.

Setelah transkrip diselesaikan, data yang didapatkan dari dua perangkat yang ada di dalam kotak hitam pesawat itu disamakan agar datanya menjadi sinkron sehingga didapatkan gambaran-gambaran untuk menunjukkan kejadian saat terbang hingga pesawat terjatuh pada tanggal 28 Desember 2014.(ant/Bj02)