Home Lintas Jateng Gaji Modin di Semarang Hanya Rp. 250ribu, Pemkot Berusaha Carikan Solusi

Gaji Modin di Semarang Hanya Rp. 250ribu, Pemkot Berusaha Carikan Solusi

995

Semarang, 29/10 (BeritaJateng.net) – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengakui kondisi modin di Kota Semarang belum mendapat kesejahteraan cukup. Sebab honor modin masih jauh dari sebutan layak, yakni Rp 250 ribu per bulan. Pihaknya mengaku masih memikirkan solusi untuk meningkatkan kesejahteraan para modin di Kota Semarang.

Honor tersebut belum bisa disebut ‘gaji’, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyebutnya ‘stimulan’ atau bantuan transportasi. “Jadi, apakah modin itu sudah mendapat kesejahteraan cukup? Saya rasa belum. Karena kami Pemerintah Kota Semarang, sifatnya hanya memberi stimulan. Yakni memberi bantuan dana transportasi, setiap bulannya baru Rp 250 ribu,” kata Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi, Jumat (28/10).

Dikatakan Hendi, apakah Pemerintah Kota Semarang bisa memberikan gaji kepada modin? Sejauh mana Pemerintah Kota Semarang bisa melakukan peningkatan kesejahteraan kepada para modin. “Hal itu harus ditelaah lagi. Tapi untuk stimulan Rp 250 ribu itu jika dirasa kurang, kami akan coba tingkatkan,” ungkapnya.

Namun demikian, dengan meningkatkan salah satu stimulan transport modin ini, lanjut Hendi, maka akan mengakibatkan adanya pembengkakan biaya. “Efeknya kepada satuan standar harga untuk teman-teman yang lain. Tentunya ada pembengkakan biaya secara keselurahan. Ya kami sesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,” katanya.

Wakil Ketua Kelompok Modin Kota Semarang, Masykur, mengatakan sejauh ini para modin hanya menerima honor Rp 250 ribu per-bulan. Padahal, Modin merupakan profesi ahli yang tidak semua orang bisa menjalaninya. Tugasnya melayani masyarakat dengan ‘jaga gawang’ selama 24 jam setiap harinya.

“Tanggung jawab modin sangat berat. Selama 24 jam full menjaga gawang di tengah masyarakat. Mulai dari prosesi kelahiran, pernikahan, hingga prosesi pengurusan jenazah di tengah maayarakat. Ini profesi ahli yang tidak semua orang bisa menjalaninya,” katanya.

Misalnya mengurus jenazah, mulai memandikan, mengafani, menyolatkan, hingga memandu saat proses pemakaman. Bahkan tokoh agama sekalipun, belum tentu mau atau bisa melakukan pekerjaan seperti itu. Namun demikian, selama ini kesejahteraan para modin belum mendapat perhatian oleh Pemerintah Kota Semarang. “Harapan kami Pemerintah Kota Semarang memberi perhatian. Agar teman-teman modin di Kota Semarang ini mendapat kesejahteraan. Syukur kalau modin bisa diberikan gaji setara dengan Upah Minimun Kota (UMK). Bagaimanapun modin memiliki tugas berat melayani masyarakat,” katanya.

Tetapi, meski hanya mendapat transportasi Rp 250 ribu, kata dia, selama ini para modin tetap ikhlas menerima dengan lapang dada. Sepanjang sejarah, lanjutnya, tidak pernah ada modin melakukan demonstrasi untuk menuntut kenaikan gaji. “Sebab, sosok modin dibekali ilmu agama cukup. Termasuk mendapatkan horor berapapun tetap mengaku cukup. Tugas manusia berusaha, selebihnya rizki sudah ada yang mengatur,” katanya. (Bj)

Advertisements