Home Lintas Jateng Gafatar, Politik dan Agama Baru yang Menyesatkan

Gafatar, Politik dan Agama Baru yang Menyesatkan

 

* Orang Tua Korban Gafatar Desak Pemerintah Segera Bubarkan Gafatar

Semarang, 27/1 (BeritaJateng.net) -GAFATAR (Gerakan Fajar Nusantara), saat ini sepertinya tengah menjadi momok yang menakutkan, khususnya bagi keluarga yang ditinggalkan. Mengapa tidak, Gafatar mendoktrin anggota untuk “melawan” orang tua, untuk menjauhkan orang tua.

Tragisnya, Gafatar mendidik orang untuk tidak beribadah, kalau pun beribadah atas kemauannya sendiri, tidak menjalankan ajaran agama dengan benar. Dan lebih bahayanya, Gafatar seolah-olah ingin menguasai negara, mendirikan negara dalam negara.

Harsono, salah seorang dari ayah yang anaknya bergabung dan menganut ajaran Gafatar sangat geram kalau mendengar Gafatar, karena anaknya, Adif Nugroho bergabung dengan Gafatar.

“Sebelum pindah ke Kalimantan, anak saya bergabung dengan Gafatar. Sebelum bergabung, anak saya sangat taat beribadah. Tapi setelah gabung, sholatnya jadi nggak karu-karuan, menghadapnya tidak ke kiblat, tapi sa karepe dewe, sama orang tua juga melawan,” ujar pensiunan masinis menceritakan saat diskusi Gafatar FWPJT di Lobby Gubernur Jateng.

Karena tidak sesuai ajarannya, Harsono pun berusaha menegur anaknya, namun ia mendapatkan jawaban yang mengagetkan.

“Adif mengatakan, Sholat itu bisa menghadap kemana-mana, tidak harus ke kiblat, karena Allah ada dimana-mana,” tuturnya lagi.

Kepada Harsono, Adif juga mengatakan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, tidak perlu adanya puasa, karena apa yang dilakukan manusia, Allah Maha Tahu.

“Jadi tidak perlu puasa, tidak perlu sholat seperti yang biasanya,” tambahnya.

Awalnya, Harsono sempat marah mendengar jawaban anaknya persoalan ibadah, tapi ia menyadari untuk menyedarkan anaknya butuh cara. Namun semakin menjadi dan bahkan Adif meninggalkan dirinya.

Sementara itu, menantu Harsono, Inka Pratiwi yang sama-sama mengenyam pendidikan di Undip Semarang juga turut keblinger dengan mengikuti suaminya, Adif Nugroho.

“Sudah satu tahun ngga ada komunikasi, handphonya nggak bisa dihubungi sampai sekarang,” tambahnya.

Kabar terakhir yang ia terima, Anak dan Menantunya menetap di jalan Antasan Kecil Timur Dalam RT 21 RW 02 Dusun Antasan Kecil Timur Kalbar, Kabupaten Ketapang, Kendawangan Kalbar.

“Feeling saya, Gafatar sengaja memutuskan hubungan dengan anak saya, maka saya sangat mendukung dan mendesak pemerintah untuk segera membubarkan Gafatar, Gafatar tidak benar, Gafatar menyesatkan,” tandas Harsono.

Saat disinggung siapa yang merekrut Adif, Harsono menyebutkan Aswar, Aswar saat datang ke rumahnya mengaku punya kakak yang menjadi dosen.

“Awalnya tidak ada kecurigaan kalau akhirnya seperti ini, awalnya juga saya percaya karena Aswar juga orang berpendidikan,” tambahnya.

Sementara itu Partini, Ibu kandung Inka Pratiwi mengatakan anaknya sempat menjadi pengurus Gafatar di Kota Semarang. Ia juga menerima hal yang aneh terhadap tingkah polah anaknya. Bahkan saat menjadi pengurus, nama anaknya berubah menjadi Sophia Latifah.

“Saat menjadi pengurus Gafatar di Semarang, anak saya berubah nama menjadi Sophia Latifah, tingkah lakunya juga aneh, jadi acuh kepada saya, ibadah juga sa karepe dewe,” tambah Pratini.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah Dr. Ahmad Rofik, MA menilai Gafatar dari beberapa sisi dan semuanya mengarah ke pelanggaran norma, pelanggaran agama dan pelanggaran pidana.

Menurutnya, dari sisi politik, kalau Gafatar dibiarkan akan menjadikan Indonesia dua matahari, Gafatar ingin mendirikan negara dalam negara.

“Mendirikan negara dalam negara adalah perbuatan subversi, maka secara politik ini pelanggaran pidana, bisa dikatakan makar. Karena Gafatar juga menggunakan simbol  negara, setiap kegiatan dilandasi dengan Pancasila, tapi tidak menggunakan aturan negara, maka pemerintah melakukan upaya cepat untuk mencegah berdirinya negara Gafatar,” ujarnya.

Dari sisi agama, apakah Gafatar termasuk agama baru ? Ia menegaskan, kalau Gafatar jelmaan dari al Kiayadah al Islamiyah, pihaknya telah mengeluarkan fatwa bahwa aliran itu adalah aliran sesat.

“Pimpinan mereka, Ahmad Musadek pernah mendeklarasikan dirinya sebagai nabi terakhir, bahkan dalam ajaranya menggabungkan tiga ajaran nabi, yakni Musa, Isa dan Nabi Muhammad, kalau ini dibiarkan Gafatar akan mendirikan agama, mungkin juga akan menamakan agama Gafatar atau apalah, maka apakah ini agama baru ? Kalau dibiarkan ia, karena dari deklrasi menjadi nabi terakhir, pasti arahnya ke sana atau ke agama baru,” terangnya lagi.

Dan dari sisi norma, kalau Gafatar mengaku aliran Islam, dalam Islam ummatnya diwajibkan menjalankan ajaran yang benar, sangat berdosa bagi ummat Islam yang memutuskan huhungan silaturahim apalagi memutuskan hubungan dengan keluarga.

“Lha ini, Gafatar malah berusaha memutuskan hubungan anggotanya dengan keluarganya, maka ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Maka menurut saya, pemerintah telah cepat melakukan pencegahan,” pungkas Ahmad Rofik. (BJ05)