Home Nasional Gafatar Awalnya Memikat Selanjutnya Menyesatkan

Gafatar Awalnya Memikat Selanjutnya Menyesatkan

Semarang, 28/1 (BeritaJateng.net) – Akhir-akhir ini, Indonesia dihebohkan dengan aliran Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Kehebohannya melebihi dari teror ISIS yang mengebom komplek pertokoan Sarinah di Jakarta.

Mengapa tidak, beberapa lembaga menggelar seminar maupun diskusi untuk membahas aliran Gafatar yang menimbulkan pro kontra, apakah Gafatar itu organisasi masyarakat atau organisasi keagamaan.

Salah satunya adalah Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah yang menggelar seminar Gafatar Ancaman dan Solusinya. Sebagai pembuka, Kajati Hartadi, SH, MH menyampaikan secara hukum, Gafatar tidak terdaftar di pemerintahan, sehingga Gafatar bukan ormas maupun organisasi keagamaan.

“Meski illegal, Gafatar bisa tumbuh subur dan berhasil merekrut dan membujuk semua kalangan dengan program sosialnya. Ironisnya, Gafatar dengan subur menyebarkan ajaran yang menyesatkan,” ujar Hartadi.

Menurut Hartadi, Kenapa Gafatar menyesatkan ? karena dalam ajarannya, mereka tidak mewajibkan sholat, tidak mewajibkan puasa dan memiliki syahadat berbeda. Dan yang lebih tragis lagi, mereka mengkafirkan orang yang tidak bergabung dengan Gafatar.

“Karena itu, pemerintah bertindak cepat dengan melakukan penindakan,” tambahnya.

Hartadi mengakui, setiap warga negara diperbolehkan berserikat, namun organisasi tersebut harus taat dan tunduk dengan aturan hukum yang ada.

“Untuk itu, Kejati melalui perangkatnya melakukan pengawasan terhadap organisasi yang menyimpang dari norma agama dan norma hukum. Kejati juga melakukan penindakan hukum terhadap tindakan yang menyesatkan salah satunya adalah Gafatar, untuk itu apapun tindakan yang menyimpang dari norma agama norma hukum harus dibubarkan,” tandasnya.

Gafatar

Hartadi berharap, Kejati dengan instansi terkait seperti Pemprov, Kepolisian dan lainya mempunyai satu visi dalam penegakkan hukum dan proses pembubarannya terhadap ajaran yang menyesatkan dan meresahkan masyarakat.

Sementara itu, Ririn salah seorang kepala Sekolah SMA di Klaten memberikan testimoninya mengenai Gafatar. Ia berhasil mencegah masuknya Gafatar ke sekolahannya. Dalam membentengi siswanya, pihaknya berusaha membentuk siswa yang insan kamil dengan terus menerus memberikan bimbingan.

“Kami juga terus menekankan ke anak-anak bahwa NKRI harga mati. Caranya, sebelum masuk kelas, semua siswa harus menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sebelum pulang menyanyikan lagi wajib. Dan yang tak kalah pentingnya, setiap kelas harus ada bendera merah putih,” ujar Ririn.

Mengenai Gafatar, Ririn menceritakan awal mula Gafatar masuk ke sekolahnya. Awalnya, ia mendapatkan laporan dari salah seorang pembimbing yang menemukan Gafatar saat ia mengikuti Car Free Day (CFD).

“Kemudian saya membaca brosurnya, programnya bagus banget, kegiatan sosialnya juga sangat bagus. Dan suatu saat, ada perwakilan Gafatar meminta ijin ke saya untuk memberikan semacam pelatihan atau penyuluhan. Tapi sebelum itu, saya menanyakan ke mereka, apa yang akan diberikan kepada anak-anak saya, mereka mengatakan akan memberikan penyuluhan tentang narkoba, penyuluhan mengenai moral dan yang lebih penting lagi penyuluhan Nasionalis Kebangsaan,” ujarnya.

Bahkan Ririn mendampingi siswanya saat diberikan penyuluhan oleh Gafatar dan ia mengakui penyuluhannya sangat bagus, sehingga ia tidak menaruh curiga sedikitpun.

Pada saat menjelang ujian, Gafatar datang lagi dan menghadap dirinya, mereka meminta ijin untuk bisa masuk ke kelas 3 yang akan menempuh ujian. Ririn pun kembali menanyakan apa yang akan diberikan kepada anak-anak. Gafatar justru menantang apa yang diinginkan oleh Ririn.

“Waktu itu saya meminta ke mereka untuk memberikan motivasi supaya anak-anak semangat, bahkan saya meminta supaya anak-anak bisa menangis histeris dengan motivasi yang mengingatkan dosa-sosa mereka sehingga dalam ujian mereka lebih fokus,” tambahnya.

Gafatar pun menyanggupi permintaan dirinya, dan karena waktu itu ia ada kegitan di luar sekolah, maka Ririn tidak bisa mendampinginya. Namun dalam perjalanan, salah seorang guru melaporkan ke dirinya kalau siswa-siswa pada histeris.

“Saya ditelephone pokoknya harus ke sekolah, karena anak-anak histeris. Saya tiba di sekolah tapi Gafatar sudah tidak ada. Kemudian saya tanya ke anak-anak kenapa sampai histeris ? ternyata Gafatar memberikan doktrin ajaran mereka yang salah satunya adalah syahadat yang berbeda.

“Anak-anak diberi ajaran itu langsung berontak karena dan mereka mengatakan secara serempak Gafatar Menyesatkan,” tambahnya.

Untuk itu, pihaknya langsung mengumpulkan siswanya di aula, mereka diberi bimbingan bahwa selain syahadat yang selama ini dipegang kuat berarti bukan Islam. Ajaran yang disampaikan Gafatar yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang selama ini dikerjakan, maka bukan Islam.

“Jadi saya simpulkan Gafatar gagal masuk ke sekolah, karena ketika ajaran Gafatar disampaikan, anak-anak langsung berontak. Inilah pentingnya bentengi anak-anak dengan agama yang kuat, sehingga aliran-aliran yang menyesatkan bisa diantisipasi. Gafatar, awalnya bagus, selanjutnya menyesatkan,” pungkas Ririn. (BJ)