Home Ekbis FKRM Pati Gelar Pendidikan Kewirausahaan Masjid Mandiri

FKRM Pati Gelar Pendidikan Kewirausahaan Masjid Mandiri

Pati, 28/12 (BeritaJateng.net) – Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi juga bisa berfungsi untuk pendidikan, pemberdayaan ekonomi ummat, sebagai kaderisasi dan lain sebagainya.

Namun hingga saat ini fungsi masjid sebagai tempat pemberdayaan ummat belum optimal. Untuk itu, Forum Komunikasi Remaja Masjid (FKRM) se Kabupaten Pati menggelar Orientasi Kewirausahaan untuk Masjid Mandiri.

“Takmir masjid dan stakeholder harus memiliki jiwa entrepreneur (wirausaha) agar bisa meningkatkan taraf hidup umat di sekitar lingkungan masjid. Atau paling tidak, bisa mengurangi kemiskinan di sekitar masjid. Jangan sampai masjidnya megah, tetapi kehidupan umat di sekitarnya tidak semegah masjidnya,” kata Ketua FKRM Irsyaduddin, SE., ketika membuka acara Kegiatan Orientasi Kewirausahaan untuk Masjid Mandiri.

Menurutnya, kegiatan yang dimotori oleh Forum Aktivitas Remaja Masjid Agung Baitunnur Pati, Forum Komunikasi Remaja Masjid se-Kabupaten Pati dan Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama itu tidak hanya mendidik kader untuk berwirausaha, tapi juga dididik bagaimana pentingnya silaturahim.

Takmir Masjid

“Makanya salah satu kegiatannya selain pendidikan kewirausahaan, juga dilanjutkan dengan silaturrahim rombongan ke Pesantren Enterpreneur Al-Mawaddah, Honggosoco, Jekulo, Kudus,” ujarnya.

Lebih lanjut, Irsyad mengatakan, hampir seluruh masjid di Kabupaten Pati sudah memiliki ta’mir. Sayangnya, ta’mir-ta’mir tersebut belum banyak yang mampu memfungsikan masjid secara optimal.

“Nah, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong para pengurus ta’mir masjid agar bisa berbuat banyak untuk kemakmuran umat di sekitar masjid,” tambahnya.

Dalam sambutannya di hadapan para santri yang tergabung dalam Organisasi Remaja Masjid dan Lembaga Ta’mir Masjid NU se-Kabupaten Pati, K.H. Sofiyan Hadi selaku Pengasuh Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah berpendapat bahwa ta’mir masjid jangan hanya mengandalkan infaq dari jamaah.

“Untuk itu, perlu ada usaha nyata yang bisa menghasilkan keuntungan yang selanjutnya disalurkan untuk kemakmuran umat,” ujarnya.

Lebih jauh lagi, Kyai muda yang progresif ini menyadarkan peran penting para pegiat masjid untuk memiliki jiwa berkemandirian agar tidak mudah goyah oleh pengaruh ajaran kekerasan berkedok agama.

“Fakta menunjukkan, bahwa ajaran kekerasan akan mudah merasuki alam pikiran seseorang yang tidak memiliki wawasan agama yang luas dan lemah secara ekonomi,” tandasnya.

Dalam kegiatan tersebut, dimulai dengan training tentang Spiritual Bussines dilanjutkan dengan pelatihan kewirausahaan. Pengenalan budidaya sayur dan buah organik dengan metode hidroponik, proses pembuatan tepung mocaf beserta turunan-turunan produknya meliputi cake, aneka keripik dan aneka kue.

Pelatihan dilanjutkan dengan cara budidaya buah naga dan aneka macam produk berbahan dasar buah naga seperti syrup, keripik buah naga dan-lain. (BJ)