Home Hiburan Filmmaker Semarang Berbincang dengan Sutradara dari Jakarta

Filmmaker Semarang Berbincang dengan Sutradara dari Jakarta

Semarang, 5/12 (BeritaJateng.net) – Para filmmaker muda Semarang nampak girang mengikuti workshop produksi dan nonton film yang diselenggarakan Komite Sinema, Dewan Kesenian Semarang, Sabtu (5/12).

Acara yang berlangsung di Gedung Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID), Jl Trilomba Juang 18, Semarang diikuti setidaknya 70 peserta dari berbagai kalangan.

Harapan Kota Semarang tidak sekadar jadi tempat persinggahan atau hanya menjadi latar produksi film nasional menjadi mimpi besar acara itu.

Ketua Dewan Kesenian Semarang, Mulyo Hadi Purnomo mengatakan bahwa Kota Semarang sudah capai dengan status tempat singgah film-film nasional.

“Dengan pelatihan film yang intensif seperti ini, harapannya bakal muncul sineas handal dari Kota Semarang,” kata dia membuka acara, pada pukul 10.30 WIB.

Dipandu oleh Handry TM, penyair sekaligus penulis skenario, pelatihan menghadirkan sutradara dan penulis skenario dari Jakarta, Haryanto Corakh atau akrab disapa Cak Roto. Mengawali acara, Handry mengajak peserta menikmati film pendek pertama karya Cak Roto, Sketsa.

Cak Roto mengungkapkan, bahwa film yang berdurasi 26 menit tersebut memberi banyak pelajaran bagi dirinya. “Pandangan sederhana saya tentang film pendek adalah film yang penyampaian isunya padat dan sarat makna, bukan film panjang yang dipendekan,” kata dia.

Karenanya, lanjut pria yang juga sutradara Unlimitid Love, pemahaman detil pada setiap bagian perfilman harus dilakukan. “Komunikasi antarlini menjadi penting. Dan ini menjadi catatan bagi kita, bahwa produksi film tidak bisa mengandalkan kehebatan satu orang, semua hebat,” tutur dia.

Kata Cak Roto, film Sketsa yang digarap pada tahun 2013 tersebut termasuk genre misteri. “Mulanya, sebelum penciptaan, saya ngobrol dengan salah seorang produser yang kebetulan kawan sendiri, bahwa saya muak dengan maraknya film-film horor yang ‘nyrempet-nyrempet’ adegan panas, bahkan mengandalkan sensualitas. Tapi celakanya, justru film itu laris di pasar film Negara ini,” keluh dia.

Saya menawarkan, lanjut Cak Roto, kepada produser tersebut film horor namun tidak norak. “Garapannya harus jelas arahnya, bukan sekadar mencari keuntungan,” jelas dia sembari mengatakan bahwa produksi Sketsa menelan biaya sekira Rp300 juta.

Obrolan seputar film Sketsa yang diputar di awal acara berselang-seling dan memiliki kaitan cukup relevan bagi filmaker ketika menjalani produksi kreatifnya. “Saya rasa yang dialamai setiap filmaker hampir sama. Persoalannya adalah bagaimana kita berani menghadapi dan melahirkan sebuah karya.”

Menanggapi keinginan Ketua Dekase, Cak Roto mengungkapkan bahwa dalam film Sketsa tersebut, dua filmaker dari Kota Semarang juga turut terlibat, dari Komunitas Senias Semarang. “Harapan saya hubungan ini bisa berjalan intensif,” kata dia.

Sofyan, dari Komunitas Fotografi dan Sinema Semarang mengatakan bahwa pihaknya berharap acara serupa semakin digalakan di Kota Semarang. “Semua harus bergerak, bukan hanya yang berkecimpung di perfilman, khususnya Pemerintah Kota Semarang. Ini jadi modal cukup baik bagi kemajuan film di Semarang,” kata dia. (Bj)