Home Lintas Jateng Fasilitas dan Sarana Terpenuhi, Masyarakat Bisa Beralih Ke Transportasi Umum

Fasilitas dan Sarana Terpenuhi, Masyarakat Bisa Beralih Ke Transportasi Umum

P_20150918_151227

Semarang, 18/9 (BeritaJateng.net) – Tantangan modernisasi zaman tidak bisa dielakkan, bahkan tantangan tersebut mulai hadir dari sudut transportasi umum, mulai dari tarif  angkutan umum yang harus transparan bagi konsumen hingga upaya pengurangan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.

Baik pemerintah, pengusaha angkutan umum, serta masyarakat, khususnya warga Indonesia perlu berupaya memberi dukungan supaya angkutan umum tetap bertahan. Angkutan umum diharapkan mampu melayani masyarakat Indonesia secara tepat untuk mempertahankan eksistensinya.

Hal inilah yang melatarbelakangi diskusi buku ‘Membela Angkutan Umum’ oleh Ekasari S. Lorena Soerbakti (Ketua Organda), dan menghadirkan nara sumber lain seperti Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Drs. Bunyamin, M. Pd dan Djoko Setijowarno seorang Pakar Transportasi Unika Soegijapranata Semarang di toko buku Gramedia, Jalan Pemuda 138, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/9) siang.

Sebagai ketua organda yang menjabat sejak tahun 2010 hingga 2015, Ekasari S. Lorena Soerbakti mengaku sering turun ke jalan secara langsung. Mendengar dan melihat, adanya keluhan-keluhan baik dari masyarakat maupun pengendara angkutan umum. Naik bus hingga ke daerah-daerah pun kerap dilakoninya.

“Bercermin dari negara maju seperti Korea Selatan, negara itu baik dan hebat jika angkutan umumnya efektif dan efisien. Sehingga kemacetan yang sering menjadi masalah bisa diatur dan diurai,” tutur Eka.

Berlatar belakang keilmuan di bidang transportasi dan logistik membuat Ketua Organda ini peduli kepada kebijakan publik terkait transportasi. Baik itu transportasi darat, laut dan udara.

Dia juga menambahkan jika ada pajak yang berhubungan dengan angkutan umum seharusnya negara bisa lebih transparan. Indonesia bisa lebih gamblang dalam upaya memperbaiki transportasi umum. Bahkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi bisa diatasi dengan biaya transportasi lebih murah. Bahan-bahan dasar produksi yang mampu bersaing. Dengan demikian ekonomi di negara ini bisa bangkit.

“Untuk sopir angkutan umum juga harus mendapatkan gaji bulanan dengan jadwal operasi 8 jam sehari,” kata Djoko Setijowarno, bertindak sebagai Dosen sekaligus Pakar Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.

Membela dalam diskusi ini diartikan sebagai upaya mendukung gerakan mempercepat realisasi kebijakan angkutan umum. Dia menambahkan karena angkutan umum juga menyangkut aspek pendidikan. Yaitu alat transpotasi yang digunakan oleh pelajar dan mahasiswa.

“Angkutan umum sifatnya massal, maka harus bisa menjangkau perumahan. Jika angkutan umumnya sudah bagus otomatis para pelajar juga bisa nyaman dan mudah memanfaatkannya. Apalagi dengan tarif yang murah,” imbuh Djoko.

Selain itu, dia juga menambahkan dengan adanya diskusi ini dalam upaya menggugah warga agar Pemerintah segera merealisasikan angkutan umum dengan tarif murah.

“Untuk kota Semarang sendiri sudah diberi kemudahan, pelajar hanya dikenakan tarif Rp 1.000,-. Sehingga pelajar tidak perlu menggunakan kendaraan maupun diantarkan oleh orang tuanya,” ungkap Kadinas Kota Semarang, Drs. Bunyamin, M. Pd.

Hanya saja jalur angkutan umumnya perlu ditambah, lanjutnya, seperti di daerah Timur Mijen, Gunungpati dan Cangkiran. (BJT01)