Home Lintas Jateng Faktor Ekonomi Jadi Penyebab Tingginya Putus Sekolah di Semarang

Faktor Ekonomi Jadi Penyebab Tingginya Putus Sekolah di Semarang

3723
0
Wali kota Semarang Hendrar Prihadi mengunjungi SMAN 3 Semarang untuk memberi support dan motivasi pada siswa, guru dan pimpinan sekolah.

Semarang, 29/3 (BeritaJateng.net) – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengakui faktor ekonomi menjadi penyebab paling tinggi anak putus sekolah yang menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus segera diselesaikan.

“Sebenarnya, ada banyak faktor penyebab anak putus sekolah. Namun, faktor ekonomi merupakan yang paling tinggi,” kata politikus PDI Perjuangan yang akrab disapa Hendi itu di Semarang.

Hal tersebut diungkapkan orang nomor satu di Kota Semarang itu saat rapat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah 2019 di Balai Kota Semarang.

Padahal, kata dia, Pemerintah Kota Semarang sudah menggratiskan biaya sekolah mulai sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) untuk sekolah negeri tentunya.

Demikian pula untuk jenjang sekolah menengah atas (SMA) yang pernah digratiskan, lanjut dia, tetapi sekarang ini kewenangan pengelolaan jenjang SMA sederajat sudah ditarik ke pemerintah provinsi.

Artinya, kata dia, masyarakat juga berperan untuk terus memotivasi anaknya agar menempuh pendidikan setinggi-tingginya tidak hanya sampai jenjang SMA, melainkan sampai sarjana.

“Ada tiga sektor yang menjadi modal penguatan ekonomi, yakni kesehatan, perbaikan infrastruktur yang menunjang perekonomian, dan pendidikan. Indeks pembangunan manusia (IPM) ini jadi ukuran progres,” katanya.

Ia menilai pentingnya IPM memengaruhi progres standar pembangunan pusat sehingga pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan sangat diperlukan untuk menunjang pertumbuhan perekonomian.

“Kalau ekonomi lancar `on the track`, kesehatan juga sudah baik, apalagi dengan adanya program UHC (Universal Coverage Health). Kami masih punya PR selanjutnya di bidang pendidikan,” katanya.

Diakuinya, sekarang ini sektor pendidikan menjadi prioritas karena rata-rata anak sekolah masih sampai usia 10,67 tahun atau tidak tamat SMA sederajat sehingga jaraknya sangat jauh.

Dukungan penganggaran, kata dia, sudah sesuai perundang-undangan, seperti anggaran pendidikan di atas 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Semarang dan kesehatan lebih dari 10 persen.

“Kalau untuk ekonomi, anggaran masih kami fokuskan pada sektor perdagangan dan jasa penguatan ekonomi, salah satunya pengembangan tempat wisata baru di Semarang,” kata Hendi. (El)