Home Headline Energi Baru Terbarukan Saatnya Dikembangkan Di Jawa Tengah

Energi Baru Terbarukan Saatnya Dikembangkan Di Jawa Tengah

180
0

SEMARANG, 4/8 (beritajateng.net) – Kebutuhan Energi Baru Terbarukan (EBT) sudah saatnya dikembangkan secara optimal di Jawa Tengah. Sebab, jika masih bergantung pada energi fosil, ketersediaan energi tersebut tidak akan terus tersedia dalam waktu lama.

Staf Ahli Gubernur Jateng Bidang Pengembangan Energi, Tegoeh Wynarno Haroeno menjelaskan, ada banyak potensi EBT yang belum dioptimalkan. Entah itu bersumber dari energi matahari, air, angin, hingga sampah.

“Energi matahari bisa diolah lewat solar cell, air dan angin lewat turbin atau kincir. Kalau sampah, bisa jadi bio gas,” terangnya, Jumat (4/8).

Semua potensi EBT itu, lanjutnya, tersedia di Jateng. Di Banjarnegara ada dua kincir air. Yang satu menjadi sumber energi guna mendorong sumber air di dataran bawah untuk mengairi pemukiman di dataran atas. Satu lagi untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di Taman Marga Satwa Serulingmas.

“Kincir air di Serulingmas itu malah cukup untuk memenuhi semua kebutuhan listrik di taman marga satwa,” bebernya.

Kincir angin, lanjut Tegoeh, sudah diimplementasikan di Kabupaten Blora. Sementara solar cell, digunakan petani kentang di Dieng untuk menggerakkan pompa air pertanian dengan konsep aeroponik.

Meski terbukti bermanfaat, tapi pemerintah dirasa masih kurang serius menggarap EBT. Bisa jadi, alasannya karena alasan biaya. Memang, untuk membuat satu unit EBT jenis apa saja, butuh anggaran yang besar. Selain itu, masyarakat belum melirik kehebatan EBT karena masih merasa di zona nyaman. Yaitu mendapat subsidi biaya energi dari pemerintah.

“Kalau dihitung, EBT memang mahal. Bensin dari limbah plastik, misalnya. Kalau dijual, harganya bisa tiga kali lipat dari bensin sekarang,” paparnya.

Kalau tenaga kincir, lanjutnya, relatif lebih murah. Hitunggannya, untuk membangun kincir, sama dengan bayar listrik biasa selama tahun. “Jadi bayar listrik lima tahun, bisa gratis listrik selamanya. Tinggal biaya tambahan untuk perawatan saja. Itu pun murah. Paling beli pelumas agar kincir tetap bisa muter,” imbuhnya.

Menurutnya, perlu ada tiga triger agar EBT bisa diwujudkan. Yaitu manajemen SDM, pembangkitan, dan regulasi. Tegoeh menilai, pembangkitan EBT harus terpadu. Tidak bisa jika hanya dibebankan Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) saja. Semua bagian harus ikut andil. Seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk bagian air gelombang, Dinas Perhubungan (Dishub) bagian angin, dan lain sebagainya.

Mengenai masalah regulasi, sudah ada Surat Keputusan (SK) Gubernur Jateng Nomor 540/33 Tahun 2017 tentang Pembentukan Tim Percepatan/Peningkatan Proporsi EBT. Dalam SK tersebut, mengatur agar segera mambuat tim terpadu antar stakeholder seperti PLN, Pertamina, PGN, hingga antarSKPD di pemkab/pemkot.

SK itu didukung dengan SK Sekda Jateng Nomor 540/0009555 tentang Kelompok Kerja Sosialisasi Inovasi Akselerasi Peningkatan Proporsi EBT. “Nanti juga akan ada Perdanya. Saat ini masih berupa draf Raperda,” terangnya.

(NK)