Home Headline Empat Komponen Harus Direvolusi Mental di Polri

Empat Komponen Harus Direvolusi Mental di Polri

ilustrasi
ilustrasi

Semarang, 5/3 (BeritaJateng.net) – Rapim Polri akan berakhir. Rapim ini adalah Rapim pertama Polri di pemerintahan baru Presiden Jokowi yang membawa konsep Revolusi Mental.

“Pertanyaannya, mampukah Rapim Polri kali ini mewujudkan konsep Revolusi Mental Jokowi, sehingga masyarakat benar-benar bisa merasakan adanya perbaikan signifikan dan adanya revolusi mental dalam sikap, prilaku, dan kinerja Polri pasca Rapim 2015,” ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, Kamis (5/3/2015).

Lebih lanjut Neta berharap, Rapim Polri kali ini benar-benar mampu mewujudkan perubahan di Polri, sehingga Rapim tersebut tidak sekadar Rapim tanpa hasil. Apalagi tema Rapim Polri 2015 ini adalah “Polri Profesional Penggerak Revolusi Mental” sebuah tema yang sangat ideal tapi tentunya sulit diwujudkan.

“Tapi setidaknya, sebelum menjadi
penggerak Revolusi Mental bagi masyarakat, lewat Rapim ini Polri mampu menggerakkan dirinya sendiri dan melakukan perubahan signifikan dalam dirinya,” ujarnya.

Menurut Neta, ada empat komponen di Polri yang perlu segera dilakukan Revolusi Mental agar masyarakat bisa benar-benar merasakan adanya perbaikan signifikan. Sehingga tema “Polri Profesional Penggerak Revolusi Mental” tidak sekadar slogan kosong.

Pertama menurut Neta adalah revolusi mental di lingkungan Reskrim (reserse dan kriminal). Selama ini sikap, prilaku, dan kinerja reskrim kerap dikeluhkan
masyarakat. Respon terhadap laporan lamban, masyarakat seperti tidak
diberi kepastian hukum, rekayasa kasus dan kriminalisasi masih kerap
jadi masalah.

Kedua, di bidang lalulintas. Pelayanan jasa lalulintas masih dikeluhkan, sementara kemacetan di kota-kota besar kian parah, sepertinya Polri gagal melakukan rekayasa lalulintas untuk kota-kota
besar yang tingkat kemacetannya kian parah.

Ketiga, revolusi mental di jajaran sumber daya manusia (SDM). Proses jenjang karir, kenaikan pangkat, penempatan jabatan, dan pendidikan di Polri masih dikeluhkan karena banyak masalah.

Keempat, revolusi mental di bidang sarana dan prasarana, terutama menyangkut proyek-proyek pengadaan yang bernilai triliunan rupiah, yang masih tidak tepat guna.

“Proses revolusi mental di keempat bidang ini perlu pengawasan maksimal, baik dari Propam maupun Irwasum. Bagaimana pun perubahan
tanpa pengawasan tidak akan berjalan, kalau pun berjalan dipastikan akan kebablasan, sehingga harapan Polri menjadi penggerak revolusi mental akan jauh panggang dari api dan Rapim Polri 2015 hanya sekadar serimonial belaka,” pungkas Neta. (BJ)

Advertisements