Home Ekbis Ekspansi Keuangan Pemerintah Pengaruhi Uang Beredar

Ekspansi Keuangan Pemerintah Pengaruhi Uang Beredar

image
Ilustrasi

Jakarta, 7/1 (Beritajateng.net) – Bank Indonesia menyatakan ekspansi operasi keuangan pemerintah menjadi faktor yang memengaruhi peningkatan pertumbuhan likuiditas perekonomian atau pertumbuhan uang beredar M2 (uang dalam arti luas) pada November 2014.

“Ekspansi keuangan Pemerintah terjadi sejalan dengan peningkatan aktivitas belanja pemerintah menjelang akhir tahun,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Rabu.

Posisi M2 pada November 2014 tercatat sebesar Rp4.076,3 triliun, atau tumbuh 12,7 persen year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Oktober 2014 yang sebesar 12,5 persen (yoy).

Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan masih melambat. Kredit perbankan pada November 2014 tercatat sebesar Rp3.626,2 triliun atau tumbuh 11,7 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Oktober 2014 yang sebesar 12,4 persen (yoy).

“Perlambatan pertumbuhan kredit ini sejalan dengan moderasi pertumbuhan ekonomi,” ujar Tirta.

Suku bunga kredit perbankan sendiri masih terus meningkat, sementara suku bunga deposito menurun. Pada November 2014, rata-rata suku bunga kredit tercatat sebesar 12,97 persen, sedikit meningkat dibandingkan Oktober 2014 yang berada di level sebesar 12,93 persen.

Sementara itu, rata-rata suku bunga Deposito berjangka waktu 1, 3, 6, dan 12 bulan pada November 2014 masing-masing tercatat sebesar 8,2 persen, 9,02 persen, 9,3 persen, dan 8,74 persen, turun dibandingkan Oktober 2014 yang masing-masing tercatat sebesar 8,23 persen, 9,25 persen, 9,38 persen, dan 8,77 persen.

Berdasarkan komponennya, peningkatan pertumbuhan likuiditas perekonomian tersebut terutama berasal dari komponen uang kuasi.

Pertumbuhan komponen Uang Kuasi tercatat sebesar 13,9 persen (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 13,7 persen (yoy). Sementara itu, perkembangan M1 relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yaitu sebesar 9,8 persen (yoy).(ant/Bj02)