Home Headline Eksekusi Mati Narkoba Catatan Buruk Pemajuan HAM

Eksekusi Mati Narkoba Catatan Buruk Pemajuan HAM

573
Tran Thi Bich Hanh.Foto/Ist
Tran Thi Bich Hanh.Foto/Ist
Tran Thi Bich Hanh.Foto/Ist

Jakarta, 18/1 (BeritaJateng.net) – Lembaga swadaya masyarakat Setara Institute menilai eksekusi mati terhadap enam terpidana kasus narkoba menjadi catatan buruk pemajuan hak asasi manusia, khususnya hak hidup warga di awal masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Narkoba adalah musuh umat manusia, tapi kunci pemberantasannya adalah akuntabilitas kinerja aparat penegak hukum dan penghukuman yang tegas, membuat jera dan manusiawi,” kata Ketua Setara Institute Hendardi melalui pesan singkat yang diterima di Jakarta, Minggu.

Menurut Hendardi, yang patut menjadi catatan, betapa pun jahatnya pelaku kasus narkoba tetap tidak bisa menegasikan hak hidup pelaku.

“Berapapun terpidana mati dieksekusi, kalau aparat tidak serius memberantas, seperti disparitas perlakuan, buruknya manajemen lembaga pemasyarakatan dan lainnya, maka narkoba tetap akan jadi ancaman,” katanya.

Menurut lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang demokrasi dan perdamaian itu, pihaknya mendukung pemberantasan narkoba.

“Tapi tidak dengan mandat pada negara untuk mencabut nyawa warga,” katanya.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung melaksanakan eksekusi mati terhadap enam terpidana mati kasus narkoba.

Lima terpidana mati dieksekusi serempak di Nusa Kambangan, Namaona Denis (48), Warga Negara Malawi, Marco Archer Cardoso Moreira (53), WN Brasil, Daniel Enemuo alias Diarrassouba Mamadou (38), WN Nigeria, Ang Kiem Soei alias Kim Ho alias Ance Tahir (62), WN Belanda; Rani Andriani alias Melisa Aprilia, WN Indonesia.

Kemudian, seorang lain di Boyolali, Tran Thi Bich Hanh, (37), WN Vietnam. (Ant/BJ)