Home Ekbis Ekonomi Jateng 2016 Diprediksi Meningkat

Ekonomi Jateng 2016 Diprediksi Meningkat

Semarang, 17/12 (BeritaJateng.net) – Hingga akhir tahun 2015, angka kemiskinan di Jawa Tengah masih tinggi diangka 13,7 persen, namun pemerintah provinsi Jawa Tengah optimis menurun di tahun 2016. Keyakinan itu didasari dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah yang diprediksi meningkat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jateng, Urip Sihabudin dalam seminar ‘Prospek dan Tantangan Ekonomi Jawa Tengah 2016” yang digelar Forum Wartawan Pemprov & DPRD Jateng (FWPJT), Kamis (17/12) di Aula Lantai VII Bank Jateng Semarang.

Urip mengatakan, melambatnya ekonomi di Jawa Tengah karena UMKM yang jumlahnya mencapai 3 juta lebih masih terkendala dengan permodalan, kemasan, branding dan pemasaran yang masih lemah.

“Pemprov Jateng di tahun 2015 terus berusaha membantu para pelaku industri untuk meningkatkannya, untuk kemasan kami membantu mereka dengan memberikan mesin, kita juga membantu dari sisi branding dan pemasarannya,” tambah Urip.

Kemudian dari sisi pariwisata lanjut Urip, pihaknya juga mendorong supaya di Jawa Tengah memiliki pariwiata yang eksklusif. Dan saat ini pihaknya tengah mendorong Karimunjawa untuk dijadikan wisata eksklusif.

Selain itu, pihaknya juga mendorong untuk meningkatkan ketahanan pangan, pihaknya berusaha untuk tidak import kebutuhan. Saat ini, kebutuhan kedelai di Jateng mencapai 600 ribu ton, sementara dari petani baru mampu menghasilkan 130 ribu ton kedelai.

“Sehingga untuk sektor ini kami masih import untuk memenuhi kebutuhan. Kemudian kita juga mendorong usaha garam, saat ini garam yang bisa dihasilkan petani baru 200 ribu ton sementara kebutuhan garam di Jateng mencapai 600 ribu ton,” tambahnya.

Peningkatan ekonomi Jateng juga diprediksi oleh Kepala Divisi Bank Jateng, Minot Purwahono. Menurut Minot, ekonomi di Jateng tahun 2016 akan lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Karena meningkatnya suku bunga dari negara mitra dagang Indonesia khususnya Jateng, menyebabkan pengangguran menurun dan inflasi juga rendah.

“Secara nasional, Ekonomi nasional melambat sejak 2012, namun kami optimis di 2016 akan meningkat. Nilai tukar rupiah juga terjadi hampir di semua negara namun demikian Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara lain seperti Brazil, Myanmar, Malaysia dan inflasi juga terus menurun,” tambahnya.

Melambatnya ekonomi juga disebabkan karena konsumsi masyarakat kelas menengah yang cenderung masih menggunakan barang-barang import. Daya saing tertinggal dengan negara asia lainya masih urutan 34, permasalahan infrastruktur juga menjadi masalah masuknya investor,” ujarnya lagi.

Menurut Minot, pertumbuhan ekonomi Jateng tahun 2015 sebesar 5,0 – 5,4 persen, dan tahun 2014 mencapai 5,4 persen. Inflasi Jawa Tengah 2015 relatif terkendali, dan sampai November 2015 inflasi 1,73 persen sampai akhir tahun 2015 diperediksi inflasi sebesar 1,8 – 2,2 persen. Penyebab inflasi karena harga fluktuatif yakni di kelompok makanan (volatile food).

“Prospek ekonomi Jateng, kontribusi sektor utama seperti pengolahan (makanan, tpt, kayu) dan meningkatnya ekonomi negara mitra dagang, maka otomatis meningkatkan sektor di Jateng. Tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Jateng masih akan menghadapi tantangan seperti perekonomian Tiongkok yang melambat, ketidakpastian pasar keuangan global, gejolak nilai tukar dan stagnasi industri di Jateng. Industri pengolahan menyumbang 35 persen pertumbuhan ekonomi Jateng,” ujarnya lagi.

Ekonomi

Sementara itu pelaku usaha, Frans Kongi yang juga Ketua Apindo Jawa Tengah mengatakan, tahun 2015 pelaku usaha khawatir dan takut terjadi tragedi 1998 karena menurunnya nilai tukar rupiah. Selain itu banyaknya demo dari buruh yang menuntut UMK.

“Meski demikian perusahaan di Jateng masih kondusif. Banyaknya PHK juga meningkatkan pengangguran. Kami dari Apindo usul kepada pemerintah, pengangguran diberi pinjaman dengan bunga yang sangat rendah untuk menurunkan pengangguran,” ujar Frans.

Frans juga mengaku heran, meski banyak pengangguran, perusahaan garmen dan tekstil kekurangan tenaga kerja mencapai ribuan, sementara perusahaan non garmen dan tekstil banyak melakukan PHK.

Senada dengan itu, Dekan FE USM Dr, Ir, Hj, Kesi Widjajanti, SE, MM mengatakan, di tahun 2015, sektor ekonomi melemah di semua sektor, namun untuk di Jawa Tengah tetap optimis karena mempunyai keunggulan UMKM.

“Secara nasional, penduduk Indonesia terbesar urutan ke-4 dunia namun yang bisa belanja masih sedikit dan mayoritas berusia 28 tahun. Hampir semua sektor menurun namun untuk usaha consumer good industri tetap bagus. Jadi usaha di bidang makanan masih tinggi dan akan tetap bagus,” ujar Kesi. (BJ)