Home News Update DPRD Jateng Minta Sekolah Lima Hari Dievaluasi

DPRD Jateng Minta Sekolah Lima Hari Dievaluasi

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi
Semarang, 19/9 (BeritaJateng.net) – Kalangan Anggota Komisi E DPRD Jateng Minta kepada eksekutif untuk melakukan evaluasi pelaksanaan sekolah lima hari yang sudah diujicobakan beberapa bulan terakhir. Evaluasi ini perlu dilakukan mengingat banyak keberatan dari orang tua murid yang disampaikan kepada anggota dewan.
“Banyak aduan yang masuk dari orang tua murid yang disampaikan ke  Komisi E. Mereka keberatan karena banyak kegiatan di luar sekolah yang biasa dilakukan tidak bisa berjalan seperti biasanya,” ungkap Anggota Komisi E Sri Kadarwati saat dihubungi Berita Jateng, Sabtu (19/9).
Menurut Kadarwati, beberapa kegiatan yang biasa dilakukan siswa pada sore hari sepulang sekolah antara lain mengaji, ekstra kurikuler dan bimbingan belajar atau les. Kegiatan tersebut tidak bisa lagi dilakukan mengingat siswa baru pulang dari sekolah paling cepat pukul 16.00 WIB.
“Mereka baru bisa pulang sampai rumah jam 17.00 bahkan tidak jarang sampai maghrib kalau yang jarak sekolahnya jauh,” jelasnya.
Hal yang paling mendasar yang juga menjadi sorotan Kadarwati adalah kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran. Menurut politisi PDI Perjuangan ini, pada jam 13.00 sampai jam 15.00 merupakan titik lelah pada anak sekolah sehingga pada jam jam tersebut anak cenderung mengantuk dan tidak efektif menerima pelajaran.
“Ibarat botol kalau sudah penuh diisi air, maka air yang diisikan terus menerus akan tumpah dan tidak ada yang bisa masuk,” katanya.
Selain itu, tambah Kadarwati, banyak anak sekolah pada siang sampai sore yang membantu orang tuanya mencari nafkah. Dengan sistem lima hari sekolah, mereka tidak bisa lagi membantu orang tuanya.
“Banyak sekali orang tua yang tidak mampu secara ekonomi sehingga tidak bisa memberi bekal untuk makan siang,” jelasnya.
Oleh karena itu, menurut Kadarwati, Pemprov Jateng tidak boleh memaksakan pelaksanaan sekolah lima hari yang saat ini diujicobakan kepada sekolah sekolah di tingkat SLTP dan SLTA. Berdasarkam pantauan yang dilakukan pihaknya, program sekolah lima hari tidak cocok dilakukan di Jawa Tengah. (BJ13)