Home Headline Dongeng, Rangsang Minat Baca Pada Anak

Dongeng, Rangsang Minat Baca Pada Anak

585

SEMARANG,13/2 (Beritajateng.net) – Budaya mendongeng saat ini sudah jarang kita temui di masyarakat, terutama orang tua yang mendongeng untuk anaknya. Padahal anak yang sering mendengarkan dongeng minat bacanya akan semakin tinggi.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Nida Khaula Anbar, mahasiswa KKN di Desa Wiru Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang saat menyampaikan materi pentingnya mendongeng bagi pertumbuhan anak pada Rapat PKK Desa Wiru.

“Selain bisa merangsang minat baca, dongeng juga memiliki manfaat yang tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan anak,” ungkapnya kepada Beritajateng.net, Kamis (13/2).

Nida yang saat ini menempuh pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia Undip menjelaskan, Beberapa sisi positif dongeng diantaranya adalah merangsang perkembangan kognitif . Untuk memperluas pengalaman objek anak maka saat mendongeng disarankan menggunakan alat peraga, kemudian merangsang perkembangan sosial-emosional, menambah pengalaman budaya lain, mempererat ikatan anak dan orang tua. Karena saat mendongeng ada kedekatan secara intim serta tercipta komunikasi yang lebih efektif, dan merangsang minat baca anak karena ketika anak terbiasa dengan bacaan nantinya akan menjadi sebuah kebiasaan.

”Selain itu ada pula manfaat lain yakni memberikan efek relaksasi, melatih konsentrasi, meningkatkan keterampilan berbahasa, dan mengendalikan daya imajinasi,” bebernya.

Menurut Nida, manfaat-manfaat tersebut berpengaruh pada pertumbuhan anak ketika proses mendongeng dilakukan dengan konsisten. Dengan mendongeng nantinya tanpa sadar anak akan terbiasa dengan imajinasi, bahasa-bahasa, dan berbagai kisah yang membuatnya tertarik. Hal tersebut dapat memberikan ketertarikan yang lebih pada bacaan-bacaan. Walau dimulai pada bacaan ringan, tidak menutup kemungkinan anak akan semakin terbiasa dengan bacaan-bacaan seiring dengan pertumbuhannya.

“Dongeng adalah salah satu solusi yang mudah dilakukan untuk meningkatkan minat baca sejak kecil,” tegasnya.

Dipaparkan pula oleh Nida, bagaimana cara mendongeng yang asik, bagaimana mengatasi beberapa hal berkaitan dengan dongeng pada anak, serta praktik mendongeng untuk anak-anak. Peran orang tua terhadap tingkat keasyikan mendongeng di sini sangat besar.

“Maka dari itu ketika mendongeng ada baiknya orang tua paham apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh anaknya, hal ini nantinya dapat diselipkan dalam dongeng sebagai makna tersirat,” urainya.

Ketua PKK Desa Wiru Farida Nur Solikhah mengapresiasi paparan yang disampaikan Nida. Dia sangat kawatir dengan perkembangan teknologi komunikasi yang terjadi saat ini. Saat ini anak lebih suka bermain gadget daripada permainan tradisoonal yang ada. Bahkan hubungan sosial kemasyarakatan anak saat ini dinilai sangat kurang.

“Saya senang dengan paparan tadi. Jujur saya kawatir anak sekarang lebih suka bermain gawai dibanding bermain tradisional atau bersosialisasi dengan masyarakat di lingkungannya,” katanya.

Mahasiswa KKN Desa Wiru Aji Tresna (FPP/Peternakan), Firda Rizky Martasari (FIB/Ilmu Sejarah), Mikha Noviana (FKM/Kesehatan Masyarakat), M. Fariz Luthfi Siregar (FT/Teknik Mesin), Nida Khaula Anbar (FIB/Sastra Indonesia), Tjiong, Susilo Dinoto (FT/Teknik Geodesi).

(NK)