Home Headline Ditusuk Tombak Tewas di Rumah Sakit

Ditusuk Tombak Tewas di Rumah Sakit

image
Ilustrasi

Kudus, 5/1 (Beritajateng.net)- Akhir tahun 2014 di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan ditutup dengan peristiwa menyedihkan. Salah seorang warga Zamawi (50) anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Undaan Lor dan H Gufron (55) keduanya asal RT 01/ RW 04, mengalami luka akibat ditusuk mata tombak oleh tetangganya sendiri Hamim (32).

Kejadian yang menggemparkan warga Undaan Lor Gang 19 tersebut terjadi Rabu (31/12) sekitar pukul 15.00 WIB. Korban Zamawi mengalami 3 luka tusukan di punggung dan satu di ketiak kiri, sedangkan korban H Gufron menderita luka tusuk pada pantat sebelah kanan.

Karena luka yang dialami Zamawi cukup parah, saat itu juga korban dilarikan ke RSU Mardi Rahayu dan langsung dirawat di ruang ICU (Intensive Care Unit) sedangkan H Gufron hanya menjalani rawat jalan.      

Kapolsek Undaan AKP Suparji didampingi Kanit Reskrim Aiptu Edi HR dihubungiBeritajateng.net melalui sambungan telepon membenarkan adanya kejadian tersebut. Bahkan, akibat kejadian itu korban Zamawi meninggal dunia pada Minggu (4/1) sekitar pukul 16.00 WIB di RSU Mardi Rahayu.

”Salah satu korban akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan beberapa hari di rumah sakit,” katanya.

Sementara itu hasil penelusuran dilokasi kejadian menyebutkan, pelaku yang sudah ditetapkan menjadi tersangka orangnya dikenal mudah tersinggung atau temperamental. Sekitar setahun lalu, antara korban dan pelaku juga pernah ribut karena persoalan sama, yakni ketersinggungan.

Hanya saja, keributan yang terjadi saat itu berhasil didamaikan oleh pihak desa bekerjasama dengan aparat Polsek setempat. Tetapi, menjelang tutup tahun entah karena masih menyimpan dendam atau karena ketersinggungan persoalan lain, pelaku nekat melakukan penganiayaan yang berbuntut kematian.

Menurut salah seorang warga, ketersinggungan yang berbuntut penganiayaan tersebut dikarenakan pelaku tidak suka ibunya disapa Nyai oleh korban sedang ayahnya yang sudah meninggal disapa Yai. Menurut pelaku, sapaan kepada kedua orang tuanya seperti itu tidak tepat dan justru dirasakan sebagai ejekan.

Penuturan warga tersebut dibenarkan Kanit Reskrim Aiptu Edi HR. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan pelaku mengaku tersinggung dengan sapaan terhadap kedua orang tuanya yang dinilainya tidak tepat.

”Selain tersinggung soal sapaan kepada kedua orang tuanya, perbedaan ekonomi antara pelaku dengan korban juga menjadi salah satu pemicu kemarahan,” tambah Edi HR.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku dijerat pasal 351 KHUP tentang Penganiayaan ayat (2) dan (3) yang mengakibatkan kematian dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara. Sedangkan korban Zamawi Senin (5/1) pukul 11.00 WIB dimakamkan di pemakaman desa setempat. (BJ12)

Advertisements