Home Hukum dan Kriminal Disiapkan Perda Larangan Berburu Burung Hantu

Disiapkan Perda Larangan Berburu Burung Hantu

1917

burung-hantu

Pati, 26/3 (BeritaJateng.net) – Pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menyiapkan peraturan daerah tentang larangan berburu burung hantu sebagai musuh alami hama tikus yang selama ini menyerang tanaman padi petani.

“Sebetulnya, kami sudah siap menandatangani perda tersebut. Akan tetapi karena sanksinya belum memberikan efek jera perlu ada revisi,” kata Bupati Pati Haryanto di Pati, Kamis.

Oleh karena itu, dia meminta pembahasan soal perda tersebut, khususnya soal sanksi haru lebih fokus agar keberadaan predator hewan pengerat tersebut tidak punah.

Keberadaan burung hantu tersebut, kata dia, bertujuan untuk peningkatan produktivitas tanaman padi di Kabupaten Pati.

Apalagi, lanjut dia, dukungan Pemkab Pati terhadap pengembangbiakan burung hantu tersebut dimulai sejak 2012.

“Saat ini, kami mencanangkan program penangkaran burung hantu dengan biaya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD),” ujarnya.

Harapannya, kata dia, ketika burung hantu semakin berkembang biak bisa membantu petani mengurangi serangan hama tikus terhadap tanaman padi petani.

Selanjutnya, kata dia, muncul ide untuk mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) yang isinya melarang perburuan burung termasuk jenis burung hantu.

“Hal ini bukti keseriusan kami, aturan tentang burung hantu ini akan terus dikawal terlebih hasilnya sekarang bisa dirasakan para petani,” ujarnya.

Upaya lain meningkatkan produktivitas tanaman padi, yakni dengan memberikan bantuan mesin untuk menanam tanaman padi kepada kelompok tani di Kabupaten Pati.

Kehadiran mesin tanam padi atau “rice transplanter” tidak hanya berpotensi mendongkrak produktivitas, melainkan menjadi solusi atas kelangkaan tenaga tanam selama ini.

Alat pertanian modern tersebut juga bisa menekan biaya operasional yang selama ini ditanggung petani, terutama dalam hal membayar tenaga tanam.

Kabid Produksi Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pati Didik Eka Haribawa menambahkan, “rice transplanter” bisa menghemat waktu dan jumlah buruh tanam.

Untuk satu hektare sawah, kata dia, peralatan modern tersebut hanya membutuhkan waktu lima jam dengan dua petani yang bertugas mengoperasikan mesin dan menyiapkan benih.

“Berbeda ketika masih menggunakan tenaga manusia butuh waktu panjang dengan banyak pekerja,” ujarnya.

Harto, salah seorang petani mengaku, bersyukur mendapatkan bantuan alat tanam tanaman padi dari Pemkab Pati, meskipun penggunaannya digilir bersama gabungan kelompok tani mereka masing-masing.

(ant/BJT1)