Home News Update Dik Doang Pukau Pengunjung Santren Delik

Dik Doang Pukau Pengunjung Santren Delik

Dik Doang saat mengisi ceramah di Santren Delik Kota Semarang.
Dik Doang saat mengisi ceramah di Santren Delik Kota Semarang.
Dik Doang saat mengisi ceramah di Santren Delik Kota Semarang.

Semarang, 26/6 (BeritaJateng.net) –
Dik Doang, artis ibukota berhasil memukau pengunjung dalam kegiatan Ramadhan di Santren Delik Kota Semarang.

Rangkaian kegiatan Ramadhan yang berlangsung dari Kamis (25/6) hingga Jumat (26/6) dinihari tadi disambut antusias pengunjung, acara sendiri dimulai berbuka bersama, sholat tarawih berjamaah, sharing inspirasi dari tokoh hingga full time menjelang pagi. Dilanjutkan dengan shalat malam sampai sahur.

Dalam kesempatan tersebut, Dik Doank memaparkan tema Tobat Jangan Ngomong Doang. Ia mengkisahkan saat dirinya membangun Kandang Jurang Doang. Jatuh bangunnya dari awal hingga sukses sampai sekarang.

“Manfaat dengan adanya kajian seperti di Santren Delik ini, jelas untuk meningkatkan spiritual karena secara riil dahulu ada di dunia yang abu-abu kemudian menemukan titik spiritual. Peggy Melati Sukma, Nino Warisman dan Prie GS adalah salah satu contohnya, saat ini ada yang menjadi pendakwah dan sufi, tentu hal ini sangat bagus diteladani,” ujarnya.

Murni Nurcahyati, mahasiswa Unnes yang ikut dalam kegiatan itu mengatakan, sebelumnya telah mengikuti kegiatan Santren fun camp untuk anak SD di Santren Delik.

“Acaranya keren, seru dan berbobot. Anak SD diajarkan ibadah dan lebih dekat dengan alam. Sedangkan untuk kegiatan pada hari ini, bisa untuk menambah silaturahmi dan kenalan baru,” ungkapnya.

Untuk diketahui, Santren Delik muncul dari kegelisahan anak muda yang sedang galau. Diawali dengan pertemuan jamaah dengan sebuah titik spiritual dan ustadz Riyadh.

Ternyata pesan yang disampaikan oleh ustadz Riyadh pas dengan gaya anak-anak muda. Akhirnya, Jamaah sepakat membuat pengajian yang enak dan tidak biasa.

Jamaah memilih lokasi di cafeshop. Mereka menamai jamaah dengan sebutan tobaters. Di cafeshop tersebut mereka memulai kajian dari 5-6 orang.

Dalam satu minggu sekali, tobaters mengadakan kajian reguler. Sampai akhirnya sepakat untuk membuat tempat yang lebih besar. Kebetulan ada orang tua dari salah satu tobaters yang memiliki tanah di daerah Gunung Pati untuk diwakafkan.

Satu tahun silam berdirilah sebuah joglo yang dinamakan serambi tobat. Tobaters memiliki kegiatan di serambi tobat yang disebut dengan nongkrong tobat.

Siswo Nugroho yang kerap disapa Wowok yang juga ketua Tobaters menjelaskan, nongkrong tobat sebenarnya berisi pengajian. Namun mendengar kata ngaji seolah-olah produk jaman orang tua yang tidak kekinian. Orang kurang nyaman terhadap istilah pengajian khususnya anak muda.

Pesantren delik ini di datangi oleh anak-anak muda semua. Hampir setiap minggu anak muda Semarang hadir sekitar 300-400 orang. Di sini kata “santren” jauh dari sebagaimana yang orang tahu.

Bisa dikatakan Santren Delik merupakan santren kontemporer yang genrenya rock ‘n roll. Semua pengelola dan pengurus merupakan anak muda.

Penyebaran dakwah Santren Delik semuanya menggunakan media digital. Baik melalui youtube, twitter, instagram dan facebook.

“Delik” diambil dari bahasa Jawa yang artinya tersembunyi karena memang letak Santren Delik ada di tengah-tengah kebon jati di pinggiran kota Semarang. Selain itu secara makna delik artinya ngandel marang sang Khaliq (Percaya Sama Tuhan).

Kegiatan Santren Delik selama Ramadhan banyak mendatangkan artis. Didasari dari sebuah organisasi yang letaknya di pinggiran kota Semarang dan sasaran dakwah untuk memperluas jamaah.

Semakin banyak orang tahu, dengan harapan para fans dari artis yang didatangkan bisa menjadi tobaters tetap. Sehingga seminggu sekali bisa hadir mengikuti kajian di Santren Delik.

Santren Delik juga memiliki kegiatan “do jagongan”. Diambil dari kata berbahasa Jawa podho jagongan (saling berembuk). Ada di titik-titik keramaian seperti Simpanglima, tepatnya pedestrian masjid Baiturrahman. (Mg-1)