Home News Update Dialog Budaya, Tiga Paslon Adu Konsep dan Program Kebudayaan

Dialog Budaya, Tiga Paslon Adu Konsep dan Program Kebudayaan

347
IMG-20150812-WA0048
Tiga pasangan calon beradu konsep dan program kebudayaan dalam dialog budaya bertajuk ‘Membangun Bersama Kebudayaan Kota Semarang’ di TBRS, Rabu (12/8).

Semarang, 12/8 (BeritaJateng.net) – Tiga bakal calon wali kota Semarang beradu konsep dan program kebudayaan dalam ajang dialog budaya yang berlangsung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Dalam Dialog Budaya bertajuk ‘Membangun Bersama Kebudayaan Kota Semarang’, ketiga kandidat hadir, yakni Soemarmo Hadi Saputro, Sigit Ibnugroho Sarasprono, dan Hendrar Prihadi (Hendi).

Sigit Ibnugroho yang diusung Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Golkar berpasangan dengan Agus Sutyoso (SiBagus) mengawali dengan mengajak meneladani budaya luhur bangsa.

“Kita harus meneladani nilai-nilai luhur budaya dari leluhur. Membudayakan malu, membudayakan tidak korupsi, membudayakan tidak suap,” kata Ketua Prabowo Centre Semarang itu.

Mengenai budaya Kota Semarang, ia menilai di Kota Semarang terjadi akulturasi dari berbagai macam budaya dan suku bangsa, seperti Jawa, China, dan Arab yang membentuk kebudayaan.

Namun, kata dia, Semarang justru tidak memiliki ciri khas yang bisa diandalkan sebagai sebuah daerah, sebagaimana Solo dan Yogyakarta, melainkan justru cenderung sebagai “follower” (pengikut).

“Beda dengan Solo, dengan Yogyakarta. Semarang ini tidak punya ciri khas, namun justru menjadi ‘follower’, di sana apa ikut, di sini ikut. Ke depan, ciri khas ini harus dibangun,” katanya.

Kandidat lain, Hendi yang berpasangan dengan dengan Hevearita Gunaryanti Rahayu (Ita) diusung PDI Perjuangan, Nasdem, dan Demokrat mengatakan kunci membangun bangsa yang berbudaya adalah pendidikan.

“Pendidikan ini penting untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang hebat, berbudaya, dan bermartabat. Budaya warisan leluhur banyak, seperti gotong royong, dan sebagainya,” katanya.

Untuk membangun dan memajukan budaya, ia mengajak kalangan seniman dan budayawan terlibat aktif untuk mengembangkan unsur-unsur budaya lokal menjadi berbagai kegiatan di Kota Semarang.

Selama ini, kata mantan Wali Kota Semarang itu, Pemerintah Kota Semarang telah menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya, seperti pergelaran wayang kulit di 16 kecamatan secara bergiliran.

Sementara itu, Soemarmo yang berpasangan dengan Zuber Syafawi diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengatakan pentingnya generasi muda ditanamkan kebudayaan.

Banyak kebudayaan lokal asli Semarang, seperti Warak Ngendog yang harus dilestarikan, kata dia, makanya penting untuk menanamkan budaya sejak dini, antara lain melalui pelatihan terhadap anak-anak.

Selain itu, kata dia, pemilihan kepala daerah menjadi salah satu pembuktian masyarakat yang berbudaya dan bermartabat, seperti tidak saling menjelekkan, tidak saling memfitnah, apalagi sampai terpecah.

“Pilkada ini jangan menjadikan perpecahan di masyarakat. Tidak saling memfitnah, tidak saling mengejek, itu membuktikan sebagai masyarakat yang berbudaya dan bermartabat,” pungkas Soemarmo. (Bj05)