Home DPRD Kota Semarang Dewan: Tak Ada SKTM Palsu, Hanya Tidak Sesuai Prosedur

Dewan: Tak Ada SKTM Palsu, Hanya Tidak Sesuai Prosedur

1156
0
Dyah Ratna Harimurti Ketua PAC PDIP Pedurungan Semarang
       Semarang, 10/7 (BeritaJateng.net) – Kisruh Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang digunakan untuk mendaftarkan sekolah terutama sekolah negeri baik di jenjang SD,  SMP dan SMA/SMK pada proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) ditanggapi oleh anggota dewan kota Semarang dari Komisi D, Dyah Ratna Harimurti.
        Menurut, Detty sapaan akrab Dyah Ratna bahwa permasalahan SKTM sebenarnya tidak ada yang “abal-abal” atau palsu karena belum ada lurah atau camat yang protes.
        Namun menurutnya SKTM yang digunakan untuk menjadi salah-satu persyaratan agar bisa mendapatkan nilai tambah saat mendaftarkan siswa ke sekolah negeri sebenarnya harus dipastikan oleh lurah atau camat bahwa penerima SKTM  benar-benar warga kurang mampu.
        Ia menambahkan, untuk mengurus SKTM seharusnya sesuai prosedur dengan cara memperoleh persetujuan dari RT, RW baru ke kelurahan dan kecamatan setempat.  Dan bahkan, lanjutnya sebelum dikeluarkan surat keterangan miskin tersebut yang bersangkutan juga harus mengisi formulir yang menunjukkan tentang sebenarnya kondisi keluarga siswa tersebut.
       “Menurut saya ada beberapa prosedur yang dilewati. Harusnya untuk sampai mendapatkan SKTM, harus ada formulir yang diisi, ada survei atau kunjungan ke rumah yang bersangkutan, namun prosedur itu  dilewati sehingga muncul banyak permasalahan seperti ini. Karena ada prosedur yang dilewati itu,” ujar Politisi PDI Perjuangan.
        Untuk itu, Detty menghimbau kepada masyarakat, terutama untuk pihak-pihak yang berwenang yang mengeluarkan SKTM untuk tetap mengikuti aturan dan prosedur yang ada.
        “Sebenarnya tahun lalu sudah baik. Tapi tahun ini muncul lagi. Saya heran, karena tahun sebelumnya,  lurah dan camat sudah dibrieffing tidak berani untuk tidak mengeluarkan SKTM,  khususnya untuk pendidikan,” terangnya.
      Diharapkan tahun depan tidak terjadi lagi permasalahan serupa.  “Harapan kami siswa miskin dapat diterima di sekolah negeri supaya dapat tetap melanjutkan sekolah. Karena kalo siswa mampu tidak masuk di sekolah negeri masih bisa melanjutkan ke sekolah swasta, “pungkasnya.  (El)