Home DPRD Kota Semarang Dewan: Pengrajin Batik Harus Promosi Lewat Internet 

Dewan: Pengrajin Batik Harus Promosi Lewat Internet 

128
0
Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang Agus Riyanto Slamet.
             Semarang, 2/10 (BeritaJateng.net) – Di tengah tekanan global,  Batik Semarangan perlu menjadi perhatian agar terus lestari.  Agus Riyanto Slamet Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang mengajak mastah-mastah Internet Marketing untuk ikut memasarkan dan menjual batik Semarangan melalui pasar digital.  Hal ini disampaikan bertepatan dengan hari batik hari ini 2 Oktober 2017.
              Agus mengungkapkan pasar digital cukup maju pesat,  namun sepertinya produk batik belum cukup banyak,  Agus mengajak anak-anak muda para marketer di dunia online untuk ikut memasarkan batik.
              “Ini masanya pasar digital, saya ajak ini para marketer,  mastah-mastah berjualan batik semarangan,  saya lihat masih jarang yang jual batik, saya tantang kehebatan internet marketingnya untuk melestarikan budaya bangsa,” ungkap Agus.
              Pemasaran Batik menurut Agus perlu ada trobosan baru menyesuaikan perkembangan zaman, penjualan online dilihat punya prospek bagus. Karena penjualan online sangat tumbuh pesat. Untuk itu Agus juga mengingatkan perlunya perhatian pemerintah.
               “Sepertinya memang cara memasarkan batik semarangan juga perlu ada perkembangan,  selain jualan off line,  pemasar batik juga perlu dikenalkan dengan pemasaran online,” terangnya
             Selain itu,  Agus menekankan, Batik perlu dilindungi agar tidak menjadi produk langka.  Agus mengungkapkan bentuk perlindungan terhadap pengrajin batik ini mungkin bisa di wujudkan dalam bentu Perda Batik.
               “Batik harus dilindungi karena warisan budaya, dari sisi produksi bahkan sampai pada pemasaran,  batik Semarangan perlu diberikan kemudahan-kemudahan agar mendapatkan pasar, sehingga mungkin terobosannya perlu ada Perda,  meskipun perlu di kaji kebutuhannya,” terang agus.
              Agus menjelaskan,  pengrajin batik perlu dipermudah dalam produksi, misalnya dengan adanya insentif atau subsidi, juga perlu pelatihan agar produk batik juga bisa menyesuaikan dengan perubahan zaman.
              Dari sisi pemasaran,  perlu juga di buatkan pasar dimana batik dapat di kenalkan dengan konsumen,  misalnya dengan mewajibkan mall dan toko fashion yang besar memberikan space untuk produk batik semarangan.
                  “Dari sisi produksi perlu insentif agar pengrajin terus giat berkarya,  dari sisi pemasaran, bisa jadi jika ada perda,  Mall bisa kita wajibkan ada space counter batik semarangan, sehingga produk batik semarangan bisa di kenal,” terang Agus politisi PKS ini.
                Untuk promosi batik,  Agus mengapresiasi pemerintah secara konsisten mewajibkan PNS mengenakan batik.  Namun demikian perlu ada trobosan baru agar batik semarangan lebih di kenal hingga pasar Internasional.  (Bj/El)