Home Headline Dewan Nilai Pengelolaan Maerokoco Tidak Serius

Dewan Nilai Pengelolaan Maerokoco Tidak Serius

1792

SEMARANG, 30/11 (Beritajateng.net) – Kalangan Anggota Komisi C DPRD Jateng menilai pengelolaan Puri Maerokoco tidak serius. Hal ini disebabkan banyak fasilitas dibiarkan rusak sehingga fungsi Maerokoco sebagai miniatur Jawa Tengah tidak berjalan maksimal.

“Banyak anjungan kabupaten/kota yang kondisinya rusak tidak dilakukan perbaikan,” ungkap Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto Di Gedung Berlian, Rabu (30/11).

Politisi PDI perjuangan yang akrab disapa Bogi ini mencontohkan anjungan Kabupaten Temanggung yang terbakar pada tahun 2014 yang lalu sampai sekarang dibiarkan teronggok tanpa perbaikan baik oleh Pemkab Temanggung maupun oleh pengelola Maerokoco.

Selain itu, kondisi Lingkungan Puri Maerokoco yang saat ini berganti nama menjadi Grand Maerokoco terlihat kumuh. Bogi mempertanyakan kinerja bagian kebersihan lingkungan yang bertanggungjawab atas kondisi tersebut.

“Banyak got mampet, airnya sampai hitam dan berbau,” bebernya.

Lebih lanjut Bogi menceritakan, pihaknya beberapa waktu yang lalu melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke Maerokoco mengetahui langsung kondisi Lingkungan yang kumuh membuat pengunjung tidak nyaman, padahal saat ini pengunjung arena wisata keluarga ini cukup banyak terlebih pada hari Sabtu dan Minggu.

“Coba wartawan lihat sendiri, rumputnya saja tinggi tinggi, gotnya mampet, hitam dan bau,” katanya.

Bogi menambahkan, selain kondisi lingkungan yang tidak terawat, fungsi Maerokoco sebagai miniatur Jawa Tengah tidak terlihat sama sekali. Harusnya pengelola secara rutin mengadakan pentas Kesenian, Kebudayaan atau kegiatan lainnya bekerjasama dengan pemkab/pemkot se Jawa Tengah.

“Ini miniatur Jateng, harusnya bisa seperti Taman Mini di Jakarta yang rutin ada kegiatan dari provinsi provinsi di Indonesia,” bebernya.

Senada dengan Bogi, Anggota Komisi C Muhammad Rodhi mengatakan,
saat menuju ke anjungan Kabupaten Semarang lantai proselin cukup kotor. Kemudian, di anjungan Kota Salatiga, papan namanya lepas, lampu taman lepas.

Di anjungan Kabupaten Boyolali, suasananya tampak sepi. Di dalam bangunan rumah khas Boyolali itu kosong. Situasi di anjungan Kota Tegal juga tidak jauh berbeda, tampak senyap.

Kolam di depan anjungan Kota Tegal juga mangkrak hingga ditumbuhi lumut. Terlihat kumuh. Di anjungan Kota Magelang, papan namanya sudah rompal. Catnya juga sudah memudar.

Masih banyaknya anjungan yang tidak terurus menjadi pemandangan yang kurang bagus. Para pengujung mendorong kepada pemerintah untuk merawat anjungan dan miniatur rumah adat dari 35 kabupaten/kota di Jateng tersebut.

”Sayang kalau dibiarkan mangkrak. Apalagi kalau ada pengunjung yang pengin menginap di sini, pengin menikmati pemandangan malam jadi kecewa,” ujarnya.

(NK)