Home DPRD Kota Semarang Dewan Nilai Pengelolaan Bonbin Mangkang Kurang Optimal

Dewan Nilai Pengelolaan Bonbin Mangkang Kurang Optimal

Walikota Semarang Hendrar Prihadi saat mengunjungi kebun binatang (BONBIN) Mangkang Semarang.

Semarang, 25/5 (BeritaJateng.net) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang mengakui pengelolaan Taman Margasatwa Mangkang atau biasa disebut dengan Bonbin Mangkang selama ini kurang optimal.

“Mau tukar menukar satwa saja, misalnya, tidak bisa. Aturannya memang tidak boleh,” kata Ketua Panitia Khusus Raperda Penyertaan Modal DPRD Kota Semarang Joko Susilo di Semarang, Kamis.

Hal tersebut diungkapkan politikus PDI Perjuangan itu saat memimpin rombongan tim Pansus Raperda Penyertaan Modal yang meninjau Bonbin Mangkang untuk perumusan draf raperda.

Menurut Joko, status Bonbin Mangkang yang masih sebagai unit pelaksana teknis dinas (UPTD) memang membuat pengembangan yang dilakukan menjadi susah karena ada aturan yang membatasinya.

“Ya, kalau masih `pelat merah`, ya sudah. Beda nanti kalau sudah di bawah `holding company`, pengelolaannya kami yakin akan lebih baik. Ini masih dibahas penyertaan modalnya,” katanya.

Yang jelas, kata dia, pihaknya menginginkan Semarang memiliki taman margasatwa yang sekelas dengan yang ada di daerah-daerah lainnya, seperti Jatim Park sehingga jadi daya tarik tersendiri.

Sementara itu, Kepala UPTD Bonbin Mangkang Kusyanto mengatakan dari sisi pendapatan sebenarnya terjadi kenaikan jumlah pengunjung dari tahun ke tahun yang datang ke objek wisata itu.

“Ya, sekarang wisata kan telah menjadi kebutuhan. Hanya saja, tiketnya masih cukup murah, yakni Rp5.000/orang. Sekalipun pengunjungnya banyak, secara nilai rupiah kan belum bisa tinggi,” katanya.

Namun, kata dia, pada masa liburan, seperti Lebaran ada kenaikan harga tiket, seperti Lebaran tahun lalu yang tiketnya menjadi Rp7.500/orang, sementara tahun ini rencananya Rp10 ribu/orang.

Di dalam Bonbin Mangkang, kata dia, ada pula wahana-wahana permainan yang ditarik tiket tersendiri, seperti kereta mini sebesar Rp3.000/orang, kemudian perahu juga Rp3.000/orang.

Selain itu, Kusyanto mengakui selama ini tidak bisa melakukan pengembangan karena terkendala aturan, seperti tukar-menukar satwa dengan kebun binatang lain untuk memperkaya koleksi satwa.

Ia menyebutkan beberapa jenis satwa di Bonbin Mangkang ada yang sudah over-populasi, seperti harimau yang kini sudah berjumlah 10 ekor, sementara kebutuhan pakannya juga relatif mahal.

“Kalau dilihat kebutuhan, sebenarnya, 4-5 ekor harimau saja sudah cukup. Kalau bisa, kami tukar dengan satwa jenis lain. Namun, kan harus memiliki izin lembaga konservasi (LK),” pungkasnya. (El)