Home Headline Dewan Nilai Pengelola Kebun Benih Kalinyamat Tidak Transparan

Dewan Nilai Pengelola Kebun Benih Kalinyamat Tidak Transparan

JEPARA, 5/9 (Beritajateng.net) – Pengelola Kebun Benih Palawija Kalinyamat Jepara dinilai tidak transparan terkait dengan hasil produksi kebun yang menghasilkan benih padi, padi konsumsi dan palawija.

Anggota Komisi C DPRD Jateng Sarwono mengungkapkan, selama ini produksi kebun benih Kalinyamat yang terletak di Jl. Raya Kudus-Jepara Kalinyamat ini adalah benih padi, padi siap konsumsi dan palawija. Namun yang dilaporkan hanya benih dan palawija saja.

“Kalau benih sudah ok, dilaporkan persediaannya di gudang jumlahnya ada 48 ton. Tapi padi yang tidak dijadikan benih itu jumlahnya berapa dan larinya kemana. Kalau dijual uangnya kemana?,” ungkapnya saat mengikuti kunjungan kerja Komisi C DPRD Jateng di Kebun Benih Palawija Kalinyamat Jepara, Rabu (7/9).

Sarwono menambahkan, jika dirata rata setiap hektar tanah mampu menghasilkan padi sebanyak 7 ton dan berdasar pengakuan pengelola setiap hektar yang dijadikan benih sebanyak 3,5 ton, maka hasil penjualan padi dan benih dari luas lahan 11 hektar yang ditanami dari total 14 hektar luas keseluruhan lahan, maka dia yakin hasilnya cukup untuk menyetorkan PAD sesuai target yang dibebankan.

“Kalau kondisinya seperti ini ya jangan salahkan kalau kami kritis. Tetapi kalau pengelola bisa transparan, laporan dan barangnya diperinci, benihnya ada di gudang A padi ada di gudang B, terjual sekian sisanya sekian, pasti wajah Ketua Komisi C akan cerah tidak marah marah terus,” ungkapnya sambil tertawa.

Ketua Komisi C Asfirla Harisanto yang disinggung Sarwonopun angkat bicara, kepada pengelola yang didampingi Kepala Balai Benih dan Hortikultura Wilayah Semarang Rini Budiningsih mengungkapkan, Kebun Benih Kalinyamat pada tahun 2018 mendapat modal produksi sebesar Rp. 256 juta namun hasil yang diperoleh baru Rp. 127 juta. Kalaubbisa sama dengan tahun sebelumnya juga hanya Rp. 208 juta.

“Kuwi jenenge rugi. Suwe suwe iso bangrut pemerintahane,” ungkapnya dengan Bahasa Jawa.

Asfirla memberi solusi agar kinerja pengelola Kebun Benih Palawija Kalinyamat bisa bagus, yakni dengan melakukan kerjasama dengan BUMD PT. SPJT dan CMJT dalam pengelolaan dan pemasaran hasil produksinya.

“Selain harus transparan, Dinas Pertanian dan Perkebunan melakukan kajian kerjasama dengan SPJT dan CMJT. BPPD saya minta proaktif menfasilitasi pembahasan ini,” pintanya.

Kebun Benih Palawija Kalinyamat pada tahun 2016 menyumbangkan PAD sebesar Rp. 402,044 juta dari target sebesar Rp. 232 juta. Sementara pada tahun 2017 ditargetkan memperoleh pendapatan sama dengan tahun sebelumnya sebesar Rp. 232 juta hanya mampu dipenuhi sebesar Rp. 208,718 juta. Sedangkan sampai dengan Bulan Agustus 2018 kebun ini baru memperoleh pendapatan sebesar Rp. 127,729 juta dari target sebesar Rp. 235 juta.

(NK)