Home Headline Dewan Minta Instansi Terkait Bahas Larangan Tongkang Masuk Perairan Karimunjawa

Dewan Minta Instansi Terkait Bahas Larangan Tongkang Masuk Perairan Karimunjawa

70
0
Foto : Istimewa

SEMARANG, 5/9 (Beritajateng.net) – Sekretaris Komisi B DPRD Jawa Tengah Messi Widyastuti minta instansi yang berwenang di Perairan Karimunjawa terutama Direktorat Hubungan Laut (Hubla) Kementerian Perhubungan, Balai Taman Nasional (BTN) Karimunjawa, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) provinsi Jateng dan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Prov Jateng untuk duduk bersama dan merumuskan larangan masuknya Tongkang di Perairan Karimunjawa.

Sebagaimana diketahui, kehadiran Tongkang di Perairan Karimunjawa menyebabkan kerusakan Terumbu Karang. Kapal kapal Tongkang yang diparkir terhempas gelombang dan menghantam Terumbu Karang.

“Ini sudah kejadian yang ke delapan kali, terus menerus terjadi. Ini gak boleh terjadi lagi,” tegasnya.

Deputi Indonesia Coralreef Action Network (I-Can), Amiruddin mengatakan, kasus hantaman Terumbu Karang yang terjadi pada Februari 2017 oleh kapal Tongkang milik PT Pancamerak Samudera Surabaya, PT Pancaran Samudera Transport Jakarta, PT Nasional Bina Buana Bintan, dan PT Peti Samudera Adi Jaya Samarinda pada Februari 2017, hingga kini belum ada penyelesaian kasus hukumnya, namun peristiwa serupa terus terjadi.

“Luasan yang rusak juga bertambah. Sebab mereka parkir (menyandarkan kapal tongkang) nggak pernah memerhatikan arah angin, dan di sana pun juga bukan tempatnya bersandar kapal,” katanya.

Amiruddin mengungkapkan, bahwa jika sebelumnya alasan kapal-kapal tongkang tersebut bersandar dengan alasan menghindari cuaca buruk, hal itu hanyalah dalih. Karena saat ini yang notabene cuaca cenderung baik pun tetap bersandar. “Soal cuaca itu dalih saja, kan sudah delapan kali,” ujarnya.

Menurutnya, ini sangat ironi. Mengingat kawasan kepulauan Karimunjawa merupakan konservasi terumbu karang dan sebagai destinasi wisata bahari andalan. Namun kenyataannya, saat ini kapal-kapal tongkang justru bersandar lebih masuk ke dalam kawasan kepulauan.

“Mereka sudah masuk lebih dalam ke arah karimun, padahal di dalamnya banyak terumbu karang. Kita saja yang bawa perahu bawa wisatawan saja, nggak berani masuk area (kawasan terumbu karang) karena takut kena karang. Tapi mereka langsung masuk saja sembarangan nabrak,” ungkapnya.

Saat ini, lanjutnya, masyarakat setempat sedang menahan amarah terkait perusakan alam itu. Ia berharap, pihak terkait segera bertindak cepat agar tidak terjadi konflik horizontal di Karimunjawa.

“Agar penduduk dengan pengusaha nggak terjadi perang horisontal, Balai Taman Nasional Karimunjawa, Syahbandar Karimunjawa, harus segera bertindak sebelum masyarakat angkat parang. Sebab di sana masyarakat sudah sangat emosi,” katanya.

Di sisi lain, rekomendasi dari kementerian lingkungan hidup yang sebelumnya telah menerjunkan tim untuk datang ke lokasi terumbu karang yang rusak pada Februari lalu, hingga kini belum ada. Selain itu, kata Amiruddin, kasus yang ditangani oleh Polda Jateng dinilai tak ada progresnya.

(NK)