Home Headline Dewan Apresiasi Operasional Feeder Trans Semarang

Dewan Apresiasi Operasional Feeder Trans Semarang

271
Dewan Apresiasi Operasional Feeder Trans Semarang

SEMARANG, 19/11 (BeritaJateng.net) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang mensupport rencana pendanaan untuk operasional Bus Rappid Transit atau BRT Trans Semarang. Untuk tahun 2020, BRT dapat alokasi anggaran sekitar Rp 203 miliar. Dari jumlah tersebut Rp 164 miliar diantaranya untuk biaya operasional 8 koridor BRT serta angkutan feeder.

Demikian disampaikan Suharsono saat menjadi salah satu narasumber pada kegiatan sosialisasi opeasional feeder 2 Trans Semarang di Hotel Dalu Semarang Selasa (19/11/2019).

Menurut Suharsono, kehadiran angkutan feeder  bisa lebih menjangkau masyarakat yang tinggal di daerah pemukiman atau bukan jalur utama.

“Feeder BRT ini bukti negara hadir dalam upaya menciptakan angkutan umum yang nyaman dan aman sehingga masyarakat tidak perlu lagi naik kendaraan pribadi,” kata Suharsono.

Saat ini banyak kawasan pemukiman baru bermunculan di sejumlah kawasan seperti Genuk, Ngalian, Tembalang, Banyumanik dan Gunungpati.

Kawasan pemukiman itu agak sulit dijangkau oleh armada BRT sehingga perlu angkutan pengumpang atau feeder. “Saya kira angkutan feeder ini sangat tepat karena telat di gerbang perumahan warga sudah ada angkutan yang nyaman, kami melihat BRT saat ini terus berbenah sehingga DPRD Kota tidak ragu menggelontorkan dana yang besar,” katanya.

Meski demikian Suharsono meminta agar BRT terus meningkatkan kualitas pelayanan. Salah satunya adalah pengemudi BRT tidak boleh lagi ada yang ugal-ugalan. “Sudah ada beberapa masukan ke kita, terkait pengemudi BRT, sudah kami sampai ke pimpinan BRT untuk ditindaklanjuti dalam forum rapat dengar pendapat beberapa waktu lalu,” katanya.

Sementara itu Kepala BLU BRT Kota Semarang Ade Bhakti Wirawan menambahkan operasional feeder BRT memang perlu dilakukan sosialisasi. Hal ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana respon masyarakat.

“Kami memang telah melakukan kajian sejak tahun 2017 lalu, tahun 2018 dimatangkan, mungkin ada perubahan sehingga butuh masukan dari masyarakat,” katanya.

Dalam kajian tersebut, salah satunya soal titik halte angkutan feeder. Saat ini sejumlah halte angkutan feeder sudah jadi seperti di Jalan Supriyadi, Jalan Gajah dan lain sebagainya. “Ada halte yang permanen, ada juga halte yang penandaan, ini komitmen kami dalam melayani masyarakat sehingga tercipta angkutan umum yang nyaman,” ujar Ade Bhakti. (El)