Home Headline Derita Di dan Puluhan Anak Korban Pencabulan di Wonogiri

Derita Di dan Puluhan Anak Korban Pencabulan di Wonogiri

1102

SEMARANG, 27/5 (Beritajateng.net) – Sebut saja Di. Dia hanya salah satu contoh sosok anak yang menderita
karena menjadi korban kekerasan seksual. selain Di, tercatat ada 20 anak lainnya juga tercatat mengalami hal yang sama dalam 6 bulan terakhir. Bahkan dua bulan terakhir tercatat 8 anak menjadi korban pencabulan di Kabupaten Wonogiri.

Di, Remaja 17 tahun tinggal di sebuah desa terpencil di Kabupaten Wonogiri. Banyak kemalangan yang dialami remaja ini di sepanjang perjalanan hidupnya. Sejak usia 2 bulan ia sudah menjadi anak piatu, karena sang ibu meninggal dunia. Praktis peran ibu lantas digantikan Sn (42) sang Ayah yang dibantu neneknya. Mereka tinggal di satu rumah kecil dan sederhana berdinding kayu di tengah hutan jati.

Gadis berperawakan kurus dan manis ini tumbuh dan besar di tangan sang Ayah. Dari kebutuhan mandi,ganti baju, makan dan bermain hanya ada Ayahnya yang siap menemani. Bahkan saat lelah melandapun, secara alamiah ia akan kembali ke gendongan sang Ayah.

Di lantas tumbuh dan besar menjadi remaja cantik. Parasnya sangat mirip sang Ayah. Wajah oval, kulit coklat, hidung mancung dan rambut ikal bergelombang. Hanya saja kehidupan tidak secantik parasnya. Di tumbuh tidak seceria teman-temannya. Selepas SD, badan mungilnya sudah harus akrab dengan terik matahari. Kulit coklatnya makin mengusam.

Tangan runcingnya pun menghitam karena Di terpaksa bekerja sebagai buruh tani untuk membantu kebutuhan keluarganya. Setiap hari, Di bekerja di sawah-sawah tetangganya. Dari menamam hingga memanen padi. Hasilnya dia bawa pulang ke rumah dan dinikmati bersama keluarganya.

Tak berapa lama Sn berfikir untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Dan merantau adalah jalan satu-satunya. Dia lantas bergegas menuju kota dan meninggalkan Di bersama nenekya di desa. Dari tahun ke tahun, Sn ayah Di merantau ke Lampung. Pada kepulangan berikutnya, kondisi ekonominya sudah membaik. Dia mampu memberikan apa saja kebutuhan Di putrinya. Dari baju,sepatu handphone dan segala kesukaan remaja pada umummnya.

Di yang lelah hidup menderita dibawah terik matahari,bermain dengan jerami akhirnya mendapatkan ganti.Tanpa perlu bersusah payah lagi, segala kebutuhannya kini terpenuhi. Sang Ayah jadi senang memanjakan Di. Dan malangnya, Di menganggap segala bentuk kebaikan sang Ayah adalah kemurahan hati bukan kewajiban orang tua.

Anggapan yang keliru dari Di justru dimanfaatkan Ayahnya. Disinilah awal pencabulan Ayah kandung terhadap anak kandung bermula. Kasus pencabulan tentu bukan soal nafsu semata, ini tentang posisi dimana pihak yang kuat menindaas yang lemah. Di yang lemah secara mental,pemikiran dan fisik dimanfaatkan Sn untuk memenuhi kebutuhan
bejatnya.

Akibatnya, remaja 17 tahun itu kini hamil 7 bulan karena kelakuan Ayah yang biadab! Perbuatan yang tidak manusiawi dan tidak pantas ini pun tercium oleh para tetangga. Dengan kesadaran akhirnya tetangga melaporkan perbuatan Sn ke polisi.

Kasat Reskrim Polres Wonogiri AKP Muhamad Kariri menyambut baik kesadaran masyarakat dalam melaporkan kasus ini. “Ini kasus yang sulit tanpa laporan warga,polisi akan sulit mengungkap. Kami mendorong warga sadar dan tanggap untuk terus melapor,” kata Kariri.

Angka pencabulan anak di Wonogiri bahkan terbilang tinggi. Kepolisian setempat mencatat dari awal tahun 2017 hingga Juni terdapat 21 kasus pelanggaran terhadap Undang-Undang Perlindungan Perempuan dan Anak. Dan kasus terbesar yang menjadi sorotan adalah kasus ayah kandung mencabuli anak kandung hingga hamil tersebut.

Sementara 20 kasus lain, diantaranya Ayah tiri bersama lima rekannya tega menggilir putrinya hingga depresi. Sebagian kasus lain, kekerasan seksual anak yang berlatar belakang asmara anak dibawah umur, kekerasan seksual dalam pacaran dan sejenisnya.

“Ada tiga faktor yang menyumbang tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak di Wonogiri. Pertama ekonomi, kedua peredaran miras dan ketiga faktor dampak teknologi penggunaan media sosial yang disalahgunakan,”tambah Kariri.

Dari faktor ekonomi, data menunjukan banyak orang tua yang merantau mencari penghidupan yang lebih baik ke kota besar. Sehingga anak-anak tidak mendapatkan pantaun dan pendampingan orang tua. Dari sisi miras, Peraturan Daerah yang mengatur peredaran miras masih disayangkan. Karena menerapkan denda yang ringan dan rendah. Pelaku
hanya dikenai maksimal kurungan 3 bulan dan denda 50 Ribu.

“Agak menyulitkan langkah kami memberantas miras, karena denda dan sanksi yang lemah. Kami akan berkoordinasi dengan Pemda terkait Perda ini. Perlu direvisi,” tegas Kariri.

Selain upaya ini,Satuan Reskrim Polres Wonogiri juga aktif memberikan sosiasialisasi tentang UU Perlindungan Anak dan Perempuan. Sasarannya masyarakat umum dan pelajar.

“Kami juga menggunakan tokoh masyarakat untuk menyampaikan pesan lebih tepat kepada masyarakat tentang sanksi dan ancaman yang berlaku pada UU PPA,” jelas Kariri lagi.

Dan untuk kasus yang banyak mendapat sorotan, Polres Wonogiri telah menerapkan ancaman hukuman maksimal. Sn dijerat UU no 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hukuman bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara serta denda minimal sebesar Rp.300 juta.

(Shin/NK)