Home Headline Demi Keamanan, Festival BKB 2018 Tanpa Penerbangan Lampion

Demi Keamanan, Festival BKB 2018 Tanpa Penerbangan Lampion

582
0
Kepala Disbudpar kota Semarang Masdiana Safitri (Baju putih) dan Kepala Dinkop UMKM Kota Semarang Lithani.

Semarang, 8/5 (BeritaJateng.net) – Festival Banjir Kanal Barat (BKB) yang menjadi agenda rutin Kota Semarang memperingati hari jadinya pada tahun ini bakal digelar tanpa penerbangan lampion ke udara.

“Yang berbeda dari tahun lalu. Kalau dulu ada melepas lampion (ke udara, red.), sementara kali ini tidak ada,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Masdiana Safitri di Semarang, Selasa.

Menurut dia, penerbangan lampion ditiadakan karena mempertimbangkan faktor keamanan menyesuaikan jam penerbangan pesawat terakhir di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang.

Kalau dulu, kata dia, penerbangan pesawat terakhir yang tiba di Bandara Ahmad Yani Semarang pukul 19.00 WIB sehingga selepas itu bisa dilakukan penerbangan lampion sebagaimana Festival BKB biasanya.

“Sekarang ini, (pesawat, red.) dari Jakarta pukul 21.30 WIB sehingga paling enggak pukul 22.30 WIB atau jam setengah 11 malam baru sampai Semarang. Pukul 11 malam baru bisa menerbangkan lampion,” katanya.

Akan tetapi, kata dia, penerbangan lampion juga memerlukan kehati-hatian karena lokasi penerbangan lampion di Sungai BKB dekat dengan bandara yang dikhawatirkan bisa nyangkut di hanggarnya.

“Makanya, kami ganti dengan pelepasan lampion air atau pertunjukan ‘water lantern’ di Sungai BKB Semarang. Kami siapkan setidaknya 2.000 lampion atau lentera air setiap malam,” katanya.

Untuk penyelenggaraan Festival BKB 2018, kata dia, berlangsung mulai 11-13 Mei 2018 yang akan berkolaborasi dengan ajang pameran “Semarang Introducing Market”, sebagaimana Festival BKB sebelumnya.

Mengenai antisipasi sampah dan kotoran dari lampion yang dikhawatirkan mengotori sungai, Masdiana mengatakan sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang.

“Itu sudah kami antisipasi. Jadi, nanti ada tim yang akan mencegah dan mengambili sampah di muara sungai. Kami sudah berkoordinasi dengan DLH dan BPBD Kota Semarang,” katanya.

Berkaitan dengan kekhawatiran kurangnya antusias masyarakat karena Festival BKB diidentikkan dengan penerbangan lampion ke udara, Masdiana tetap optimistis animo masyarakat tidak akan berkurang.

“Adanya perubahan lampion tidak lagi diterbangkan ini tidak berpengaruh. Meriah tidaknya acara kan terlihat dari bagaimana acara dikemas secara baik yang selama ini belum pernah ada,” katanya.

Selain itu, kata dia, Festival BKB sebenarnya intinya adalah lomba perahu hias yang kali ini bakal lebih meriah karena pelaksanaannya digeser ke utara, yakni di kawasan Madukoro Semarang.

“Biasanya, kan sepanjang aliran Sungai BKB di kawasan Salaman Mloyo. Tetapi, di situ dangkal sehingga digeser lebih ke muara. Ada 36 tim yang ikut lomba perahu hias,” ungkapnya. (El)