Home Ekbis Davos, Permen Legenda yang Tetap ‘Semriwing’  

Davos, Permen Legenda yang Tetap ‘Semriwing’  

117
0
Produksi permen Davos di PT Slamet Langgeng di Jalan Ahmad Yani 67 Kelurahan Kandanggampang Purbalingga. Perusahaan Davos yang berdiri tahun 1931, kini dikelola oleh generasi ketiga.
         Purbalingga, 8/11 (BeritaJateng.net) – Nama permen ‘Davos’ sudah banyak dikenal di masyarakat Indonesia. Permen yang diproduksi dari sebuah pabrik tua peninggalan jaman Belanda di Kelurahan Kandanggampang, Kecamatan/Kabupaten Purbalingga ini sudah sangat melegenda. Bahkan, permen yang kini dikelola oleh generasi ketiga almarhum Siem Kie Djian, mampu menempus Belanda. Nama Davos sejatinya diambil dari salah satu kota di bagian timur negara Swiss. Kota itu dikenal beriklim dingin dan sejuk, seperti sensasi rasa permen Davos yang semriwing.
            “Kami tidak pernah mengekspor permen Davos ke negara manapun, namun ternyata beberapa rekan menginformasikan jika Davos juga ada di Belanda dan Malaysia,” kata Manajer Produksi PT Slamet Langgeng, Wiwi Haryanto.
            Wiwi menyebut, banyak keluarga di Belanda yang merupakan keturunan veteran perang di Indonesia menyukai permen Davos. Mereka bisa saja memesan permen lewat kerabat di Indonesia, atau ketika datang ke Indonesia, membelinya dalam jumlah banyak untuk oleh-oleh. “Rombongan tamu dari Belanda, juga sering datang ke pabrik kami. Paling tidak dua tahun sekali, mereka datang untuk sekedar bernostalgia. Kakek mereka konon pernah bertugas di Indonesia sebagai tentara,” kata Wiwi Haryanto.
            Pabrik permen Davos didirikan almarhum Siem Kie Djian pada 28 Desember 1931. Pasang surutnya perusahaan permen Davos itu juga terjadi sejak mulai dirintis. Nama Slamet Langgeng diambil karena kota Purbalingga berada di kaki gunung Slamet, dan Langgeng berarti abadi. Pada awalnya perusahaan ini merupakan suatu perusahaan kecil dengan ruang kerja yang kecil pula. Mesin pencetak permen juga sangat terbatas jumlahnya.
Produksi permen Davos di PT Slamet Langgeng di Jalan Ahmad Yani 67 Kelurahan Kandanggampang Purbalingga. Perusahaan Davos yang berdiri tahun 1931, kini dikelola oleh generasi ketiga.

“Awalnya, permen yang diproduksi dengan nama Davos dan Kresno.  Kresno merupakan tokoh wayang yang saat itu seni wayang diidolakan masyarakat,” tutur Wiwi Haryanto.

            Dengan semakin berkembangnya perusahaan, Slamet Langgeng mulai 20 Maret tahun 1933 memproduksi minuman Limun dengan merk dagang ‘Slamet’. Kemudian pada 20 Pebruari 1937, perusahaan menambah produksi biskuit juga dengan merk ‘Slamet’.  Pada tahun 1942, perusahaan terkena dampak masa revolusi dan mengalami kemerosotan, bahkan macet. Setelah berakhirnya revolusi, perusahaan kemudian dirintis kembali oleh Siem Kie Djian yang dibantu Gunawan Budihardjo, Tedjo Harsono dan Budi Winarno.
            Setelah perusahaan berkembang semakin baik, perusahaan akhirnya menjadi bentuk perusahaan comanditer atau CV pada tahun 1959.  Selanjutnya dari CV pada 31 Maret 1961 berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) dengan nama PT Purbasari & CO. Namun, nama Purbasari ditolah oleh Menteri Kehakiman sehingga berubah menjadi PT Slamet Langgeng & CO mulai 29 September 1961 hingga sekarang.
            “Saat itu, perusahaan memproduksi permen dengan beberapa merk, Davos, Kresno, Alpina dan Davos Lux. Selain itu juga biskuit dan limun. Namun, produksi biskuit dan limun dengan merk dagang Slamet dihentikan pada tahun 1973 karena kesulitan pemasaran,” kata Wiwi Haryanto.
Produksi permen Davos di PT Slamet Langgeng di Jalan Ahmad Yani 67 Kelurahan Kandanggampang Purbalingga. Perusahaan Davos yang berdiri tahun 1931, kini dikelola oleh generasi ketiga.

Pada tahun 1961 – 1967 perusahaan dijalankan oleh anak ketiga Siem Kie Djian yang bernama Siem Tjong An. Karena Siem Tjong An melanjutkan studi ke Belanda, kendali perusahaan diserahkan kepada anak pertama Siem Kie Djian, yaitu Corie Simadibrata, dan suaminya, Toni Siswanto Hardi, hingga 1985.

            Sejak 1 Juni 1985, perusahaan ini dipimpin anak Corie dan Toni, yaitu Budi Handojo Hardi dan istrinya, Iing Tedjo. Budi kini berusia 72 tahun, sedangkan Iing 66 tahun. Mereka berdua menjadi pemilik sekaligus pemimpin pabrik Davos.
            Budi Handojo Hardi yang bertindak sebagai Direktur Utama dan Iing Tedjo sebagai Direktur Operasional, dengan dibantu sekitar 225 karyawan terus mempertahankan pabrik permen yang melegenda itu.
            Ling Tedjo mengungkapkan, para karyawan banyak yang bertahan bertahun-tahun karena pihak perusahaan memanusiakan karyawan. ”Jika ada masalah, selalu bisa dirembug sehingga hubungan kekeluargaan dengan karyawan tetap terjaga,” ucap Iing Tedjo. Iing menyebut mengadopsi semangat yang ditanamkan Siem Kie Djian, yakni membuka lebar pintu pabrik bagi warga setempat yang ingin bekerja.
Produksi permen Davos di PT Slamet Langgeng di Jalan Ahmad Yani 67 Kelurahan Kandanggampang Purbalingga. Perusahaan Davos yang berdiri tahun 1931, kini dikelola oleh generasi ketiga.

Selain mencukupi kebutuhan dasar serta hak karyawan, seperti gaji sesuai upah minimal kabupaten, jaminan kesehatan, dan tunjangan hari raya, menurut Iing, relasi kekeluargaan dengan karyawan juga dijalin dengan baik. Mereka biasa menggelar piknik bersama dua tahun sekali. Nasionalisme juga tetap dijaga. Mereka rutin menggelar syukuran, upacara bendera, atau minimal menyanyikan lagu kebangsaan setiap 17 Agustus.

             Prinsip lain dalam pengelolaan perusahaan yang dijaga betul oleh Iing dan Budi adalah berbagi. Jika ingin berbisnis, tidak boleh hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga mesti berbagi dengan karyawan. Dengan model pengelolaan seperti itu, suasana kerja jadi nyaman dan dinamis. Berkat kekompakan pemilik perusahaan dan karyawan, sampai sekarang permen Davos yang rasanya Semriwing masih bertahan.
98 Persen Gula Pasir Murni
           Manajer HRD PT Slamet Langgeng, Suci menambahkan, permen Davos menggunakan 98 persen gula pasir asli dan sisanya mentol serta zat pengikat. Perusahaan tidak memakai zat pengawet dan pemanis buatan sehingga permen bisa bertahan 1,5 tahun hingga 2 tahun. Davos yang menjadi market leader permen pada masing-masing brand kini memproduksi lima varian, masing-masing Davos Roll berupa tablet putih berukuran 22 milimeter yang dibungkus kertas warna biru tua serta Davos Lux yang berdiameter sekitar 12 milimeter dan dibungkus di dalam kotak warna hijau. Kemudian varian Davos Mini, Davos kantong klasik dan Davos kantong Mild.
            “Kami terus berinovasi untuk menyesuaikan selera konsumen yang beralih ke generasi muda. Sesuai dengan visi perusahaan yakni menjadi perusahaan industri permen yang dapat memenuhi konsumen dengan produk bermutu, berkualitas aman untuk dikonsumsi dan menjadi leader di industri makanan permen,” kata Suci. (yit/EL)

Produksi permen Davos di PT Slamet Langgeng di Jalan Ahmad Yani 67 Kelurahan Kandanggampang Purbalingga. Perusahaan Davos yang berdiri tahun 1931, kini dikelola oleh generasi ketiga.