Home Ekbis Dari Pekerja Pabrik, Slamet Berhasil Dirikan Home Industri Roti 

Dari Pekerja Pabrik, Slamet Berhasil Dirikan Home Industri Roti 

146
0
Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi saat melihat langsung home industri roti ‘Amanda’ di Desa Candiwulan, Kecamatan Kutasari.

Purbalingga, 14/2 (BeritaJateng.net) – Berbekal pengalaman sebagai pekerja pabrik roti di Jakarta, Slamet Adi (43) kini nekad membuka usaha sendiri. Meski berbagai tantangan harus dihadapi dan pasang surut usahanya tidak bisa dihindarkan, namun kini Slamet Adi warga Desa Candiwulan, Kecamatan Kutasari, Purbalingga, sudah mulai memetik hasil.

“Ketika saya bekerja di pabrik roti, saya sudah punya keinginan untuk membuat usaha sendiri. Saya tidak mau menjadi pekerja terus dengan gaji pas-pasan, bahkan tidak cukup ketika harus hidup terus di Jakarta,” tutur Slamet Adi mengkisahkan kepada Wakil Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi yang mengunjunginya.

Menurut Slamet Adi, dirinya keluar dari pabrik roti di Jakarta sekitar tahun 2012. Ia memilih pulang kampung ke Desa Candiwulan dan merintis usahanya. Ia mencoba membuat roti basah dan dijajakannya sendiri disekitar warung tempat tinggalnya.

“Saya mulai jualan keliling dengan sepeda motor. Roti saya kirim ke warung-warung di sekitar tempat tinggal saya. Kemudian saya mencoba memperluas pasaran ke tetangga desa,” katanya.

Jaringan pemasaran Slamet Adi ternyata semakin meluas hingga ke Purwokerto. Beberapa orang juga menawarkan diri untuk menjadi semacam agen. Mereka mengambil roti itu dan mengedropnya ke para pedagang lain.

home-industri-roti-candiwulan3“Saya akhirnya fokus membuat roti di rumah, sedang pemasaran sudah ada yang mengambil,” kata Slamet.

Dengan semakin banyaknya permintaan, akhirnya Slamet mempekerjakan para pemuda di sekitar rumahnya. Saat ini setidaknya sudah ada 12 karyawan dan semuanya berasal dari warga Candiwulan.

“Mereka berangkat dari nol untuk membuat roti, dan saya juga harus mengajarinya dengan tekun dan teliti. Jangan sampai roti yang dimasukan open nanti gosong atau tidak mengembang,” ujarnya.

Dalam satu hari, Slamet kini harus menghabiskan terigu sebanyak delapan kantong atau sekitar 150 kilogram. Roti yang diproduksi dengan nama dagang ‘Amanda’. Varian rasa rotinya ada roti tawar, roti rasa coklat, roti isi pisang, kacang hijau dan lainnya sesuai selera dan permintaan konsumen. Harga satu buah roti yang dikemas dalam plastik dan dibawa pedagang Rp 800,-.

Para reseller itu kemudian menjualnya kembali ke warung dengan harga  Rp 1.000,- dan biasanya warung menjual bervariasi antara Rp 1.200,- – Rp 1.300,-.

“Dalam satu hari, roti yang kami produksi habis dibawa oleh pengecer. Mereka sudah memiliki pelanggan warung sendiri di Purbalingga dan Purwokerto,” ujar Slamet.

Wakil Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi mengapresiasi ketekunan Slamet Adi yang mampu bangkit dan menjadi pengusaha roti. Wabup menilai Slamet Adi mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi para pemuda disekitarnya.

“Ternyata roti yang dijual di kota diproduksi dari pelosok desa seperti Candiwulan. Saya sangat mendukung usaha skala rumah tangga ini untuk terus dikembangkan,” kata Wabup Tiwi.

Wabup menyarankan, produksi roti ‘Amanda’ milik Slamet untuk terus dikembangkan. Kondisi higienis juga perlu terus ditingkatkan dengan membuat tempat roti yang tidak mudah terkena debu. “Dinas Koperasi dan UKM perlu terus  membina cara produksi dan pendampingan lainnya. Untuk pemasaran, mereka sudah memiliki jaringan tersendiri,” kata Wabup Tiwi. (yit/el)