Home Hiburan Dari Kreasi Makanan Hingga Film Indie

Dari Kreasi Makanan Hingga Film Indie

667

— Festival Komukino 2015

Semarang, 15/12 (BeritaJateng.net) – Mahasiswa dapat mengoptimalisasikan kemampuan diri mereka, karena saat ini mahasiswa tidak hanya mengandalkan pada ‘hard skill’, tetapi juga ‘soft skill’ yang siap dioptimalkan.

Bagaimana mereka berkreasi, berimajinasi dan punya skill komunikasi yang cukup bagus terutama bagi mahasiswa komunikasi. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dalam rangka menunjang pekerjaan mereka nantinya.

Hal inilah yang disampaikan oleh Dosen Komunikasi Pemasaran, Gita Aprinta di Auditorium Ir. Widjatmoko Universitas Semarang dalam Festival Komunikasi dan Inovasi (Komukino) 2015, Jalan Soekarno-Hatta, Selasa (15/12).

Menurutnya, mahasiswa harus bisa berkomunikasi dengan pihak eksternal kampus, sehingga mereka tidak hanya jago kandang.
www.richereducation.co.uk/wp-content/languages/new/college-paper-writing-services.html

Mahasiswa harus bisa mengenali sponsor dan menggandeng kerjasama dengan komunitas-komunitas yang ada di Semarang.

“Dengan begitu mahaiswa tahu bahwa ternyata banyak komunitas yang bisa diajak kerjasama,” terang Gita saat menjadi pembicara dalam acara bertajuk ‘Youth Generation’ ini.

Selain itu, Gita juga menekankan mahasiswa juga dituntut untuk membuat produk makanan sendiri, bisa memasarkannya, menjual dengan target tertentu dan mempublikasikannya dengan cara-cara marketing komunikasi yang sudah diajarkan di kampus.

“Dengan melakukan re-branding dalam mengkreasikan makanan olahan sendiri. Mahasiswa bisa mempadu padankan komunikasi dan gaya enterpreneur mereka,” ujar Dosen Komunikasi Pemasaran USM ini.

Gita berharap mahasiswa jangan berhenti pada tahapan di dalam kampus tetapi mereka harus bisa ‘out of the box’.

Sebagai Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi, lanjut Gita, mereka harus bisa memanfaatkan media atau channel yang dikenalnya, salah satunya melalui media relations.

“Bagaimana cara berhubungan baik dengan wartawan dan bisa memanfaatkan telnologi digital komunikasi secara baik sebagai bekal mereka nantinya,” imbuhnya.
www.ijasrjournal.org/wp-content/languages/new/write-essay-online.html

“Youth Generation” yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Universitas Semarang (USM) ini sebagai ajang mendapatkan pengalaman langsung di lapangan, dan bentuk praktek nyata dari mata kuliah Komunikasi Pemasaran. Selain itu untuk mengenal lebih jauh tentang industri kreatif.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang, Fajriannoor Fanani. Menurutnya, ada perbedaan dari tahun ke tahun perihal acara Komukino ini. Jika tahun kemarin temanya kuliner, tema pada tahun ini lebih berhubungan dengan anak muda.

“Tahun ini merupakan kali keempat acara tahunan Festival Komukino digelar sebagai wujud nyata implementasi berbagai bidang pengajaran ilmu komunikasi.
www.richereducation.co.uk/wp-content/languages/new/finance-homework-help.html

Melalui festival komukino 2015, semoga mahasiswa mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan penuh inovatif,” tuturnya.

Pihak dosen pun memberikan riteria-kriteria penilaian pada 6 gerai kuliner fusion yang dikelola dan dikembangkan sendiri oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi USM.
Fajri menjelaskan penilaian didasarkan pada keaktifan dalam tiap-tiap kelompok berupa review.

“Saya dan para dosen berkeliling untuk memberikan penilaian. Kita berharap ke depannya acara ini tetap hadir dengan tema yang lebih menarik,” paparnya.

Acara yang digelar pada tanggal 15-16 Desember 2015 ini juga menghadirkan berbagai kompetisi yang tujuannya mengembangkan bakat dan minat siswa-siswi SMA, SMK dan Sederajat di Kota Semarang.

Ada kompetisi manga, Cosplay, Robotik Lego, Rubrik, News Anchor, dan Film Indie yang didukung berbagai komunitas di Kota Semarang seperti Lumpia Komik Semarang, Robotics Education Centre dan Solving Maniac Generation.

Praktisi Broadcast di Semarang, Salomo menjelaskan ada sekitar 5-6 film indie yang merupakan karya 15 peserta anak SMA dan sederajat yang berpartisipasi dalam festival ini. Penilaiannya sendiri menitik beratkan pada cerita, alur dan sinematografi yang sesuai dengan tema, yaitu kota Semarang.

Menurut Salomo, Film pendek yang diusung ada beberapa ciri khas dari Semarang yang belum tersentuh. Akan tetapi karyanya sudah memenuhi standart broadcast.

“Dari tahun sebelumnya, jujur saja ide kreativitas pada tahun ini lebih banyak dan tidak bisa ditebak,” ungkapnya disela-sela aktivitas penilaian.

Pihaknya berharap akan ada sineas-sineas muda yang lebih kreatif, inovatif dengan cerita-cerita yang bagus dan membangu bagi generasi muda. (BJT01)

Advertisements