Home Headline Cuaca Jadi Musuh Utama Pencarian AirAsia

Cuaca Jadi Musuh Utama Pencarian AirAsia

657

AirAsia Penyisiran

Liputan Khusus

Jakarta, 18/1 (BeritaJateng.net) – Sejak akhir 2014 hingga Januari 2015, hujan kerap membasahi tanah. Sesuai dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa Indonesia mulai memasuki musim hujan.

Hampir disebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan yang diprakirakan puncaknya terjadi pada akhir Januari hingga awal Februari 2015.

Hujan dan cuaca buruk pula yang menjadi kendala bagi Tim SAR gabungan dalam pencarian korban maupun puing-puing pesawat AirAisa QZ 8051 rute Surabaya-Singapura yang hilang kontak pada hari Minggu, 28 Desember 2014.

Pesawat yang membawa 155 penumpang dan tujuh awak pesawat itu berangkat dari Bandara Juanda Surabaya menuju Singapura pada pukul 05.12 WIB dan hilang kontak di perairan Pulau Belitung dengan titik koordinat 03.22.46 LS dan 108.50.07 BT.

Namun, akhirnya lokasi jatuhnya pesawat diketahui di Selat Karimata, dekat Pangkalan Bun Provinsi Kalimantan Tengah pada hari ketiga pencarian, yaitu pada hari Selasa, 30 Desember 2014, setelah ditemukan puing-puing pesawat.

Benda yang ditemukan mengapung berupa lempengan logam, objek yang menggambarkan bayangan dalam laut diduga badan pesawat, emergency exit, dan diduga jasad penumpang.

Sepuluh objek diduga serpihan pesawat itu terpantau oleh Pangkoopsau I Marsda TNI Agus Dwi Putranto saat dalam perjalanan menuju Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, menggunakan helikopter CN 235.

Sejak diketahui lokasi jatuhnya pesawat, seluruh kekuatan pencarian yang sebelumnya dipusatkan di sekitar perairan Bangka Belitung diarahkan ke titik penemuan di Selat Karimata.

Hingga saat ini pencarian masih terus dilakukan dan tim sudah berhasil menemukan 51 korban serta beberapa bagian besar pesawat, termasuk kotak hitam (black box).

Namun, penemuan tersebut bukannya berjalan mulus tanpa halangan sebab tim yang juga dibantu oleh beberapa kapal dari negara sahabat harus menantang alam dengan kondisi cuaca buruk.

Hambat Operasi Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) F. Henry Bambang Soelistyo mengatakan bahwa tim SAR gabungan di lapangan harus berjuang menghadapi cuaca buruk dan ombak setinggi 5 meter untuk mengevakuasi korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501.

“Di peta menunjukkan gelombang hari ini sekitar 3–4 meter. Akan tetapi, kenyataannya ada yang sampai 5 meter sehingga kami sulit mentransfer antarkapal,” kata Soelistyo.

Dari peta pencarian yang diperlihatkan, tampak kawasan lokasi pencarian, yaitu di Selat Karimata berwarna merah yang berarti cuaca buruk.

Ombak yang tinggi dan cuaca buruk kerap menghambat operasi pencarian dan evakuasi yang menggunakan jalur laut serta udara.

Menurut Soelistyo, tim kadang hanya dapat maksimal melakukan pencarian pada pagi hari saat cuaca sedikit bersahabat.

Sementara itu, pada siang dan sore hari, hujan dan gelombang tinggi mengganggu kembali sehingga tim terpaksa menghentikan sementara pencarian agar tidak kembali jatuh korban.

Sejak ditemukan beberapa korban, tim terpaksa menunda evakuasi ke Pangkalan Bun untuk segera dibawa ke Surabaya guna identifikasi jenazah karena cuaca yang tidak memungkinkan.

Begitu pula, dalam pencarian kotak hitam pesawat, tim penyelam yang diturunkan harus berjuang mengatasi buruknya jarak pandang di bawah air.

“Sejak pagi tim sudah menyelam, tetapi sampai di sasaran jarak pandang di bawah 1 meter,” ujar Soelistyo terkait dengan ditemukannya ekor pesawat pada hari ke-10 pencarian.

Selain jarak pandang yang sangat rendah sehingga menyulitkan tim untuk mencari kotak hitam, arus bawah laut juga mencapai 3–5 knot.

Karena kondisi di lokasi pencarian tidak mendukung, tim penyelam hanya dapatkan puing-puing pesawat dan sudah dibawa ke kapal.

Prediksi Cuaca Sejak diketahui pesawat AirAsia hilang kontak, informasi cuaca dari BMKG sangat ditunggu untuk mendukung proses evakuasi di lapangan.

Sebelumnya, BMKG memprakirakan cuaca pada tanggal 30 dan 31 Desember 2014 cerah di perairan Bangka Belitung sehingga efektif mendukung pencarian pesawat AirAsia QZ 8501 yang hilang kontak pada hari Minggu pagi.

“Pada tanggal 30–31 waktu yang optimum dan efektif untuk melakukan pencarian,” kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya.

Berdasarkan pantauan BMKG, pada tanggal tersebut langit cerah dan curah hujannya tidak begitu tinggi. Jika terjadi hujan, kemungkinan hanya gerimis.

Sementara itu, tinggi gelombang tidak lebih dari 1,5 meter sehingga akan sangat kondusif bagi kapal Basarnas untuk melakukan pencarian.

Pada tanggal 2–3 Januari 2015 diperkirakan cuaca tidak kondusif karena merupakan puncak hujan di Selat Karimata, Kalimantan Barat, dan Bangka Belitung. Namun, ternyata di lokasi pencarian pesawat, hampir setiap hari cuaca buruk terjadi, terutama pada waktu-waktu tertentu.

Misalnya, pada hari ke-10 pencarian, yaitu Selasa (6/1), BMKG memprediksikan di Selat Karimata berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada pagi hingga siang hari.

“Lokasi target bagian barat dan timur diprediksi berawan serta hujan sedang hingga lebat. Prediksi ini berlaku mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB,” kata Kabid Informasi Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab.

Fachri menjelaskan, untuk lokasi target bagian barat kecepatan angin dari barat 10–15 KT dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter hingga 2 meter.

Untuk target bagian timur kecepatan angin 15–20 KT dan ketinggian gelombang 1,5 meter hingga 2,5 meter.

Sementara itu, untuk Pangkalan Bun sendiri cuaca berawan dan berpotensi hujan ringan.

Dari lokasi pencarian sendiri, pada hari Selasa dilaporkan cuaca sejak pagi cukup baik/kondusif dan dapat dilakukan penyelaman oleh tim penyelam.

Awan Cumulonimbus Berdasarkan penjelasan BMKG di sepanjang rute yang dilalui Pesawat AirAsia yang hilang kontak tersebut terdapat awan tebal berjenis cumulonimbus.

Kepala BMKG Andi Eka Sakya mengatakan bahwa saat ini pertumbuhan awan culumonimbus (CB) memang sangat aktif karena memasuki puncak musim hujan.

“Misalnya, jalur penerbangan Surabaya-Singapura, pertumbuhan awan memang saat ini sedang aktif,” kata Andi.

Selain itu, BMKG juga memantau pertumbuhan awan CB di wilayah utara Sumbawa dan sebelah utara Ternate karena ada tekanan rendah, terutama di Filipina.

Dalam masyarakat penerbangan dan cuaca, kata Andi, awan CB jelas harus dihindari.

“Biasanya di dalam awan CB itu banyak sekali kejadian tidak hanya petir, tetapi angin naik, angin turun, turbulensi, dan lain-lain. Sudah dengan catatan kalau ada awan CB harus dihindari,” kata Andi.

Awan CB adalah sebuah awan vertikal menjulang yang relatif sangat tinggi, padat, dan terlibat dalam badai petir dan cuaca dingin lainnya.

Cumulonimbus berasal dari bahasa Latin “cumulus” yang berarti terakumulasi dan “nimbus” berarti hujan. Awan ini terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer.

Awan ini juga mampu menciptakan petir melalui jantung awan. Selain itu, hanya awan ini yang mampu menciptakan tornado.

Sebelumnya, hilangnya pesawat AirAsia QZ 8051 diduga ada kaitannya dengan awan CB. Namun, penyebab pasti jatuhnya pesawat harus menunggu hasil investigasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). (Ant/BJ)