Home Ekbis Cuaca Ekstrim, Petani Durian Gagal Panen

Cuaca Ekstrim, Petani Durian Gagal Panen

duren

Karanganyar, 25/2 (BeritaJateng.net) – Selama ini wilayah Karanganyar dikenal sebagai wilayah penghasil durian berkualitas. Seperti di Kecamatan Jumantono, Ngargoyoso dan Matesih. Namun untuk tahun ini hasil panen durian kurang begitu bagus, produksinya turun dan hasil panennya juga terbatas dan kualitas buah buruk

Bila musim durian tiba sepanjang jalan Karangpandan-Tawangmangu, jalan menuju Jumantono, dan juga Matesih selalu dipenuhi lapak penjual durian. Bahkan depan rumah penduduk juga banyak yang menjual durian hasil kebunnya. Namun tahun ini sangat berbeda, terlihat kosong.

Hal itu disebabkan karena panen durian tahun ini kurang menghasilkan. Pasalnya hujan deras dan sering dilanda angin puting beliung membuat bunga bakal durian banyak yang rontok. Akibatnya produksi durian untuk tahun ini gagal panen.

Agus, salah satu penjual buah durian yang biasa mangkal di kota Solo merasa kesulitan untuk mencari durian. Biasanya gampang mencarinya, namun kali ini benar-benar sulit. Dan harganya juga naik.

“Pemilik durian mengaku, pentil (bunga durian yang akan jadi buah) banyak yang rontok. Biasanya dalam satu pohon bisa menghasilkan durian lebih dari lima puluh buah. Namun saat ini bisa dihitung dengan jari,” jelasnya di Karanganyar Jawa Tengah, Rabu (25/2/2015).

Kondisi tersebut ungkap Agus berakibat harga jual durian jadi semakin tinggi. Karena untuk mendapatkannya juga susah dan stok durian sangat terbatas. Terlebih lagi dalam kondisi hujan seperti ini kualitas rasa durian juga ikut turun.

“Harga jualnya sekitar Rp. 50 ribu sampai Rp. 135 ribuan, tergantung dari kualitas rasa dan besarnya buah,” lanjut Agus.

Senada dengan Agus, Mbah Mardi salah satu pemilik pohon durian di wilayah Genengan, Jumantono mengaku dari 35 pohon durian miliknya yang sudah berusia puluhan tahun ini hanya ada beberapa saja yang buahnya jadi. Lainnya rontok sebelum sempat membesar.

Biasanya selain di datangi oleh pedagang yang akan menjual kembali duriannya yang berasal dari berbagai wilayah di sekitar Kabupaten Karanganyar, di depan rumah Mbah Mardi juga sering dijadikan tempat menjajakan durian.

“Mboten panen blas. Sami rontok sedanten (tidak panen, buahnya rontok). Lihat saja di kebunnya, hanya ada beberapa saja. Rasanya juga hambar. Ya sudah mau gimana lagi wong memang keadaanya seperti itu,” keluhnya.

Durian milik Mbah Mardi dihargai sekitar Rp. 35 ribu sampai Rp. 75 ribu, jika membelinya di kebun. Namun jika sudah dijual di luar Jumantono harganya bisa naik dua kali lipatnya. (BJ24)