Home News Update Cosplay Wayang Sebagai Bentuk Pembelajaran Siswa dan Pelestarian Budaya

Cosplay Wayang Sebagai Bentuk Pembelajaran Siswa dan Pelestarian Budaya

IMG_20151022_105032

Semarang, 22/10 (BeritaJateng.net) – Dewasa ini, pelestarian budaya wayang sangat minim dilakukan dan digencarkan, padahal di dalamnya terdapat banyak nilai-nilai positif yang bisa diambil dan dimanfaatkan oleh generasi muda.

Selain sebagai budaya, filosofi wayang juga sangat bagus untuk diangkat sebagai contoh dari karakter kebaikan dan kejahatan, nantinya bisa dijadikan pembelajaran.

Hal inilah yang menjadi dasar Bank Central Asia (BCA) bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jawa Tengah dan SMPK. ST. Yoris menggelar acara Wayang Cosplay (Never Ending Love Story) dengan lakon ‘Ramayana’ di Panti Mandala, Jalan Atmodirono Semarang, Kamis (22/10).

Acara wayang cosplay dilaksanakan dalam rangka pelestarian budaya wayang. Disaksikan oleh 402 siswa, yang terdiri dari 10 kelas, SMPK. ST. Yoris.

Inge Setiawati selaku Corporate Secretary BCA, menjelaskan jika acara bertema seperti ini sudah dilakukan sejak tahun 2011. Kota Semarang sudah tahun ketiga diadakannya acara yang mengangkat nilai budaya.

“Awal mulanya, kami mencoba memperkenalkan budaya melalui seni di Sekolah Menengah Akhir (SMA). Tahun kedua kami coba terjun di masyarakat secara umum seperti di mall dan swalayan. Saat ini kami gencar kembali masuk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) seperti SMPK. ST. Yoris ini,” jelas Inge.

Kami melakukan semua ini secara bertahap, lanjut Inge, karena kemampuan yang masih terbatas. Harapannya tidak hanya BCA saja yang ikut terlibat dalam mensosialisasikan nilai budaya. Akan tetapi ada banyak pihak yang nantinya juga ikut melestarikan budaya melalui pementasan semacam ini.

“Respon masyarakat dan sekolah masih positif. Banyak siswa yang penasaran, tertarik, kemudian mencari tahu setelah melihat pementasan. Meskipun pementasan wayang yang identik dengan tradisi, namun juga dikemas secara modern, dengan bahasa yang komunikatif. Tujuannya agar para siswa tertarik dan memahami maksud dari jalan cerita Ramayana,” paparnya.

Sebagai Kepala Sekolah SMPK. ST. Yoris, Agustinus Widiyarto., S. Pd menambahkan bahwa kegiatan wayang cosplay merupakan rangkaian dari acara sebelumnya, yaitu lomba mewarnai wayang. Siswanya terlibat dalam kegiatan mewarnai wayang, karawitan, menyumbangkan tarian tradisional dan lagu dalam acara wayang cosplay tersebut.

“Proses belajar diawali dengan perkenalan terlebih dahulu. Lama-lama siswa menjadi tertarik. Setelah tertarik, otomatis akan berusaha mencari data dari membaca buku, menonton pementasan, dan membaca melalui internet. Dari sana dapat diketahui, wayang memiliki karakter baik dan jahat,” jelas Agustinus.

Agustinus berharap akan banyak perubahan yang terjadi pada anak didiknya. Perubahan ke arah yang positif, dengan melestarikan budaya. Dari segi pembelajaran, SMPK. ST. Yoris sendiri sudah menyelenggarakan pengembangan diri, seperti tari Semarangan, karawitan, dan modern dance.

“Apresiasi dari sekolah kami sangat positif. Ini merupakan ajang bagi anak didik kami untuk belajar. Karena belajar tidak hanya transfer ilmu tetapi juga belajar nilai-nilai budaya yang ada,” ungkapnya.

Inge Setiawati juga berharap dengan acara ini siswa menjadi lebih tertarik terhadap wayang. Mengetahui, mengenal dan mencintai wayang dan yang paling penting budaya wayang bisa tetap lestari.

Sebagai siswa SMPK. ST. Yoris, Daffa kelas IX D mengaku sangat hafal dengan tokoh-tokoh Ramayana. Dia menyebutkannya dengan lugas dan cerdas.

“Tokohnya seperti Hanoman, Rama dan Shinta, Lesmana, Rahwana. Ada juga Semar, Petruk dan Gareng,” tuturnya. (BJT01)