Home Headline Capaian PAD Kebun Noborejo Dinilai Terlalu Kecil

Capaian PAD Kebun Noborejo Dinilai Terlalu Kecil

225
0

SEMARANG, 17/5 (Beritajateng.net) – Kinerja Dinas Perkebunan dalam mengelola kebun kebun milik Pemprov Jawa Tengah dinilai tidak maksimal. Salah satu contohnya adalah Kebun Dinas Noborejo yang terletak di Kota Salatiga dinilai tidak menghasilkan setoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang signifikan.

Kebun yang terletak di tepi jalan Salatiga – Solo ini memiliki luas lahan sebanyak 3,97 hektare. Pada tahun 2018 ini dibebani target setoran hanya sebesar Rp. 70 juta. Sementara pada tahun 2017 kebun ini memiliki kontribusi PAD sebesar Rp. 65 juta dan tahun sebelumnya 2016 jumlah yang disetorkan sebanyak Rp. 60,7 juta.

Anggota Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah Ahmad Ridwan mengatakan, setoran terhadap PAD dari kebun Noborejo ini terlalu kecil. Kebun seluas itu seharusnya mampu menghasilkan dua bahkan tiga kali lipat dari yang selama ini ditargetkan.

“Saya nilai target dan capaian yang selama ini diperoleh terlalu sedikit dan tidak sebanding dengan luas lahan yang dimiliki,” ungkapnya dalam kunjungan kerja di Kebun Dinas Noborejo, Kamis (17/5)

Menurut Ridwan, target setoran sebanyak Rp. 70 juta apabila di bagi dengan luas lahan kebun yang berjumlah 3,97 hektar maka setiap meternya hanya dinilai sekitar Rp. 2000 per tahun. Angka tersebut dinilai terlalu kecil.

“Kalau misalnya saja kebun ini dikontrakkan ke pihak ketiga dengan harga diatas itu pasti banyak yang mau. Kita juga tidak perlu modal apapun untuk mengelola, ditinggal ongkang ongkang saja sudah tercapai targetnya” katanya.

Sekretaris Komisi C DPRD Jawa Tengah Tetty Indarti bahkan secara tegas mengaku kecewa dengan kinerja Kepala Dinas Perkebunan Jateng. Dari pantauan yang dilakukan komisinya banyak sekali persoalan yang ada di kebun kebun yang dikelola Dinas Perkebunan.

“Tidak hanya di Noborejo, persoalan banyak sekali kami temukan di kebun lain seperti di Wonorejo Batang, Rawa Belang juga di Batang, dan masih banyak di tempat lain. Tapi kami undang agar datang di acara kunjungan komisi seperti ini tidak pernah mau datang, padahal yang bisa menjawab permasalahannya ya hanya kepala dinas,” jelasnya.

Tidak hanya Tetty yang menumpahkan kekecewaannya atas kinerja Kepala Dinas Perkebunan. Anggota Komisi C dari Fraksi PDI Perjuangan Sarwono juga menyampaikan hal serupa, Kepala Dinas tidak “care” terhadap kondisi kebun yang dimilikinya.

“Potensi kebun ini sangat besar, kalau bibit yang dihasilkan laku semua, dua kali target yang dibebankan sangat gampang dipenuhi. Asal bibit yang dihasilkan bagus pasti masyarakat ambil bibitnya kesini. Persoalannya tinggal kepala dinasnya “care” apa enggak,” jelasnya.

Terungkap dalam kunjungan di Noborejo tersebut, hampir semua Anggota Komisi C minta agar Kepala Dinas Perkebunan menghargai undangan yang disampaikan Komisi C. Undangan yang disampaikan agar kepala dinas menghadiri kunjungan Komisi C sudah berkali kali namun sampai sekarang tidak pernah diperhatikan.

Kebun Dinas Noborejo saat ini digunakan untuk kebun pembibitan dan produksi. Untuk pembibitan, komoditas yang dikembangkan adalah Cengkeh, Kopi Robusta, Kopi Sambung dan Panili. Sedangkan untuk produksi, komoditas yang dikembangkan adalah Cengkeh, Kopi Robusta, Panili dan Kelapa Dalam.

(NK)