Home News Update Calon Guru Bahasa Indonesia Tidak Perlu Galau

Calon Guru Bahasa Indonesia Tidak Perlu Galau

Semarang, 13/11 (BeritaJateng.net) – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang mengadakan workshop dengan tema ‘Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi Pembelajaran Bagi Guru Bahasa Indonesia Berdasarkan Kurikulum 2013’ di Gedung FKIP lantai 3, Jalan Kaligawe, Jumat (13/11).

Karena workshop tersebut merupakan bagian dari pendidikan mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia, tak heran jika berpantun sudah menjadi kebiasaan. Termasuk saat acara pembukaan dan perkenalan kepada narasumbernya, pantun pun menjadi jurus ampuh dalam mencairkan suasana yang dibawakan ketua panitia menuju acara inti.

Hadir dalam workshop tersebut, Prof. Dr. H. Gunarto., M. Hum sebagai Praktisi Hukum Pendidikan (Dekan FKIP Unissula). Dr. Ida Zulaeha., M. Hum Narasumber Kurtilas Tingkat Nasional (Dosen Unnes), Teguh Wibowo., M. Pd Narasumber Kurtilas Tingkat Nasional Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMA (Guru SMAN 2 Semarang).

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. H. Gunarto., M. Hum menjelaskan tujuan dari pendidikan menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) UU No. 17 Tahun 2007 adalah beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, berilmu mutakhir, cakap dan kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.

“Apabila tujuan daripada pendidikan tidak tercapai, Indonesia hanya akan menjadi buruh Negara-Negara besar. Oleh karena itu kita harus bersungguh-sungguh mencapai tingkat pendidikan hingga masuk ke dalam 10 besar dunia,” terangnya kepada sedikitnya 50 peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unissula.

Sebagai tambahan, Dr. Ida Zulaeha., M. Hum menuturkan bahwa tidak ada kurikulum yang sempurna. Perubahan kurikulum tahun 2006 menjadi tahun 2013 disesuaikan dengan perkembangan IPTEK.

“Kurikulum harus diperbaiki bukan disempurnakan sebab kurikulum yang baik adalah yang cocok dan sesuai pada eranya,” jelas Ida.

Ida juga menjelaskan jika ada perubahan paradigma pada kurikulum 2013, yang mana pembelajaran bukan lagi berpusat pada guru melainkan pada siswanya.

“Tidak ada lagi ceramah panjang lebar, adanya instruksi, bertanya, menalar dan siswa mengomunikasikan hasilnya kepada guru dan teman-temannya,” imbuhnya.

Dari pemaparan tersebut, Prof. Dr. H. Gunarto., M. Hum menekankan bahwa guru harus berusaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Sementara itu, Teguh Wibowo., M. Pd mengingatkan kepada para guru agar tidak perlu galau terhadap perubahan kurikulum 2013 ini.

“Guru yang hanya berkeluh kesah akan menghasilkan penderitaan. Ibarat seorang prajurit yang lari sebelum berperang di medan perang,” ujar Teguh.

Teguh juga berpesan kepada calon-calon guru supaya menjadi prajurit seperti Arjuna yang melaksanakan sebaik-baiknya pengabdian.

Dia juga menerangkan hal yang berubah dari kurikulum 2013, yaitu lebih menekankan pada pendekatan ilmiah pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks, karena dulunya pada kurikulum 2006 berdasarkan ketrampilan.

Menurutnya, hambatan pelaksanaan kurikulum 2013 disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya guru belum trampil secara scientifik dan langkah menanya atau mempertanyakan kepada siswanya.

“Padahal ciri berpikir adalah bertanya,” ujaranya.

Guru Bahasa Indonesia tidak dibekali kemampuan berbahasa Indonesia berbasis teks.

“Padahal dalam tiap teks memiliki strukturnya sendiri-sendiri,” ungkapnya.

Teguh menyebutkan, hambatan lainnya juga karena guru dan siswa tidak biasa belajar bahasa Indonesia berbasis problem. (BJT01)