True Story : Bukan GGS, Tapi Ganteng-ganteng Pemerkosa

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

HARI ITU, aku dalam perjalanan ke Solo untuk pekerjaan memandu acara gathering dan seminar kesehatan bersama PT Buyer. Solo menjadi kota kedua, setelah Semarang dan terakhir nanti Jogja.

Di perjalanan, bos Event Organizer PT Buyer meminta aku membuka email. Dia mengirimkan rundown acara. Lalu aku buka email. Tidak banyak email yang masuk. Sejak aku jarang aktif di jurnalis, lalu lalang emailku memang berkurang.

Aku lihat cuma ada empat email masuk. Dua release berita dari LSM Lingkungan, lalu dari Buyer dan ada satu lagi…? Sangat asing. Dari seorang bernama Roni. Siapa ya?

Halo Shinta…

Kenalkan, aku Roni dari Surabaya. Aku pembaca blogmu. Dari sana aku temukan emailmu dan kuberanikan diri buat kirim email ini ke kamu.

Aku sedang dalam masalah hukum. Proses sidang masih berjalan. Sementara aku ditempatkan di tahanan kantor polisi. Kalau lihat tulisanmu tentang penjara, aku yakin kamu bisa membantuku.

Kamu dulu masuk karena kasus apa? Bisa bagi pengalamannya dong. Oh ya, aku sangat pingin bisa ngobrol langsung sama kamu. Boleh aku minta nomer hpmu? Aku tunggu saran saranmu. Terima kasih.

Salam
Roni

Sial. Aku disangka napi sama orang ini. Sudah jelas-jelas tulisan di blogku itu menceritakan kehidupan para napi. Bukan menceritakan kehidupanku di penjara keyles!

Selama kurun waktu 20013-2014, aku bersama tim komedian membuat ‘terapi jiwa dengan tawa’ untuk para napi. Kegiatan pelatihan yang aneh dan langka! Begitu kata mereka. Karena kami melatih para napi protes, teriak menyuarakan beban hati dan pikiran mereka, lewat komedi.

Melatih mereka gali ide, menyusun materi sampai membuatkan panggung untuk mereka tampil. Tak tanggung-tanggung, mereka tampil di hadapan Wakil Gubernur Jawa Tengah, pejabat Depkumham dan ratusan napi lain.

Disitu suara mereka didengar pemangku kebijakan dengan ‘taste aman’tentunya. Tapi baiklah. Aku tetap terima ini dengan positif. Mungkin dia sedang terlalu panik.

Sedang tertekan, sedang gila memikirkan nasibnya yang sebentar lagi berakhir di jeruji besi. Jadi mungkin, tidak fokus baca cerita di blog-ku.

Aku balas pesan si Roni itu. Aku berikan nomor handphoneku juga. Setelah itu baru aku fokus membuka email rundown acara seminar besok pagi di Solo.

Sesaat kemudian, handphoneku bergetar. Ada panggilan masuk dari nomor yang belum ada namanya…

“Halo,”sapaku agak ragu.
“Mbak Shinta ya, ini aku Roni yang barusan kirim email tadi,”balas suara diseberang.
“Oh iya, gimana Mas,”
“Aku mau curhat dan minta saran Mbak,”
“Oh iya, sebelum bicara lebih jauh, aku klarifikasi dulu ya. Aku bukan napi dan tidak akan pernah menjadi napi ya mas, catet. Jadi sampean jangan salah duga. Kalau aku banyak menulis tentang kehidupan di penjara itu, karena aku pernah agak lama berkegiatan di sana. Kebetulan aku juga jurnalis, jadi seneng bikin tulisan tentang hidup mereka. Catet ya, aku bukan napi,” kataku sejelas mungkin.

“Oh ya ya maaf Mbak..tapi tetep bisa kan, kalau misal aku minta saran-sarannya,”kata dia lagi.
“Ya selama bisa aku jawab, ya aku jawab. Sesuai kapasitasku.”

Roni lalu bercerita. Saat ini, dia sedang menjalani proses sidang kasus pelecehan seksual. Ini sudah sidang kedua. Perbuatan tidak senonoh itu dia lakukan ke pembantu di rumah kosnya di Surabaya.

Pria berdarah Cina-Manado ini mengaku sudah bertahun-tahun merantau ke kota pahlawan itu. Di sana dia bekerja sebagai sales.
Sehari-hari Roni tinggal di kos yang lumayan bagus.

Ada fasilitas AC, kamar mandi dalam,dan pembantu. Entah karena terinspirasi berita-berita kriminal atau mungkin efek sering baca novel porno, atau keseringan lihat bokep atau entah sedang kesetanan….

Suatu siang, Roni pulang lebih awal. Bonus waktu yang jarang didapatkan ini dia akan digunakan untuk tidur siang. Setelah ganti baju, dia berjalan menuju dapur untuk mengambil air es di kulkas.

Tapi???…Niat hati mau cari yang dingin-dingin buat mendinginkan jiwa raga, eh justru berbalik 180 derajat…duarrrr…

Tiba-tiba tanduk merah keluar dari kepala Roni…matanya memerah, dadanya sesak dengan napas tersengal… otaknya memanas, hampir meledaak!!!

Mata Roni tak berkedip melihat sosok gemulai pembantu kosnya yang tengah berbaring di kamar dengan baju sedikit terbuka. Pintu kebetulan tidak tertutup rapat. Kamar pembantu tepat di samping dapur.

Si pembantu itu tampak sedang tidur. Sama persis dengan modus berita kriminal sejenislah. Roni mengaku tak berdaya melihat kemolekan pembantu ABG itu…

“Sumpah. Aku tidak sampai melakukan lebih ke pembantu itu. Aku hanya xxxxxxxxxxxxxxxxxx,”ungkap dia yang aku sensor…kalau enggak di xxxx ntar dikira stensilan kan? Hihihi…

Tapi Roni sial. Si pembantu keburu bangun dan menjerit histeris. Kaget bukan kepalang dan pasti jijik juga mendapati sosok Roni nggilani yang ada di kamarnya siang bolong itu.

Dengan refleks pembantu tadi meloncat dari tempat tidur dan keluar rumah. Sambil menangis dia berlari kesana kemari. Beruntung dalam keadaan panik dia masih bisa mikir logis. Langkahnya langsung tertuju ke pos satpam.

Dengan sesenggukan dia menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya. Satpam itu lantas mengajak rekannya datang ke rumah majikan si pembantu.

“Kowe gak iso ngelak cuk…!”maki satpam itu sengit. Satpam bersama beberapa warga, akhirnya berhasil meringkus Roni lengkap dengan barang bukti berupa ceceran s**r*a di kasur pembantu. Dan digiringlah Roni ke kantor polisi.

Aku masih terus menyimak cerita Roni. “Ya, akhirnya aku jalani sidang. Aku dapat pengacara gratis dari lembaga xxx…Setelah sidang, aku dibawa ke ruang tahanan di polsek xxx,”sambung Roni lagi.

Dari situ, bencana besar menimpa Roni. Karma itu begitu cepat datang padanya. Dimana-mana karma tidak pandang bulu, karma akan memberikan apa yang layak diterima pelakunya.

“Awal masuk, aku sudah sangat diam. Tidak buka mulut sedikitpun tentang kasusku. Hari berikutnya, aku bahkan sudah berbohong…aku bilang kalau kasusku hanya penggelapan. Tapi entah hari selanjutnya, kok akhirnya mereka tahu kasusku,” jelas Roni.

“Siang sampai sore,semua aman saja. Tapi begitu semakin malam, lepas tengah malam ketika petugas polisi tak lagi mengawasi ruang tahanan, bencana itu datang.”

‘Di penjara’ hukum rimba kerap terjadi. Yang lemah, akan tertindas tanpa daya. Sesama penjahat pun merasa punya hak untuk membalas kejahatan pelaku kejahatan lainnya,dengan penyiksaan tiada ampun.

Roni mulai menerima ‘balas dendam’ lewat tangan-tangan penjahat yang satu ruangan dengannya itu.

“Mereka meminta saya melakukan onani dengan olesan balsem. Sampai pagi..terus dan terus…sampai saya kesakitan luar biasa. Satu kotak balsem harus habis malam itu. Enggak tahu juga dari mana mereka dapat balsem itu. Saya disiksa cara begini hampir tiap hari. Ini sudah satu minggu, ”curhat Roni dengan suara pelan..

Sampai pada bagian cerita ini, aku bukannya ngeri ataupun bergidik, tapi sebaliknya. Aku girang bukan kepalang. Dalam hati, aku ikut mengutuk kamu Roni….rasakan pembalasan itu…kapokmu kapan?!!…hahahaa….

Ups tapi itu dalam hati saja. Diluar hati tetap aku merespon dengan baik. Toh semua perbuatan melanggar hukum di negeri ini masih berasaskan praduga tak bersalah.

“Ya gitu, aku terus menerus disiksa dengan cara ini. Sampai akhirnya aku jatuh sakit. Alat vitalku bengkak dan aku harus dilarikan ke rumah sakit. Ini aku telpon pakai handphone pengacaraku. Tadi aku maksimalkan buka-buka internet, nyari informasi ‘tips’ hidup di penjara. Dan aku menemukan blogmu, Mbak!” lanjut Roni.

Sudah lebih dari satu jam dia bicara di hpku.

“Saran dari Mbak yang aku butuhkan adalah aku harus gimana? Aku gak mau balik ke ruang tahanan itu lagi. Bisakah aku minta keringanan ditempatkan ke rutan atau manalah, yang bisa menjaga keamananku. Juga buat keselamatanku nanti kalau aku sudah divonis dan masuk lapas?” tanya dia bertubi-tubi.

Aku lalu menjawab singkat. “Bisa saja sih aku kira. Kan kamu tetap punya hak dilindungi. Baiknya kamu konsultasi sama pengacaramu,” saranku standar.

“Kalau mungkin bisa, tolong tanyakan juga ke teman-teman Mbak, kuasa hukum atau napi yang sudah bebas mungkin. Tolong ya Mbak,” pintanya memelas.

“Emm,,,Ya deh. Aku coba usahakan ya,” jawabku singkat lagi.

“Oh ya, nanti saya kirim semua berkas ke email Mbak ya. Saya masih akan diluar sampai kondisi pulih. Setelah sidang lanjutan, pasti saya akan kembali ke tahanan lagi. Makasih dan maaf sudah ganggu waktu Mbak Sinta,” tutup Roni sok sopan.
“Ya…” singkat balasku.

***

Mobil kami terus melaju, meninggalkan Boyolali dan hampir masuk wilayah Solo. Segenap cerita Roni, coba aku tepikan dari pikiranku. Penting gak penting!
Setidaknya sisi pentingnya adalah tulisan blogku tentang kehidupan di penjara, ada manfaatnya buat dia.

Setidaknya dia punya sekilas gambaran, kehidupan di balik jeruji besi itu seperti apa. Setidaknya dia juga bisa menyuarakan ketakutannya.

Buat aku? Setidaknya aku jadi tahu, bahwa ‘hukuman balsem’ itu benar benar adanya buat mahluk-mahluk bejat seperti Roni…hahaha…

Gak pentingnya adalah sememelas apapun Roni, posisinya tetap ‘musuh’ bagi kaum perempuan dimanapun. Pelaku pelecehan seksual, sangat tidak bisa dimaafkan. Bahkan harus dihukum seberat-beratnya.

***

Baru beberapa menit aku taruh handphone di tas, deringnya menjerit lagi. Tapi untung bukan panggilan masuk. Masih panas kupingku habis terima telpon pejahat tadi. Untung ini hanya pesan singkat.

“Mbak, sorry nambahin. Sudah aku kirim ya berkasku. Bisa cek ke email.

”Roni. Cepet amat dia kirimnya. Hemm, karena penasaran, aku segera cek email. Dia melampirkan beberapa berkas. Ada berkas penyelidikan, berkas pemeriksaan medis serta.foto!

Dan??? Sepertinya aku layak kaget. Karena foto dalam berkas penyelidikan ini menampakan sosok seorang pria muda, sangat tampan, wajah putih bersih, badan tegap macho. Style rambutnya cakep.

Sungguh tampangnya mendekati artis korea Taecyeon, salah satu personil Boyband 2PM juga aktor yang main di ‘Dream High’. Perpaduan cakep, ganteng dan sangat manly…

“Ini Roni?? Ngapaen juga seganteng ini main perkosa pembantu???”
“Kamu bisa aja kali jadi playboy dengan modal tampang segini!”
“Atau gak bakal nolak deh PSK kalau tamunya seganteng kamu!”
“Lha ini? Main perkosa? Pembantu lagi..! Kamu terlalu tampan untuk jadi seorang pemerkosa bro…”
“Kamu hina sekali bro…”
“Kamu bodoh sekali bro..”
“ YA sudah, penjara layak buatmu bro!”

Aku tutup email Roni dan kembali fokus ke jalan. Mobil melaju sedang memasuki wilayah Solo. Jarak menuju hotel sudah semakin dekat.

Beberapa hari kemudian Roni sempat kembali menelponku. Dia pamitan, sakitnya sudah sembuh dan akan kembali menjalani sidang.

“Semoga kamu tidak di balsem lagi bro. Tapi kalau masih, ya itulah takdirmu!” batinku santai. (*)

CATATAN SHINTA ARDHAN, Reporter BeritaJateng.net

SHARE

Tulis Komentar Pertama