Home Headline BRT Trans Semarang Perlu Jalur Khusus Antisipasi Kendala Lalu Lintas

BRT Trans Semarang Perlu Jalur Khusus Antisipasi Kendala Lalu Lintas

748
0
Desain integrasi LRT dan BRT Semarang.

Semarang, 8/11 (BeritaJateng.net) – Sebuah truk terguling Selasa pagi (06/11) di jalan Walisongo, Tambak Aji, Ngaliyan Semarang tepatnya di turunan lapangan Tugu sehingga menutup separo badan jalan dan menyisakan satu jalur arah Kota. Menyebabkan terjadi antrian kendaraan arah ke Kota. Saat kejadian, kondisi cuaca sedang turun hujan sangat deras mengguyur Kota Semarang.

Layanan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang koridor 1 jurusan Penggaron – Mangkang terkena imbas akibat kejadian laka tersebut. Trans Semarang hingga saat ini belum memiliki jalur khusus BRT, sehingga masih menjadi satu dengan kendaraan pribadi.

Kepala Badan Layanan Umum Trans Semarang, Ade Bhakti Ariawan, ditemui Selasa (06/11) di kantor Dinas Perhubungan, jalan Tambak Aji No. 5, mengungkapkan jika dedicated line dibutuhkan pada layanan Trans Semarang, agar BRT sebagai angkutan massal memiliki jalur sendiri sehingga tidak terpengaruh dengan kepadatan lalu lintas yang terjadi.

“Jika Trans Semarang telah memiliki jalur khusus berupa dedicated line, diharapkan waktu tempuh armada menjadi lebih akurat dan stabil. Selama ini kedatangan Trans semarang seringkali megalami keterlambatan terutama jika ada hambatan lalin seperti kecelakaan, pengalihan jalur, penutupan jalan,” jelas Ade.

Pemerintah Kota Semarang menjalin kerjasama dengan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia terkait desain jalur khusus BRT Trans Semarang. Dedicated line direncanakan menghubungkan jalur padat di kota Semarang, yaitu Jrakah – Pedurungan (perempatan Arteri Sukarno Hatta -Fatmawati) dan jalan Pemuda – jalan Letjen Suprapto. Direncanakan pada tahun 2019 dedicated line dapat diterapkan.

Ade Bhakti Ariawan menyambut positif rencana pembangunan dedicated line pada Bus Rapid Transit. Dedicated Line merupakan standar Pedoman yang harus dimiliki dalam operasional armada. BRT standar merupakan alat bantu praktikal untuk evaluasi koridor BRT yang mengacu kepada implementasi terbaik dengan skala internasional. Sebuah system dapat dikategorikan Basic BRT jika memenuhi minimal 20 point. Hasil Final score yang dimiliki Trans Semarang adalah 19 point. Sehingga belum dapat dikategorikan sebagai system BRT.

“Selama ini Kota Semarang telah memiliki BRT Trans Semarang namun belum bisa dikategorikan dalam system BRT, karena salah satu indicator belum yaitu memiliki jalur khusus. “Ungkap Ade.Padahal dengan tidak adanya jalur khusus, kendala yang sering dialami antara lain terlibat senggolan maupun kecelakaan dengan kendaraan lain. Selain itu karena kondisi lalu lintas yang masih membaur dengan kendaraan pribadi menyebabkan kedatangan armada sering mengalami keterlambatan terutama pada jam berangkat /pulang kerja dan sekolah. “Dengan adanya dedicated line diharapkan kedatangan armada bisa on-time,” tuturnya.

Koridor 1 menjadi yang terbanyak mengalami kejadian bersenggolan dgn pengguna jalan lain, karena jalur yang dilalui merupakan Jalur Utama – biasa disebut Pantura. Jalur utama yang menghubungkan antar Kota di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. “Selama Oktober saja, koridor 1 sudah ada 2 kejadian. yakni kecelakaan di traffic light KFC Pnadanaran dan kecelakaan di Jrakah Semarang yang mengakibatkan kemacetan panjang dan menghambat perjalanan BRT,” imbuhnya. (El)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here