Home Lintas Jateng BPP Pengadegan Kembangkan Budidaya Lada Perdu

BPP Pengadegan Kembangkan Budidaya Lada Perdu

853
0
BPP Pengadegan Kembangkan Budidaya Lada Perdu
        Purbalingga, 3/8 (BeritaJateng.net) – Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pengadegan kini tengah bergeliat mengembangkan tanaman lada perdu. Sebagai penghasil lada terbesar di Kabupaten Purbalingga, jenis tanaman lada tidak hanya lada panjat melainkan ada pula lada perdu untuk meningkatkan hasil panen lada para petani lada.
       “Kecamatan Pengadegan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Purbalingga yang sangat potensi untuk mengembangkan tanaman lada,” kata Sri Haryanti dari BPP Kecamatan Pengadegan saat dihubungi, Jumat (3/8).
       Berkembangnya lada perdu di Kecamatan Pengadegan rupanya membuka peluang usaha yang lebih besar bagi para petani. Lada perdu dapat menghasilkan produksi rata-rata 2s00 gram lada kering per pohonnya pada usia dua tahun dan 500 gram pada umur tiga tahun.
       “Jika lada perdu ditanam dengan jarak 1×2 meter maka lahan seluas satu hektar dapat ditanami sekitar 4500 pohon,” jelasnya.
        Dengan jumlah tanaman sebanyak itu, produksi lada dapat mencapai 900 kg dengan harga Rp 30 ribu per kg. Maka pemasukan yang didapatkan pada dua tahun pertama mencapai Rp 27 juta dan akan meningkat pada tahun-tahun selanjutnya.
BPP Pengadegan Kembangkan Budidaya Lada Perdu
       “Pada tahun ke tiga dimana produksi dapat mencapai 2250 kg atau setara dengan Pendapatan Rp 67,5 juta,” imbuh Sri Haryanti.
       Ia menjelaskan pada tahun pertama, lada perdu masih belum siap panen secara maksimal sehingga disarankan untuk dipangkas dulu agar tanaman kokoh dan kuat. Tahun berikutnya, ia melanjutkan bunga yang muncul telah siap menjadi buah dan bisa langsung dipanen setelah berbuah.
       “Panen selanjutnya dilakukan setiap tahun sampai tanaman berumur lebih dari 10 tahun , tergantung pemeliharaan,” ujarnya.
       Sri Haryanti menyampaikan antara lada perdu dan lada panjat memiliki perbedaan pada teknik budidayanya. Lada perdu tidak memerlukan tiang panjat sehingga teknik budidayanya jauh lebih praktis, efisien dan ekonomis.
       “Kalau lada panjat kan pasti menggunakan tiang panjat atau tiang cor untuk merambat nah ini membutuhkan biaya lebih mahal dibandingkan dengan lada perdu,” ungkap Sri Haryanti.
         Selain itu jarak tanam lada perdu lebih rapat 1×2 meter, sementara lada panjat membutuhkan jarak tanam minimal 2×2 meter. Keuntungan lain yang didapatkan dari lada perdu yakni pemeliharaan dan pemungutan hasil lebih mudah.
        “Panen tidak perlu menggunakan tangga, tidak perlu pemangkasan dan pengikatan sulur. Lada perdu ini memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai tanaman intercrop (tanaman sela, Red), tanaman pekarangan dan mempunyai nilai estetika jika ditanam di halaman rumah atau pot,” terangnya.
        Untuk menanggulangi hama penyakit pada tanaman perdu tidaklah sulit cukup dengan penyemprotan pestisida sebulan sekaliatau sesuai kebutuhan. Kemudian pemberian bamboo yang bertujuan untuk menghindari kontak langsung daun lada dengan tanah sebagai upaya untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
          “Untuk lada yang merambat itu kemarin ada permasalahan terkait penyakit kuning itu yang daunnya menguning terus biji ladanya rontok itu kan ada beberapa persen nah yang merambat kan jadi agak kurang disukai petani,” pungkas Sri Haryanti. (yit/El)