Home Headline BPOM Ungkap Peredaran Obat Tradisional Tanpa Izin  

BPOM Ungkap Peredaran Obat Tradisional Tanpa Izin  

187
0
BPOM Ungkap Peredaran Obat Tradisional Tanpa Izin  
          Semarang, 23/11 (BeritaJateng.net) – Balai Pengawas Obat Makanan Semarang berhasil mengungkap peredaran dan pembuatan obat tradisional tanpa izin edar dengan menggrebeg tempat pembuatannya di Desa Nusajati Cilacap, Selasa (21/11).
          Dari pengungkapan ini, petugas menyita barang bukti sebanyak 2 truk dengan total senilai Rp 1,6 miliar.
         Kasie Penyidikan BPOM Semarang Agung Supriyanto menjelaskan pengungkapan ini berawal adanya informasi dari masyarakat sekitar terkait beredarnya obat tradisional yang mencurigakan. Hingga akhirnya dilakukan investigasi dan menemukan obat tradisional baru.
           “Dari operasi penertiban ditemukan obat tradisional tanpa ijin edar. Kita lakukan penyitaan,” ujarnya saat di Kantor BPOM Semarang, Rabu (22/11).
BPOM Ungkap Peredaran Obat Tradisional Tanpa Izin

Barang bukti yang berhasil diamankan antara lain 14 mesin produksi, serbuk diduga bahan kimia obat sebanyak 14 karung dan 5 drum, kemasan roll berbagai jenis merek nama jamu sebanyak 265 roll, kemasan dus 14 karung, produk obat jadi sebanyak 9 item sebanyak 97 dus 237 renteng.

           Sedangkan obat tradisional tersebut yang berbentuk dikemas dalam sasetan. Terlihat, produk yang disita juga terdapat sasetan roll, dengan merek tertulis diantaranya Mahkota Dewa, Raja Kuat, dan juga asam urat.
           “Ada bermacam-macam produksi yang diproduksi. Satu roll berisi 1000 saset harganya dijual per roll 600 ribu. Peredaran merata, ada di Jawa Tengah, dan juga di Jakarta. Pemasaran di Kios di Warung. Untuk barang bukti yang diamankan  totalnya Rp 1,6 Milyar. Ada 16 mesin produksi, informasinya nilai harga 1 mesin Rp 60 juta,” tuturnya.
           Barang bukti tersebut ditemukan didalam sebuah tempat di Desa Nusajati Cilacap, milik seseorang bernama Y, warga setempat. Bahkan, pemilik barang ilegal ini sebelumya juga Y juga pernah ditangkap oleh petugas dengan kasus sama sekitar tahun 2009 – 2010.
BPOM Ungkap Peredaran Obat Tradisional Tanpa Izin

Dulu saat kita tangkap produknya tidak sebanyak, menurut informasi masyarakat setelah kita tangkap pada tahun 2010 sempat  vakum, namun pada tahun 2016 ini aktif lagi,” ujarnya.

             Selain itu, tempat produksi tersebut juga terkesan tertutup. Pemilik juga mendesain pabrik tersebut ditutupi dengan bambu-bambu. Hal ini dilakukan untuk mengelabuhi petugas dan warga sekitar supaya tidak mengetahui adanya aktifitas pembuatan obat ilegal.
             Namun demikian, pihaknya akan melakukan pendalaman lagi terhadap pengungkapan kasus ini. Petugas juga akan mengambil sampel bahan dasar termasuk produk yang sudah jadi ke laboratorium untuk memastikan isi kandungan pembuatan obat tradisional tersebut.
           “Kita belum uji, nanti kita uji laboratorium untuk melihat bahan bakunya. Yang jelas, bahwa penambahan bahan kimia terhadap obat tradisional tidak diijinkan,” tegasnya.
              Sampai sejauh ini, petugas belum menetapkan Y sebagai tersangka. Saat ini, status Y masih sebagai terlapor. Sesuai rencana, Agung akan memanggil Y untuk dilakukan pemeriksaan Senin mendatang.
BPOM Ungkap Peredaran Obat Tradisional Tanpa Izin

“Pemilik baru kita panggil hari Senin, sama petugas karyawanya yang ada disana,” katanya.

           Agung menambahkan, Pada kasus ini, pemilik akan diperkarakan di pasal 197 dan 196 di UU Kesehatan tahun 2009, Produk yang tidak memiliki ijin edar dikenakan denda Rp 1,5 milyar atau ancaman hukuman 15 tahun penjara. (Nh/El)