Home Lintas Jateng BPBD Karanganyar Sosialisasikan Deteksi Longsor

BPBD Karanganyar Sosialisasikan Deteksi Longsor

gunung Lawu1

Karanganyar, 15/1 (BeritaJateng.net) – BPBD Karanganyar memberikan sosialisasi tanda-tanda awal terjadinya longsor kepada masyarakat yang berada di sekitar lokasi rawan longsor.

Kepala Pelaksana Harian (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru menyebutkan untuk mengatisipasi hal yang tidak diinginkan, pihaknya memperbanyak sosialisasi kepada masyarakat di sekitar lokasi. Termasuk juga memetakan dan membuat jaur evakuasi, jika terjadi longsor mendadak.

“Kita selalu sosialisasikan dan memberi pemahaman pada masyarakat untuk deteksi dini terjadinya longsor dengan pandangan mata (melihat langsung) kondisi di sekitarnya,” ungkapnya.

Dalam sosialisasinya, BPBD Karanganyar menjelaskan tanda jika longsor akan terjadi. Ketika curah hujan sangat tinggi, waktunya lebih dari dua jam namun saluran air di sekitarnya tidak ada airnya atau berkurang itu patut di waspadai. Artinya ada yang retak di bawah tanahnya.

Masyarakat juga bisa melihat diatas bukit, apakah posisi pohon masih berdiri tegak atau sudah dalam kondisi miring. Jika kodisinya miring berarti itu salah satu pertanda akan terjadi longsor.

Apabila pasca hujan berhenti, kemudian melihat ada batu sebesar kepalan tangan jatuh ke bawah dari atas bukit itu berarti menjadi pertanda bahwa di bawah bukit sedang terjadi pergerakan tanah karena efek deras yang terjadi.

Demi menjaga keselamatan masyarakat yang berdomisili di wilayah rawan bencana, BPBD juga telah memasang EWS (Early Warning System) pada titik lokasi rawan.

“Bahkan di wilayah Mogol Tawangmangu, telah terpasang 8 EWS. Jadi ada interval waktu (jarak) sampai 1,5 jam sejak tanda peringatan berbunyi. Sehingga masyarakat bisa menyelamatkan diri sebelum longsor terjadi,” urainya.

Kebanyakan masyarakat yang mendiami desa rawan longsor tersebut tidak mau direlokasi karena mereka sudah merasa mapan secara ekonomi tinggal di wilayah tersebut. Kalaupun mau pindah, mereka meminta syarat jika tanah yang ditinggalkan tetap menjadi milik warga. (BJ24).