Home Hukum dan Kriminal Bos Dealer Diperiksa Polisi Terkait Pelanggaran Pengolahan Limbah

Bos Dealer Diperiksa Polisi Terkait Pelanggaran Pengolahan Limbah

Ilustrasi

Semarang, 29/12 (BeritaJateng.net) – Penyidik Tindak Pindana Tertentu (Tipidter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng telah memeriksa sedikitnya tiga bos dealer ternama.

Pemeriksaan tersebut terkait dugaan pelanggaran olah limbah B3 dan air bawah tanah di sembilan dealer ternama di Jateng, menyusul setelah dilakukan uji sampling beberapa waktu lalu.

Di Semarang sendiri, sample tersebut diambil di dua dealer ternama yang terletak di daerah Kaligawe dan Gombel Semarang.

Sementara itu, Kepala Subdit 4 Tipidter Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Syarif, mengatakan telah memanggil sejumlah orang yang bertanggungjawab terkait pengolahan limbah B3 dan air bawah tanah di sejumlah dealer ternama tersebut untuk dimintai keterangan.

“Belum diperiksa sebagai saksi. Itu masih sebatas klarifikasi. Ada 3 orang yang sudah kami mintai klarifikasi,” kata Syarif saat dihubungi wartawan.

Dalam waktu dekat, kata Syarif, hasil uji sampling tersebut bakal dilakukan analisis dalam gelar perkara di lingkup penyidik.

“Sample sudah kami ambil dari dua dealer ternama di Semarang. Minggu ini, kami lakukan gelar perkara,” ujarnya.

Menurut Syarif, gelar perkara penyidik tersebut dilakukan untuk melakukan analisa terkait dugaan pelanggaran olah limbah B3 dan air bawah tanah di sejumlah dealer ternama itu apakah layak dinaikkan ke tahap penyidikan atau tidak.

“Analisa tersebut dilakukan berdasarkan alat bukti yang ditemukan. Saat ini masih dalam tahap penyelidikan,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak sembilan bos atau pemilik dealer ternama terancam akan ditetapkan menjadi tersangka oleh penyidik Tipidter Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Tengah.

Diketahui, sebanyak sembilan dealer mobil resmi tidak memiliki izin olah limbah B3 dan air bawah tanah.

“Dua dealer diantaranya berada di Kota Semarang, sedangkan 7 lainnya berada di Purwokerto,” kata AKBP Syarif selaku Kepala Subdit 4 Tipidter Ditreskrimsus Polda Jateng.

Menurutnya, sembilan dealer mobil resmi itu telah dilakukan uji sampling, yakni di dealer yang digunakan untuk bengkel, showroom, dan body repair tersebut.

“Kami melakukan uji sampling di Semarang dan Purwokerto,” imbuhnya.

Atas hasil pemeriksaan tersebut, lanjutnya, penyidik masih melakukan penyelidikan dengan pengumpulan sejumlah data dan keterangan pendukung.

“Kami masih melakukan pendalaman untuk diajukan layak tidaknya ditingkatkan menjadi penyidikan (penetapan tersangka),” jelasnya.

Dikatakan Syarif, tempat usaha tersebut tidak miliki izin pengolahan limbah B3, ini melanggar pasal 102 jo 104 UU nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 3 tahun, serta denda paling sedikit Rp 1 miliar dan paling banyak Rp 3 miliar.

Lebih lanjut, bagi tempat usaha yang tidak miliki izin penggunaan air bawah tanah melanggar pasal 15 ayat (1) huruf b dengan ancaman pidana penjara selama-lamanya 2 tahun dan denda setinggi-tingginya Rp 5 juta.

“Dampaknya, karena tidak miliki izin, mereka tidak membayar retribusi, maka akibatnya tidak ada pemasukan untuk PAD (Pendapatan Asli Daerah) setempat.  Sebaliknya, pendapatan pemilik merk (orang asing) terus meningkat,” pungkasnya. (Bjt02)