Home Lintas Jateng BNNP Jateng Gelar Diskusi dan Pelatihan Kelompok Masyarakat Rentan Narkoba

BNNP Jateng Gelar Diskusi dan Pelatihan Kelompok Masyarakat Rentan Narkoba

IMG_20151023_122004

Semarang, 23/10 (BeritaJateng.net) – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah bekerja sama dengan lembaga pelatihan kota Semarang menggelar ‘Fokus Grup Diskusi (FGD) Terhadap Kelompok Masyarakat Rentan Narkoba’.

Selain diskusi, mereka juga mendapatkan pengembangan kapasitas melalui pemberdayaan alternatif, seperti pelatihan service Handphone. Acara digelar di RM Borobudur Lantai 2, Jalan MT. Haryono, Semarang, Jumat (23/10).

Peserta yang mengikuti FGD terdiri dari sedikitnya 40 orang dan berusia rata-rata 20 hingga 30 tahun tersebut tidak memiliki pekerjaan (pengangguran) serta lulusan Sekolah Menengah Akhir (SMA).

Tujuan diadakannya FGD ini agar kelompok-kelompok masyarakat rentan tidak menjadi target bandar-bandar narkoba. Seperti yang disampaikan oleh Seksi Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jateng, Jamaluddin Ma’ruf., S.Farm.Apt, manakala mereka tidak memiliki pekerjaan dan keahlian akan mudah dimasuki oleh bandar-bandar narkoba.

“Dengan adanya kegiatan ini semoga mereka tidak menjadi target gembong pil setan. Mereka akan diberi fasilitas magang di lembaga pelatihan Handphone Quantum,” ujar Jamaluddin, Jumat (23/10).

Ketika sudah memiliki keahlian dan pelatihan service handphone, lanjut Jamaluddin, mereka bisa membuka praktik di rumahnya masing-masing. Dari pihak BNNP sangat mendukung, semua biaya dan fasilitas ditanggung oleh Negara.

“Jika mereka memiliki pekerjaan dan keahliah, kesempatan untuk menjadi kurir narkoba bisa diminimalisir. Tugas BNNP meminimalisir jumlah kelompok-kelompok rentan yang biasanya ada di daerah rawan, seperti pelabuhan, kampus, kos-kosan dan pabrik,” paparnya.

Jamaluddin juga menambahkan, Bidang pemberantasan narkoba pernah merazia kos-kosan. Terbukti dari tes urine, 7 orang positif menggunakan narkoba.

“Nah, dari pengalaman tersebut, dari BNNP mencegah supaya mereka, masyarakat kelompok rawan tidak berprofesi sebagai pengedar narkoba. Karena hal ini sangat rawan,” pungkasnya. (BJT01)