Home Ekbis BI Canangkan Kampung Cabai Inovatif di 35 Kabupaten/Kota di Jateng

BI Canangkan Kampung Cabai Inovatif di 35 Kabupaten/Kota di Jateng

150
0
Panen perdana bantuan bibit tanaman cabai dari Bank Indonesia kepada perwakilan PKK di 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah.

Semarang, 20/10 (BeritaJateng.net) – Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Jawa Tengah merealisasikan program pencanangan kampung cabai inovatif di 35 kabupaten/kota Jateng.

“Salah satu tujuan pencanangan kampung cabai inovatif ini sebagai upaya pemberdayaan perempuan,” kata Kepala BI Kanwil Jateng Iskandar Simorangkir di sela kegiatan pencanangan kampung cabai inovatif di Kelurahan Kembangarum, Semarang, Rabu.

Dikatakan, dalam hal ini BI bertindak sebagai Tim Pengendalian Inflasi Daerah bekerja sama dengan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Jateng.

“Tujuan utama program ini adalah dalam rangka mendukung upaya pengendalian inflasi melalui peningkatan ketersediaan pasokan dan mengurangi ‘demand’ terhadap cabai segar di pasar,” katanya.

Sebagai salah satu rangkaian program, pihaknya juga menyelenggarakan acara kreasi sambal inovatif. Tujuannya adalah untuk mencari potensi wirausaha skala rumah tangga.

Perlombaan diikuti oleh perwakilan PKK dari 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah. Enam kreasi sambal terbaik dari enam kabupaten/kota akan diberikan pendampingan kewirausahaan sebagai upaya untuk menumbuhkan rumah tangga produktif.

Bantuan bibit tanaman cabai kepada 35 PKK kab/kota se Jawa Tengah
Bantuan bibit tanaman cabai kepada 35 PKK kab/kota se Jawa Tengah

Pendampingan yang diberikan di antaranya berupa pelatihan pengemasan produk, akses pasar ke toko ritel, toko oleh-oleh, dan pemasaran “online”. Selain itu, sambal terbaik juga akan diikutsertakan dalam pameran-pameran UKM terkait yang diikuti oleh BI maupun perbankan.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah Atiqoh Ganjar Pranowo menyambut baik program tersebut.

“Perlu ada intervensi khusus dari sisi suplai, artinya ketersediaan di wilayah rumah tangga maupun komunitas harapannya tercukupi,” katanya.

Selanjutnya dari sisi “demand” atau permintaan,  ketika tanaman subur dan banyak menghasilkan, permintaan dari tingkat konsumsi rumah tangga juga bisa diminimalkan.

“Kemudian ditambah lagi ‘added value’ pascapanen. Cabai ini kan tanaman holtikultura sehingga nilai bilogisnya sangat terbatas, paling cuma 5-6 hari sudah terjadi penurunan mutu, jadi harus ada pengolahan pascapanen,” katanya.

Dengan dilakukannya pengolahan pascapanen, diharapkan berapapun pemasukan yang diperoleh dapat tetap memberikan nilai tambah bagi keluarga. (Bj05)