Home News Update Berlian Gabriel Mongkoginta, Siswa Mandiri yang Jago Kimia

Berlian Gabriel Mongkoginta, Siswa Mandiri yang Jago Kimia

Semarang, 10/12 (BeritaJateng.net) – Siswa Kelas XI SMA Karangturi yang bernama lengkap Berlian Gabriel Mongkoginta atau yang biasa disapa Gabriel memiliki prestasi akademik di bidang sains. Ia berhasil meraih prestasi di bidang kimia, dan mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) hingga mendapat medali perak.

Gabriel juga pernah mengikuti lomba Kimia DCC Undip yang mebuatnya memperoleh juara pertama pada tingkat provinsi di Jawa Tengah. Putra pertama dari pasangan Wijaya Mongkoginta (47) dan Yani Haerani (48) ini juga mengikuti Olimpiade Kimia Nasional yang diadakan di UGM dan berhasil meraih juara 1 tingkat Nasional.

Bahkan baru-baru ini Gabriel juga meraih Juara 1 tingkat Nasional pada Olimpiade Kimia Indonesia (OKI) yang diadakan di UIN Malang.

Selain prestasi akademik, siswa kelahiran Purwokerto, 11 Agustus 1999 ini ternyata juga memiliki hobi bernyanyi dan mendapat juara bernyanyi tunggal bersama grup paduan suara di sekolahnya.

“Saat memasuki bangku kelas 1 SMA, saya ikut lomba paduan suara tingkat Internasioal di Hongkong bersama grup paduan suara Karangturi dan mendapat Medali Emas. Kami melakukan persiapan dan latihan selama 6 bulan,” terang siswa yang juga memiliki prestasi non akademik ini.

Gabriel memiliki prinsip hidup untuk tidak mudah puas dan tidak sombong. Karena menurutnya setinggi-tingginya langit masih ada langit, kuncinya selalu membangun hubungan yang harmonis pada pihak sekolah dan guru.

“Saya bisa memperoleh juara pada tiap perlombaan bukan hanya karena usaha diri sendiri tetapi juga atas dorongan orang tua, guru dan sekolah yang saling bekerjasama,” ujar siswa yang gemar olahraga futsal ini saat diwawancarai di sekolahnya, Kamis (10/12).

IMG_20151210_111953

Sebagai pelajar, Ia tentu memiliki tugas sekolah dan kewajiban dalam membagi waktu. Terlebih sebagai anak kost, yang sejak SMP sudah terbiasa kost.

“Saya asli Gombong, waktu SMP kost di Purwokerto jarak rumah ke sekolah memerlukan waktu 2 jam. Belatih lepas dari orang tua sudah sejak SMP. Jadi saat SMA sudah terbiasa mengatur waktu, uang dan lainnya sendiri,” ungkap anak dari Ayah yang bekerja sebagai Wirausaha dan Ibunya sebagai Ibu Rumah Tangga ini.

Gabriel yang bercita-cita ingin menjadi orang yang berguna bagi banyak orang selalu menyisihkan waktu 2 jam dalam sehari untuk belajar kimia. Bahkan bila memasuki akhir pekan bisa sampai setengah hari untuk belajar. Pengalamannya mengikuti Olimpiade tidak bisa dipersiapkan hanya dalam waktu seminggu.

Menurutnya, skill harus diasah dan dipertajam setiap saat. Persiapan setiap hari dan meluangkan waktu berlatih mengerjakan soal-soal olimpiade kimia lebih baik.

“Untungnya saya sekolah di Karangturi dan memiliki guru yang handal. Apabila mengalami kesulitan pasti berkonsultasi dengan guru pembimbing,” tutur pelajar yang saat ini tengah berusaha mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri seperti Singapore, Korea dan Jepang tersebut.

“Pertama kali masuk sekolah, saya dibimbing pak Sena yang kini menjadi kepala sekolah dan dulunya sebagai guru kimia. Saya dibimbing oleh semua guru kimia di Karangturi, hanya saja untuk kelas XI, pembimbing saya guru kimia kelas XI yaitu Ibu Sri Indriyani,” ujar Gabriel.

Awal masuk di Karangturi, Gabriel mendapat bimbingan intensif, karena sejak SMP sudah memiliki prestasi serupa berupa Olimpiade. Menurut Gabriel, pembinaan dari sekolah sangat baik dan eksklusif. Ia menambahkan, jika di sekolah banyak menghafal teori dan mengerjakan soal, maka pada Olimpiade kimia lebih ditekankan pada logika.

“Keistimewaan lomba kimia, selain teori juga ada praktiknya. Selain itu ada tes praktikum dan pemberian modul untuk percobaan. Beruntungnya di Karangturi memiliki laboratorium dan fasilitas yang lengkap jadi bisa mempersiapkan diri dengan baik sebelum olimpiade,” imbuhnya.

Gabriel tidak mengikuti bimbel maupun klub belajar, menurutnya melakukan segala sesuatu tergantung dari kemauan diri sendiri. Orang lain memang membantu, tetapi kembali lagi pada diri sendiri, asal ada kemauan belajar sendiri lebih efisien.

IMG_20151210_093530

“Orang tua saya sebulan sekali selalu menjenguk. Mereka tidak harus datang, yang terpenting bagi saya menanyakan kabar dan mendoakan sudah cukup. Hal itu sebagai dorongan moral bagi saya. Cara membalas budi baik dan pengorbanan mereka salah satunya ya dengan prestasi yang saya persembahkan untuk mereka,” ungkapnya.

Pelajar yang memiliki motto “tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk memiliki hidup yang mempunyai tujuan” ini juga menjelaskan bahwa apapun tujuan hidup yang terpenting bisa bertanggungjawab dan harus memiliki upaya untuk meraihnya.

“Sebagai pemuda harus memiliki pegangan hidup dimanapun lingkungan kita agar tidak mudah terjerumus,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Karangturi, Drs. Susena., M.Pd menilai Gabriel sebagai siswa yang mandiri, semangat juangnya sangat bagus, serta bisa menyampaikan segala sesuatu secara sistematis. Menurutnya, Karangturi selain memiliki program menjadi sekolah yang berkarakter, unggul, peduli dan berbudaya lungkungan, juga membekali siswanya agar bisa mengkomunikasikan apa yang ada dalam benak siswa dengan baik.

“Berkarakter maksudnya bisa dengan menjadi kebanggaan bagi siswa, sekolah, orang tua dan Kota Semarang,” ujar Susena saat ditemui di ruang kepala sekolah, Kamis (10/12).

Susena menjelaskan lomba merupakan salah satu cara mengukur kemampuan siswa. Hasil-hasil yang diperoleh bisa sangat bernilai.

“Sekolah kami menggunakan pembelajaran yang hasilnya terkostruksi dengan baik,” terangnya.

Lomba merupakan miniatur kehidupan, lanjut Susena, dengan begitu siswa bisa belajar mengatur waktu, bekerja keras dan berkolaborasi. Kimia bisa dikolaborasikan dengan matematika, sedangkan kolaborasi secara sosial dengan membentuk tim belajar.

“Gabriel bersama orang tua dan pembimbing, karakter harus mewarnai tiap kegiatan siswa, sedangkan sekolah yang memfasilitasinya,” terang Susena.

Susena menambahkan, sekolah juga mengapresiasi Gabriel dengan mengadakan upacara penyambutan siswa berprestasi. Ada point reward baginya karena telah membawa nama baik sekolah. Ada juga program tutor sebaya yang gunanya berbagi ilmu dengan adik kelasnya. (BJT01)