Home Ekbis Berkat Digitalisasi, Meski Difabel Kini Dodo Miliki Banyak Warung

Berkat Digitalisasi, Meski Difabel Kini Dodo Miliki Banyak Warung

350

***Kisah Inspiratif Cahyo Widodo

Semarang, 24/7 (BeritaJateng.net) – Kisah inspiratif datang dari Cahyo Widodo (42 tahun) warga kota Semarang yang memiliki keterbatasan fisik (disabilitas). Berkat perjuangannya, kini ia berhasil membuka beberapa warung yang menjadi sumber penghasilan sehari-hari.

Meski memiliki keterbatasan fisik, tak membuat Cahyo Widodo menyerah menghadapi kesulitan ekonomi yang membelit.

Terlebih, di situasi pandemi Virus Corona Disease (COVID-19) seperti saat ini membuat pelaku usaha, khususnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) harus berjuang lebih tak hanya secara konvensional tetapi harus bertransformasi ke digital atau secara online.

Pak Dodo, sapaan akrabnya, telah mengalami jatuh bangun membangun usaha warung sejak tahun 2001 silam. Sayangnya, semua usaha warung tersebut gagal karena tidak berkembang.

Tak patah arang, pak Dodo kemudian mencoba bersinergi dengan platform digital GrabKios dan memanfaatkan teknologi serta strategi pemasaran lewat digital dengan GrabKios.

“Saya mengubah konsep warung dengan menambahkan tempat nongkrong agar pembeli bisa minum kopi dan bersantai sejenak di tempat saya. Sambil melayani pembeli, saya rajin menawarkan isi pulsa atau membayar tagihan melalui aplikasi,” kata Pak Dodo.

Awal menjadi Agen GrabKios, kata Dodo, ia sempat mengalami kebingungan apabila ada orang yang ingin bertransaksi secara digital. “Saya #TerusUsaha belajar menggunakan ponsel. Setelah bisa dan terbiasa menggunakan aplikasi, saya rutin membuat status di WhatsApp untuk memberitahu bahwa di warung saya sudah bisa melakukan isi ulang pulsa, membeli token listrik, serta membayar berbagai tagihan,” jelasnya.

Ia mengaku telah merasakan manfaat dengan adanya teknologi digital dalam mengembangkan usaha, karena sejak bergabung dengan GrabKios. Menurutnya, jumlah transaksi di warung kian bertambah banyak hingga penghasilan meningkat hingga 70% per bulan.

“Ini juga merupakan pertama kalinya, saya membuka rekening bank untuk menyimpan uang. Sekarang, selain bisa menyekolahkan anak dan merenovasi warung, saya punya modal untuk membuka usaha lainnya,” ungkapnya.

Seperti yang diketahui, Grab telah meluncurkan program terus usaha di Kota Semarang. Program ini akan membantu transformasi usaha kecil dari offline menjadi online. Tidak hanya itu, program ini menjadi solusi  dalam percepatan transformasi digital ratusan ribu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Semarang.

Head of West Indonesia Grab Indonesia, Richard Aditya menjelaskan komitmen Grab dalam mendorong bisnis kecil dan tradisional untuk merangkul teknologi agar tidak tertinggal dalam era digital.

“Semarang sebagai Ibukota Jawa tengah merupakan pusat berputarnya roda perekonomian untuk itu Grab hadir mendukung berbagai aspek terciptanya perekonomian digital lebih cepat. Setelah transportasi dan jasa antar yang cepat dan mudah, Grab juga membantu mendigitalisasi para pekerja informal dengan menghadirkan 6 inisiatif yang ada beberapa kota di Jawa Tengah. Solusi digital ini diharapkan dapat membantu banyak pihak untuk segera menghilangkan kata susah dalam kamus hidup mereka dan menciptakan semangat #TerusUsaha untuk terus bergerak maju,” jelas Richard.

Data yang dihimpun Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics bulan Januari 2020 di kota Semarang. Grab telah memberi dampak bagi ketahanan ekonomi di Semarang.

Riyadi Suparno, M.Sc, Direktur Eksekutif, Tenggara Strategics, mengungkapkan bahwa para gig workers yang ada di platform Grab sudah memberikan banyak dampak dalam perekonomian yang sangat signifikan.

Peningkatan Pendapatan & Pemasukan dialami mitra merchant GrabFood dan agen GrabKios Semarang, peningkatan pendapatan mencapai 57% menjadi Rp39,5 juta per bulan, sedangkan rata-rata pendapatan agen GrabKios Semarang meningkat 12% menjadi Rp13 juta per bulan sejak bergabung.

Seiring dengan tumbuhnya bisnis mitra merchant GrabFood dan agen GrabKios, mereka juga menyerap tenaga kerja dari komunitas mereka. 35% mitra merchant GrabFood dan 8% agen GrabKios di Semarang menambah hingga 4 pegawai baru sejak bergabung dengan Grab. (El)