Bekraf: Sertifikasi Profesi Pembatik Banyak Peminat

Bekraf dan Unnes jalin kerjasama penyelenggaraan sertifikasi profesi.
       Semarang, 2/9 (BeritaJateng.net) – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI menyebutkan sertifikasi profesi pengrajin batik paling diminati dari lima subsektor ekonomi kreatif yang sertifikasinya difasilitasi lembaga tersebut.
     “Sebenarnya ada 16 subsektor ekonomi kreatif, tetapi baru lima yang kami fasilitasi sertifikasi profesinya,” Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Regulasi Bekraf RI Ari Juliano Gema di Semarang.
     Hal tersebut diungkapkannya di sela Diskusi Kelompok Terpumpun Pengembangan Sistem Informasi Standarisasi Kompetensi Profesi Bidang Ekonomi Kreatif yang berlangsung di Hotel Grand Edge Semarang.
     Dalam kegiatan itu, ditandai pula kerja sama antara Bekraf dan Universitas Negeri Semarang (Unnes) untuk menggarap sistem informasi sertifikasi profesi di 16 subsektor ekonomi kreatif.
     Ari menyebutkan kelima subsektor ekonomi kreatif tersebut, yakni pembatik atau pengrajin batik, fotografi, barista atau peracik kopi, animasi, dan digital artis yang berkaitan dengan desain melalui sistem di komputer.
     “Dari lima subsektor itu, paling banyak peminatnya adalah pembatik. Mungkin ada 30 persennya sendiri. Kenapa? Ya, karena ada standarisasi dalam proses pembuatan batik, seperti cara mengeringkan, menjemur,” katanya.
     Diakuinya, ada pembatik yang mempelajari teknik pembuatan batik secara turun temurun maupun autodidak, tetapi banyak juga yang tertarik mempelajari karena ada standar tertentu dalam proses pembuatannya.
     Subsektor ekonomi kreatif yang diminati nomor dua, kata dia, yakni barista atau peracik kopi yang jumlahnya mencapai 20 persen dari total peserta sertifikasi profesi yang pernah difasilitasi Bekraf.
     “Membuat kopi barangkali semua orang bisa. Akan tetapi, membuat kopi dengan kualitas dan citarasa tertentu ada standarnya. Bagaimana campurannya, berapa suhu airnya, itu semua diajarkan,” katanya.
     Dalam memfasilitasi sertifikasi profesi, Bekraf selalu menggelar pelatihan terlebih dulu sebelum menguji atau sertifikasi sehingga tingkat kelulusannya sangat selektif dan kompetensinya benar-benar teruji.
     Selama ini, menurut dia, sertifikat profesi memang belum diwajibkan oleh para pemberi kerja atau perusahaan, tetapi sudah banyak yang lebih mempercayai mereka yang memiliki sertifikat profesi.
     “Sebagai contoh, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan pernah menggelar pameran batik. Mereka mencari pembatik-pembatik yang sudah memiliki sertifikat profesi dari Bekraf,” katanya.
     Sebab, Ari mengatakan sertifikasi profesi yang dikeluarkan Bekraf tidak hanya mendasarkan pada kompetensinya semata, melainkan pada keseluruhan aspek, termasuk “attitude” atau sikap dan perilaku.
     “Pertama, pengetahuan umum, kemudian pengetahuan teknis profesi, dan ketiga ‘attitude’. Misalnya, bagaimana keramahan menghadapi konsumen, dan sebagainya. Itu semua dinilai, bukan hanya kompetensi,” pungkasnya. (El)

Tulis Komentar Pertama